Mohon tunggu...
Muhamad Iqbalnur Fikri
Muhamad Iqbalnur Fikri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Daigakusei

Logika, Etika, Estetika

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Blue Lock: Sebuah Antitesis dari Tsubasaisme

1 Desember 2022   02:18 Diperbarui: 1 Desember 2022   02:24 3270
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Pinterest/Gaak.fr on Twitter

"Dalam dunia sepakbola, sangatlah mungkin menciptakan seorang penjaga gawang, bek dan gelandang kelas atas. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang striker, karena hanya dalam situasi paling intens dalam sepakbolalah seorang striker kelas atas lahir."

Itulah narasi awal dari series animanga berjudul "Blue Lock," dalam mengawali ceritanya. Series yang ditulis oleh Muneyuki Kaneshiro dan diilustrasikan oleh Yuusuke Nomura ini secara singkat bercerita tentang bagaimana federasi sepakbola Jepang membuat sebuah program untuk menghasilkan striker kelas atas yang nantinya akan membawa Jepang menjuarai Piala Dunia, program tersebut dinamakan Blue Lock Project.

Meskipun merupakan animanga bertema olahraga, kita tidak akan melihat romansa SMA, perjuangan menuju turnamen nasional atau pun semangat kerjasama tim seperti animanga shounen tema sport lain, malahan konsep "kerjasama tim" ini sangat bertentangan dengan bahasan utama Blue Lock yang lebih mengedapankan egoisme.

Pada dasarnya, Blue Lock berangkat dari kegagalan Jepang pada babak 16 besar di Piala Dunia 2018 lalu, kekalahan comeback dari generasi emas Belgia dengan skor 3:2. 

Meski memiliki sistem pembinaan dan kompetisi yang mumpuni serta rajin mengorbitkan pemainnya ke klub di liga eropa, nyatanya mereka masih saja berada di kelas dua, ditambah dengan federasi mereka yang seakan ogah-ogahan dalam melakukan pembenahan karena dirasa apa yang sedang terjadi saat ini masih menguntungkan bagi mereka. Atas dasar keresahan itulah konsep sepakbola egois dengan menjadikan posisi striker sebagai bahasan utama inilah tercipta.

Animanga tema sepakbola dengan bahasan utama striker bukanlah hal baru, setidaknya ada dua judul yang pernah mengusung tema serupa, yaitu Area no Kishi dan Hungrihead Wild Striker. 

Namun dua judul tersebut masih menggunakan elemen shounen sport umum yang memiliki ciri khas romansa SMA lengkap dengan turnamen antar sekolah yang memperbutkan tiket ke tingkat nasional. Bisa dikatakan, Blue Lock secara frontal mengeksploitasi isu kekurangan striker ini.

Lalu, mengapa isu kekurangan striker ini bisa muncul?

Jawabannya ada di serial legendaris Captain Tsubasa. Manga karangan Yoichi Takahashi ini sejak awal kemuculannya sudah menjadi semacam fenomena, selain karena konsepnya yang lain (saat itu manga bertema Baseball lebih populer ketimbang sepakbola), juga sekaligus menginspirasi anak-anak pada zamannya mulai memainkan olahraga kulit bundar itu.

Fenomena Tsubasa cukup berdampak pada persepakbolaan Jepang, meski secara tidak langsung. Hampir sebagian besar pemain legenda dari negeri matahari terbit itu mengatakan bahwa Captain Tsubasa adalah inspirasi awal mereka ketika memutuskan menjadi pemain sepakbola, ditunjang dengan sistem pembinaan pemain yang terstruktur membuat nama-nama seperti Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura sampai yang terbaru seperti Takefusa Kubo atau Takumi Minamino dapat eksis serta pernah dan sedang mencicipi liga eropa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun