Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - Pegiat rebahan

Rebahanlah, sebelum rebahan dilarang.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Narsisisme ala Politisi +62, Kampanye di Balik Ucapan Selamat

3 Agustus 2021   18:52 Diperbarui: 13 Agustus 2021   20:48 1362 59 33 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Narsisisme ala Politisi +62, Kampanye di Balik Ucapan Selamat
Greysia Pollii/Apriyani Rahayu berhasil meraih medal emasi setelah mengalahkan Chen/Jia Yi Fan dua set langsung dengan skor 21-19 dan 21-15. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN via kompas.com)

Harga diri kaum alay mendadak runtuh saat level narsisismenya disaingi para politikus di Negeri +62, yang hobi numpang tenar. Memberi ucapan selamat, tetapi dengan tujuan untuk kampanye.

Berbagai cara ditempuh oleh politisi di Negeri +62 untuk merebut simpati dan dukungan masyarakat luas, mulai dari blusukan ke dalam selokan yang kotor, hingga memajang foto wajahnya yang cetar membahana di setiap sudut jalan.

Andaikan terjun ke dasar jurang dapat memberi garansi naiknya popularitas para politisi secara instan, saya yakin, mereka pasti akan dengan senang hati melakukannya berkali-kali!

Bukan blusukan namanya jika tidak ada kamera yang meliput setiap gerak gerik politikus di ruang publik. Noda kotoran pada kemeja mereka melahirkan sebuah kesan seolah-olah mereka mau bekerja keras demi kemaslahatan warganya.

Ruang-ruang di tepi jalan yang awalnya indah dan bersih, saat ini telah dipenuhi potret senyum palsu pada wajah politisi kontestan Pemilu. Bahkan, penampilan semak belukar terlihat lebih teduh serta menyejukkan ketimbang ekspresi wajah mereka yang penuh dengan sandiwara.

Pepohonan yang hijau nan asri sampai harus dipaku, dirusak, hingga ditebang untuk memberikan tempat khusus bagi pamflet kampanye yang akhirnya akan merusak kelestarian alam.

Poster ucapan selamat ala politikus Negeri +62. | Diolah dari arsip Twitter @adriansyahyasin
Poster ucapan selamat ala politikus Negeri +62. | Diolah dari arsip Twitter @adriansyahyasin

Bahkan, syahwat narsistik mereka tidak berkurang sedikitpun pada era pandemi. Politikus itu menyempitkan empati dan "sense of crisis" di tengah penderitaan rakyat. Reklame serta baliho berukuran besar masih saja ditebar di sudut-sudut jalanan di berbagai daerah.

Mereka terlampau lihai dalam mencari peluang untuk mengubah kesempitan menjadi kesempatan. Bahkan, bencana pun tidak lupa mereka gunakan untuk melakukan kampanye terselubung.

Aksi politikus yang kelewat barbar itu lazim kita temui pada saat menjelang musim Pemilu tiba. Mereka bersaing, sikut kanan, sikut kiri, untuk merebut predikat 'alay' dalam hal popularitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN