Mohon tunggu...
Ngesti Setyo Moerni
Ngesti Setyo Moerni Mohon Tunggu... Administrasi - Ibu Rumah Tangga

Berusaha mengurangi yang berakibat rusaknya lingkungan, dimulai dari diriku sendiri dan keluarga.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Dilema Penyelamatan Orangutan vs Pengusaha Nakal Pengeruk Hasil Hutan

25 Agustus 2015   14:31 Diperbarui: 25 Agustus 2015   14:31 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

 

Menghadiri ajakan dari Kompasiana, atas undangan @America dalam rangka ikut paham tentang Orangutan yang sangat teraniaya di acara ‘world Orangutan Day” beberapa hari lalu, sungguh, merasa beruntung mendapat pencerahan begitu banyak dari para pakar dan pelaku peduli lingkungan tentang hutan serta isinya dengan segudang permasalahannya terutama yang sedang menjadi isue besar sekarang ini salah satunya tentang teraniayanya satwa yang dilindungi di Dunia. Bagaimana beratnya pelaku penyelamatan satwa langka terutama orangutan melawan keserakahan pengusaha nakal yang mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli atas kerusakan alam yang ditimbulkannya.

Meski Primata yang sangat disayang termasuk diestimawakan ini digembar-gemborkan untuk dilindungi dilestarikan keberadaannya, namun tetap saja masih banyak manusia yang masih tega membunuh bahkan dengan cara membantai hanya untuk kepentingan pribadi maupun perusahaannya.

Masih banyak yang tega memperdagangkan bayi-bayi orangutan, entah mereka sadar ataupun tidak bahwa hal tesebut adalah termasuk melanggar hukum dengan aturan Undang-undang no, 7 Tahun 1999 tentang “Pengawetan Jenis Tanaman dan Satwa” dan Undang-undang no.5 Tahun 1990 tentang “ Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya” dengan sanksi hukuman 5 tahun penjara serta denda sebesar 100 juta.

Para pemburu menjadikan satwa-satwa langka tersebut obyek perburuan dan obyek mencari harta karun dihutan karena tergiur harganya yang sangat menggapai langit.

Bagaimana Satwa-satwa ini tidak menjadi panik dan keluar dari lingkungannya dan habitatnya? Disebabkan tempat satwa-satwa langka ini sudah semakin menyempit diobrak-abrik dibakar maupun kebakaran oleh cuaca ekstreem, kemana lagi mereka mencari makanan dan tempat berlindung? Tentu saja mereka keluar dari area tempat tinggal dengan naluri yang mereka miliki mereka harus bertahan hidup dengan menjarah tanaman diperkebunan sawit misalnya perkampungan dipinggir hutan. Berawal dari satu Orangutan yang diusir, menyebabkan mereka panik dan berteriak-teriak menarik perhatian kelompoknya dan kelompok lain untuk mendekat pada suara teriakan, jeritan Orangutan yang sedang disiksa, keingin tahuan gerombolan melihat apa yang terjadi dimana suara jeritan berasal dan terjadilah masalah di hutan karena orangutan ini akan menyerbu kembali tempat lokasi-lokasi kejadian.

 

Banyak Cerdik pandai para Ilmuwan serta volunteer pecinta lingkungan diseluruh dunia yang terpanggil masuk hutan di Gunung-gunung guna menahan laju kerusakan Bumi yang semakin tak terbendung dengan menunjukkan kejadian-kejadian yang sudah terasa dan terjadi seperti pemanasan global , cuaca ekstrem serta hal lainnya yang sudah dirasakan di Bumi ini.

Tidak dapat disalahkan pengusaha-pengusaha yang mengeksplore isi hutan ini sudah menyumbang dana besar kepada Negara dan orang-orang serta masyarakat yang hidup disekitar hutan untuk mendapatkan pekerjaan guna kelangsungan hidup mereka tetapi sebaiknya dilakukan secara sadar lingkungan, meminimaliskan terjadinya kerusakan hutan. Pokok terpenting ekosystem dan keanekaragaman hayati tetap terjaga bagaimanapun caranya. Dimanapun berada pengusaha-pengusaha tersebut memiliki rumus mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi harus diingat mereka-pengusaha-pengusaha tersebut hidupnya masih di Planet Bumi yang harus tetap terjaga kelestariannya.

Negeri ini bersyukur diberi titipan Oleh Sang Pencipta suatu mahluk Orangutan langka berada di Sumatra dan Kalimantan. Bukannya disyukuri titipan ini tetapi dengan mudahnya mereka dienyahkan dari muka bumi ini tanpa berfikir bahwa Orangutan jenis (Pongo pygmaeus) adanya di Hutan Kalimantan, sedang jenis (Pongo abelii) berada di Hutan Sumatra bakal musnah jika diperlakukan secara terus menerus secara demikian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun