GlynxxChlora
GlynxxChlora

Talk less during eating ------- Kompasiana yang sebelumnya : https://www.kompasiana.com/achsaniadevifatika2338

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Bukan Hanya Kognitif, Prestasi Afektif Juga Perlu Diapresiasi

20 April 2019   11:19 Diperbarui: 20 April 2019   11:49 128 1 0
Bukan Hanya Kognitif, Prestasi Afektif Juga Perlu Diapresiasi
dok. pribadi

Sering mencontek saat ujian ? menyewa pak Ojol untuk menjadi orangtua palsu? atau memalsukan data rapot?

Sebagai seorang anak dan pelajar saya sering menjumpai kasus dimana seorang anak yang berusaha untuk menjadi juara pertama di sekolah dengan alasan agar kedua orangtua bangga. Saya sendiripun juga pernah menjadi seperti itu. Menjadi siswa yang berprestasi, mendapat peringkat pertama memanglah sebuah kebanggaan, akan tetapi apakah hanya itu yang membuat orangtua dan kita sendiri bangga terutama apakah kita bahagia?

Kadang kompetisi di sekolah bukan hanya menjadi pemacu untuk menjadi lebih baik, tapi di sisi lain ini juga menjadi tekanan bagi siswa. Karena kompetisi dalam sekolah bukan hanya kompetisi dalam satu bidang, akan tetapi seluruh bidang dan siswa dituntut untuk dapat menguasai semuanya. Padahal setiap siswa memiliki ketertarikannya pada bidang tertentu yang berbeda-beda.

Baik guru maupun orangtua pasti dulunya pernah menjadi seorang anak dan siswa bukan? Siswa berkompetisi untuk sesuatu yang diapresiasi dan dihargai. Bukan hanya siswa, kebanyakan dari kita memanglah mengejar sebuah kebanggaan bukan? Seharusnya sudah paham apa yang dirasakan oleh siswa maupun anak.

Tak jarang untuk mendapat juara satu, mendapat nilai yang baik saat ujian, siswa rela mencontek dengan berbagai cara. Bukan hanya mencontek, siswa kadang memalsukan hasil rapot, atau bahkan menyewa Pak ojek online untuk menjadi 'orangtua palsu mereka.' Karena sisi kejujuran seringkali hanya diagung-agungkan secara lisan saja.

Biasanya setiap akhir semester setelah ujian di sekolah akan ada pengumuman juara berdasarkan nilai ujian yang sudah dikerjakan, atau jika ada prestasi tentang lomba non-akademis yang sudah dimenangkan akan diumumkan juga. Bagaimana dengan prestasi misalnya siswa yang sudah membantu temannya belajar, telah jujur mengembalikan uang, siswa yang menjaga kerapian kelas dan sisi afektif lainnya?

Merujuk pada taksonomi Bloom, Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dalam Kurikulum 2013 ranah afektif memiliki penilaian namun dalam segi apresiasi, sisi kognitif tetap diutamakan.

Mengapresiasi sisi afektif siswa bukan hanya menjadi tanggungjawab seorang guru.orangtua memiliki peran lebih besar dalam perkembangan afektif anak. Coba lihatlah sekitar anda, tidak semua yang pintar memiliki sikap moral yang baik bukan? Ironis sekali jika orangtua hanya menekan anak untuk menjadi pintar dan mengabaikan nilai-nilai afektif mereka.

Guru memang seringkali fokus pada sisi kognitif karena seorang guru kebanyakan mengutamakan 'mengajar pelajaran' sedangkan orangtua kebanyakan memasrahkan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Jadi siapa yang dibutuhkan menjadi penengah? Adalah guru Bimbingan Konseling.

Guru BK perlu mengevaluasi dari ketiga sisi, siswa, orangtua, dan sekolah. Salah satu tujuannya adalah untuk perbaikan program lembaga atau organisasi. Selain itu evaluasi juga untuk melihat apakah program dari BK sudah berhasil ataukah masih belum.

Contoh dari hasil program BK adalah Berkurangnya putus sekolah , meningkatnya standar pengetahuan, siswa yang gagal menurun , siswa dapat menyesuaikan diri di sekolah, penurunan tindak kasus ketidaksiplinan.

Guru BK juga perlu membukakan mata bagi orangtua dan guru untuk menghargai prestasi afektif siswa. Terkadang sesuatu yang berjalan normal dianggap sudah biasa dan tidak diberikan apresiasi. Misalnya ketika siswa terbiasa tidak terlambat sekolah hal itu dianggap wajar tanpa adanya apresiasi namun ketika terlambat diberi hukuman. Bukankah tidak seimbang? Bukankah seharusnya ketika berbuat salah diberikah hukuman maka saat melakukan kebenaran juga harus diberikan reward bukan?

Mengabaikan kebaikan sikap seorang anak atau siswa bisa menjadikan mereka jenuh berbuat baik. Kembali pada kasus ujian, bisa jadi siswa yang terbiasa jujur mencapai kejenuhan karena yang mendapat nilai baik dari hasil mencontek lebih diberikan penghargaan daripada mereka yang mengerjakan dengan hasil yang murni.

Hidup memang penuh kompetisi, hewan juga berkompetisi dengan hukum rimbanya. Lantas apa yang membedakan kita dengan hewan ? Saling menghargai