Mohon tunggu...
GlynxxChlora
GlynxxChlora Mohon Tunggu...

Talk less during eating ------- Kompasiana yang sebelumnya : https://www.kompasiana.com/achsaniadevifatika2338

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Peran Orangtua dan Guru BK dalam Menyikapi Murid yang Berpacaran

11 Mei 2019   10:04 Diperbarui: 11 Mei 2019   10:23 0 3 0 Mohon Tunggu...
Peran Orangtua dan Guru BK dalam Menyikapi Murid yang Berpacaran
wallpaper.mascuk.com

Satu dari teman kamar saya saat asrama tahun pertama kuliah nyeletuk menceritakan  pengalamannya saat SMA. Hari kedua Ramadan mengingatkan dia pada momen Ramadan di SMAnya dulu saat kelas 12. 

Hari itu saat jam pelajaran olahraga, saat itu jam pelajaran olahraga ada di jam kedua setelah mata  pelajaran fisika . Jadi untuk mengikuti mapel olahraga siswa akan mengganti seragamnya terlebih dahulu.

Di kelas teman saya ini ada lovey dovey couple yang level pacarannya diatas rata-rata anak SMA. Terkadang di jam kosong mereka tiduran berdua di lantai lab yang ada karpetnya, ke mana-mana pegangan tangan, bahkan berani cium pipi dan kening di kelas. Karena rasa risih teman-teman sekitar akhirnya mereka dilaporkan ke wali kelas.

Wali kelas mengutus beberapa siswa yang bisa dipercaya untuk memberikan bukti-bukti ketika lovey dovey couple melakukan tindakan yang tidak sopan. Kemudian saat jam pelajaran olahraga si cowok masuk ke kamar mandi kemudian tak berapa lama ceweknya menyusul di kamar mandi yang sama. 

Awalnya siswa tidak ada yang curiga, kemudian karena merasa ada yang janggal tidak ada yang bertemu couple tersebut akhirnya antar siswa saling berspekulasi dan mengumpulkan berita dengan cepat hingga mendapat kesimpulan bahwa lovey dovey couple sedang di dalam kamar mandi yang sama.

Mata-mata yang dipercayai wali kelas melapor ke wali kelasnya kemudian siswa mencoba menggedor pintu dan tidak kunjung ada jawaban perasaan curiga semakin menguat. Wali kelas kemudian menggedor pintu dan mengatakan bahwa kamar mandinya antri, karena ada kejanggalan ramai-ramai di depan pintu kamar mandi mengundang siswa ikut berkerumun. Kemudian guru olahraga menyusul memastikan apa yang terjadi, dan kemudian guru BK. 

Karena tak kunjung dibuka pintu kamar mandi tersebut, guru mengancam akan mendobrak. Akhirnya pintu dibuka, si perempuan dengan jilbab disingkapkan di pundak. Kedua sejoli ini di bawa ke kantor BK dan dipanggilkan orangtuanya. Menurut cerita teman saya, mereka berdua mendapat skorsing dari sekolah.

Pacaran di usia remaja terutama zaman sekarang sudah menjadi pandangan  yang tidak tabu lagi. Mirisnya di zaman sekarang anak yang belum masuk usia remaja juga sudah ikut-ikutan pacaran. Memang perkembangan teknologi yang pesat sejalan dengan cepatnya persebaran informasi. Sosial media dan tayangan di televise menjadi konsumsi sehari-hari. 

Tayangan televise yang menampilkan adegan pacaran secara tidak langsung memberikan pengaruh dan doktrin yang mengajarkan bagi penontonnya untuk menirukan. Kemudian hal tersebut didukung oleh media sosial yang mewadahi contoh-contoh bagaimana orang-orang menghabiskan waktu bersama pacar dengan mengunggah hal-hal yang "romantis".

Usia remaja dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya, sedang ingin diakui, dan mengalami ketertarikan pada lawan jenis adalah saat yang rawan. Apalagi dengan maraknya artis-artis yang umum diikuti oleh para remaja memberikan contoh bahwa mereka juga menjalin hubungan pacaran akan menjadi katalis bagi para remaja yang dijadikan merekapanutan untuk pacaran juga.

Lantas bagaimana seharusnya orangtua saat anak mulai mengenal pacaran?

  1. Memberikan pengertian pada anak tentang resiko pergaulan bebas akan menjadi salah satu tindakan preventif untuk anak.
  2. Tidak terlalu mengekangnya, karena dengan terlalu banayak memberikan aturan justru akan membuat anak mencari celah akibat merasa semakin penasaran sehingga anak akan berbohong.
  3. Mengajarkan tanggungjawab denganmemberikan keperayaan pada anak. Dengan mengajarkan tanggungjawab, anak akan belajar menyelesaikan masalahnya.
  4. Biarkan anak bermain dan bergaul dengan banyak teman. Banyak kasus ketika anak kurang pergaulan terutama perepmuan, ketika dia baru mengenal lawan jenisdan merasa tertarik kemudian mereka pacaran, si perempuan akan merasa pacarnya adalah segalanya bagi dirinya dan merasa tidak ada laki-laki lain di dunia
  5. Mengerti dunia si anak agar dapat mengontrolnya dengan cara yang kekinian. Sebagai orangtua yang menghadapi anak yang dunianya serba digital sedangkan orangtuanya adalah digital immigrant membuat orangtua terkesan kuno dan bisa jadi 'diakali' oleh anak atau anak akan merasa orangtua terlalu kaku. Dengan memahami dunia anak maka anak akan terbuka pada orangtua dan orangtua dapat mengontrolnya dengan enjoy dan kekinian

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x