Mohon tunggu...
GlynxxChlora
GlynxxChlora Mohon Tunggu...

Talk less during eating ------- Kompasiana yang sebelumnya : https://www.kompasiana.com/achsaniadevifatika2338

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Bagaimana jika Guru yang Menjatuhkan Mental Siswanya?

14 April 2019   14:41 Diperbarui: 14 April 2019   14:49 0 2 0 Mohon Tunggu...
Bagaimana jika Guru yang Menjatuhkan Mental Siswanya?
Sumber: thesportdigest.com 

Suatu hari sekitar kelas 3 SD saya menemui guru pengganti di sebuah mata pelajaran tertentu, saat itu guru laki-laki yang masih muda dan sangat cerdas mengisi kelas saya dan memberikan tugas mengerjakan beberapa soal. Saat itu saya sedang gugup karena beliau memiliki postur tubuh yang tegas berkeliling mengecek jalannya kelas beliau ini memang pendisiplin siswa di sekolah.

Kemudian beliau berada di samping saya, entah mengapa saat itu saya merasa sangat tertekan saat beliau mengawasi saya mengerjakan tugas dan mengecek pekerjaan saya dan beliau nyeletuk "mana yang katanya guru-guru jago matematika?" sambil mengibaskan pelan kertas soal saya di depan wajah saya karena soal yang saya kerjakan belum sepenuhnya selesai dan banyak yang salah.

Saat itu saya sangat kebingungan, apakah yang dimaksud jago matematika itu saya? Tapi memang yang diajak beliau berbicara adalah saya. Tapi saya benar-benar lemah dalam matematika karena bukan tipe yang teliti. Bisa jadi karena saya termasuk siswa selalu ranking atas sejak awal masuk sekolah jadi saya dicap jago dalam segala pelajaran. Padahal sebenarnya saya hanya rajin belajar dibanding teman saya, ranking itu bukan saya dapat karena saya lebih pintar dibanding teman yang lain.

Di lain hari guru tersebut mengisi kelas saya yang kosong dan kembali memberikan beberapa soal. Saya kesulitan dalam sebuah soal dan bertanya pada beliau, beliau menghampiri ke bangku saya dan menjelaskan. Karena pada dasarnya saya takut pada beliau saya sedikit buyar konsentrasi, saat dijelaskan lumayan sulit mengerti dan saat itu beliau mungkin sudah dipuncak kesabaran karena saya tidak kunjung  paham dan memukul kecil kepala saya dengan penggaris kecil.

Memang kalau difikirkan dengan logika orang dewasa itu adalah hal yang biasa saja. Tapi tidak dengan saya yang masih SD  menangkap kejadian tersebut dengan "sepertinya saya terlalu bodoh dan Bapak Guru tidak menyukai saya". Puncaknya saat kelas 5 SD saya dipaksa les privat pada guru tersebut oleh Ibu saya. Pikiran orangtua saya , saya akan mendapat yang terbaik dari guru yang sudah pro. Pada masa itu memang les privat pada guru adalah hal yang umum diantara teman-teman saya. Saat itu saya mencoba menolak dengan alasan tidak ada teman yang sekelas bukannya  jujur menjelaskan kalau saya sebenarnya takut dengan Bapak Guru tersebut.

Akhirnya saya tetap les disana, hanya 3 siswa yang dipegang oleh beliau. Anak Kepala Sekolah, anak Wali Kelas VI yang saat itu kelas 6 dan saya sendiri  kelas 5. Saya merasa lebih baik ketika kita bisa hadir bersama karena rasa takut saya sedikit hilang. Tapi ketika kelas khusus hanya saya dan Bapak Guru itulah yang menakutkan, dan sejak saya dipukul kecil di kepala itu saya merasa takut salah. Hal itu muncul karena tiap saya melakukan kesalahan beliau memiliki nada marah. Saya merasa mendapat tekanan besar jika berhadapan dengan beliau. Ternyata itu memberikan dampak besar pada diri saya dan saya tidak bernah jujur bercerita tentang masalah ini dengan orangtua saya.

Hal inipun terulang pada saat saya SMA, menemui guru Matematika yang menjatuhkan mental melalui tekanan besar. Guru Matematika SMA ini memegang ekskul sebut saja ekskul coconut. Saat SMA saya pernah  melakukan kesalahan di sekolah akan tetapi bukannya selesai dengan mengahadap BK tetapi permasalahan saya ini dimanfaatkan untuk bahan sidang di sebuah acara kenaikan tingkat (pelantikan) di ekskul coconut. Sidang ini dilakukan dengan cara satu anggota yang akan dilantik dihadapkan 3 senior di coconut. Beberapa anak incaran jenis tertentu akan dihadapkan 3 masternya coconut termasuk Guru Matematika. Biasanya jenis yang diincar ini adalah yang "ngatasi" jika dihadapkan senior. Apesnya saya masuk jenis anak incaran tersebut.   

Sumber: https://cl.linkedin.com 
Sumber: https://cl.linkedin.com 

Masalah saya diungkit di sidang tersebut dan setelah acara pelantikan tersebut selesai, Padahal anggota incaran yang lain di pelantikan tersebut menerima permintaan maaf dari 3 master coconut setelah acara pelantikan selesai dan memeberitahu itu hanya latihan mental , tapi tidak dengan saya. 2 master yang lain sudah biasa saja dan kembali bersikap seperti biasa pada saya, tapi tidak denganguru Matematika yang masih memandang saya sebagai pendosa.

Guru Matematika tersebut memang tidak secara langsung melakukan sesuatu yang spesifik untuk menjatuhkan mental, akan tetapi setiap berhadapan dengan beliau saya sangat tertekan dan memutuskan berhenti dari coconut dan ekskul lain yang ada beliau. Saya merasa terintimidasi dengan judge beliau pada saya.

Padahal saya sudah berusaha menjadi lebih baik dan belajar dari kesalahan tersebut. Saya awalnya berfikir saya yang terlalu berlebihan, ternyata siswa yang lain juga pernah mengalami hal yang sama dan merasakan hal yang sama jika anda orang jawa mungkin paham istilah disatru,gak dibolo, dimusuh oleh beliau.

Tekanan tersebut sangat berat untuk saya hingga saya berniat pindah sekolah karena pada dasarnya saya saat sekolah memliki kebiaaan overthinking. Inti dari cerita saya bukanlah tentang menjelekkan guru atau bagaimana, akan tetapi seorang gurupun juga manusia yang memiliki kekurangan apalagi siswa. Mendapat pengalaman tidak baik dari seseorang bisa jadi menimbulkan perasaan traumatik. Jika pengalaman traumatik ini dengan guru yang ditemui setiap hari akan menambah tekanan lebih besar.

"Setiap orang akan mengalami trauma jika mendapatkan masalah yang berat buatnya sehingga untuk meringankan traumanya bisa dilakukan penyembuhan melalui psikoterapi, konseling, dan psikiatris," tutur Nandang Rusmana, dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dalam kuliah umum konseling traumatik kepada mahasiswa di Kampus FIP UNM, Jalan Tamalate, Makassar, Selasa (16/10/2018)[1]

Salah satu solusi yang seharusnya didapat pada saat itu adalah konseling dengan guru BK. Dalam BK ada sebuah konseling pada masalah khusus , termasuk konseling traumatis.

Trauma adalah suatu kondisi emosional yang berkembang setelah suatu peristiwa trauma yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan dan menjengkelkan. Trauma psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang menekan yang menyebabkan rasa tidak berdaya dan dirasakan mengancam.

Reaksi umum terhadap kejadian dan pengalaman yg traumatis adalah berusaha menghalaukannya dari kesadaran,namun bayangan kejadian itu tidak bisa dikubur dalam memori. Konseling traumatik yaitu konseling yang diselenggarakan dalam rangka membantu konseli yang mengalami peristiwa traumatik, agar konseli dapat keluar dari peristiwa traumatik yang pernah dialaminya dan dapat mengambil hikmah dari peristiwa trauma tersebut.[2]

Jadi masalah dalam dunia sekolah itu terkadang sumbernya memang tidak terduga. Bisa jadi yang kita percayai baik belum tentu sepenuhnya adalah yang terbaik. So, readers jika nanti jadi Orangtua dan Guru lebih pahami posisi anak atau siswa ya ^^

[1] Rakyatku Edukasi, "FIP UNM Gelar Kuliah Umum Konseling Traumatik kepada Mahasiswa," Rakyatku Edukasi, October 17, 2018, http://edukasi.rakyatku.com/read/123722/2018/10/17/fip-unm-gelar-kuliah-umum-konseling-traumatik-kepada-mahasiswa.

[2] "Pengertian Konseling Trauma - Pusat Konseling Trauma | Universitas Muhammadiyah Malang," http://pkt.umm.ac.id/, accessed April 14, 2019, http://pkt.umm.ac.id/.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2