Mohon tunggu...
Kimi Raikko
Kimi Raikko Mohon Tunggu...

Just Another Days In Paradise \r\n\r\n \r\n\r\n\r\n \r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Ketika Ayah Mengambilkan Rapor

23 Desember 2011   08:06 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:51 633 3 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_150807" align="aligncenter" width="500" caption="http://media.tumblr.com"][/caption] Akhirnya tugas turunan itu menimpa saya juga. Jika dulu ayah sering mengambilkan rapor ketika saya SD, kini saya mengambilkan rapor untuk putri saya tersayang. Sebuah dejavu? mungkin tidak terlalu tepat, tapi itulah yang saya lakukan pagi ini. Dengan meminta izin untuk datang terlambat ke kantor, saya pergi ke sekolah untuk mengambilkan rapor putri saya. Saya ingat sekali, waktu SD dulu, kalau mengambil rapor akan ada ceramah dari kepala sekolah. Ini juga terjadi bahkan ditambah dengan kata sambutan dari yang punya yayasan tempat putri saya sekolah. Melihat wajah-wajah orang tua yang datang, betapa senangnya mereka melihat nantinya hasil belajar anak mereka selama enam bulan pertama. Sekolah tempat anak putri saya belajar, cukup terkenal dan banyak menjadi juara bahkan pada tingkat nasional. Saya yang tiap pagi mengantar anak ke sekolah dengan menumpang angkot kemudian jalan kaki ke sekolah, kadang merasa bangga walau bukan dari kasta elit saya masih bisa menyekolahkan anak saya di sana. Untungnya putri saya terlalu cerdas untuk merasa minder. Dan pengambilan rapor itu pun terjadi. Satu per satu orang tua dipanggil sesuai dengan kartu antrian yang dipegang. Ada yang sumringah, ada yang biasa saja ketika melihat prestasi anaknya. Saya ingat sekali waktu di SD dulu, ayah selalu berpura-pura saya memiliki ranking jelek dan tidak mau menunjukkan rapor hingga sampai di rumah. Akan tetapi ketika sampai di rumah ia akan menepuk-nepuk pundak saya dan berkata satu dua patah kata dengan bangga karena saya selalu juara kelas. Setelah itu, tak lama kemudian mengajak saya ke sawah, menyabit rumput untuk sapi, sampai menugaskan saya berjalan pagi-pagi buta untuk mengairi sawah yang ada di punggung bukit. Tentu hal yang sama tak terjadi dengan putri saya. Namun mata saya tetaplah berkaca-kaca ketika menerima rapor putri saya, sama seperti dulu ketika saya khawatir nilai rapor saya jelek karena tidak ada waktu untuk belajar sebab harus menyabit rumput dan membantu orang tua di sawah. Nilai rapor saya lihat satu per satu. Sungguh suatu keajaiban ketika saya terbata-bata menelpon istri mengabarkan prestasi putri saya. Saya tidak tahu, mungkin karena kemalangan saya sedari kecil menyebabkan saya terlalu cengeng dan menangis bahagia. Saya melihat angka-angka yang tertulis rapi yang menyatakan nilai akademis yang dicapai putri saya. Jujur ada rasa sedih dan ada tangis di hati ketika mengingat ayah saya yang selalu mengambilkan rapor untuk saya. Mungkin perasaan saat ayah saya mengambilkan rapor itu, juga menyelimuti saya pagi ini. Ada rasa bahagia ketika melihat anak begitu senang bersekolah dan berprestasi. Ada rasa duka ketika memikirkan bagaimana kelak mereka mereka besar dan sekolah dengan dana yang makin besar pula. Orang tua mungkin memang harus seperti ini. Bahkan ketika putri saya berprestasi pun saya menangis. Betapa hidup ini sebuah sejarah yang berulang, yang bisa kita perbaiki sedikit-sedikit dengan perbuatan-perbuatan baik. Semoga Ayah saya yang ada alam kubur sana bisa bangga, anaknya dan cucunya tetap ingat kepadanya, meskipun itu hanya saat mengambil rapor saja. Ayah beristirahatlah dengan tenang. Kerjamu ada yang meneruskan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x