Mohon tunggu...
Kiki DianLesmana
Kiki DianLesmana Mohon Tunggu... Student of Communication Science at Padjadjaran University

Write, Write, Write Everything - Politics, Culture Studies, Fiction, Media and Communication, Gender, Social, etc

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Fuzhou China Open Super 750, Ujian Konsistensi Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti

5 November 2019   11:28 Diperbarui: 6 November 2019   00:51 0 1 1 Mohon Tunggu...
Fuzhou China Open Super 750, Ujian Konsistensi Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti
gambar diambil dari (foxsports.co.id)

Keberhasilan pasangan ganda campuran Indonesia, Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti dalam meraih gelar juara secara beruntun di Denmark Open Super 750 dan French Open Super 750 telah membawa harapan baru bagi publik terhadap sektor ganda campuran Indonesia.

Selama ini, performa sektor ganda campuran sempat menurun dan masih terlihat kesulitan untuk mengukir prestasi selepas pensiunnya ratu bulutangkis Indonesia, Liliyana Natsir. Estafet regenerasi yang diserahkan kepada Praven/Melati dan Hafiz/Gloria untuk menjadi ujung tombak pada sektor ganda campuran, jutsru sempat membuat publik pesimis dengan serangakain torehan buruk yang dibukukan oleh kedua pasangan ini pada beberapa turnamen yang diikuti.

Inkonsistensi penampilan pun kerapkali ditunjukkan oleh kedua pasangan ini. Tak jarang, mereka malah kandas dibabak-babak awal dan bahkan kalahnya pun oleh pemain yang rankingnya jauh dibawah mereka.

Publik sempat menilai bahwa torehan hasil buruk yang kerapkali ditampilkan oleh mereka menandakan bahwa sektor ganda campuran Indonesia sedang berada dalam masa terpuruk. Apalagi sampai akhir September 2019 kemarin, Indonesia masih nihil gelar juara pada level Super 500-keatas di sektor ganda campuran.

China yang senantiasa menjadi monster utama pada sektor ganda campuran seolah tidak memiliki negara pesaing karena begitu kuatnya pasangan ganda campuran yang dimilikinya yakni Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan Wang Yilyu/Huang Dongping. Kedua pasangan ini silih bergantian menapaki podium juara dan sulit untuk ditaklukkan oleh pasangan dari negara lain.

Namun sekarang, rasanya China akan mulai terusik oleh peningkatan performa yang ditunjukkan pasangan utama ganda campuran Indonesia Praven/Melati. Bagaimana tidak, Praven/Melati yang biasanya tidak berdaya dalam melawan kedua pasangan ganda campuran China tersebut, kini sudah mampu menundukkannya sekaligus.

Praven/Melati juara beruntun diturnamen Eropa dengan mengalahkan pasangan China dua kali di final. Pertama, di Denmark Open mereka juara dengan mengalahkan Wang Yilyu/Huang Dongping melalui skor ketata tiga game 21-18, 18-21 dan 21-19. Selanjutnya, di French Open, mereka juara setelah mengandaskan Zheng Siwei/Huang Yaqiong dengan skor 22-24, 21-16 dan 21-12.

Ditengah euforia publik yang semakin berharap besar terhadap ganda campuran, Praven/Melati, kini ujian konsistensi sedang menanti mereka pada turnamen Fuzhou China Open Super 750 yang sedang berlangsung pekan ini dari tanggal 5-10 November 2019. Praven/Melati yang kini sedang menjadi idola baru, diharapkan dapat kembali menggondol gelar juara. Harapan publik ini rasanya tidak berlebihan, melihat performa permainan yang semakin matang yang telah diperlihatkan oleh Praven/Melati pada turnamen Eropa yang lalu. Praven/Melati hanya perlu membuktikan konsistensinya dalam menjaga tren positif dan ritme kemenangan yang telah diukirnya.

Pasangan Praven/Melati dijadawalkan akan menghadapi pasangan asal Jepang, Takuro Hoki/Wakana Nagahara di 32 besar. Bila sukses melangkah sampai semifinal dan final bukan tidak mungkin mereka akan bertemu lagi dengan pasangan utama China yang tentunya tidak ingin kembali menelan hasil pahit diturnamen yang lalu.

Oleh karena itu, Praven/Melati harus senantiasa menjaga konsistensi mereka dengan terus mengimprovisasi pola permainannya dan pintar mengatur strategi dalam menghadapi setiap lawan yang berbeda. Bukan tidak mungkin, pasangan ini akan kembali menorehkan gelar juara di Fuzhou China Open Super 750 bila penampilan mereka konsisten seperti saat di Denmark Open dan French Open yang lalu.