Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Wow... Ada Topi Harry Potter di Newmont

11 Maret 2016   01:03 Diperbarui: 11 Maret 2016   15:42 290 5 7

[caption caption="Topi Harry Potter di lingkar tambang Newmont (Foto: @angtekkhun)"][/caption]Woiii, kamu pernah sekolah di Hogwarts? *kemudianhening* Huss, gak usah saling pandang dan pasang dahi berkerut kayak gitu. Iya, aku gak salah ketik kok. Itu Sekolah Sihir Hogwarts. Kalau belum pernah, agak kesian sih kamu, Harry Potter aja pernah! Masih ingat kan, setiap murid yang bersekolah di sana diwajibkan tinggal di asrama. Yup, ada empat jenis asrama yang tersedia di Hogwarts: Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin.

Setiap asrama punya ciri khas sesuai dengan kepribadian dan karakter penghuninya. Untuk menentukan "siapa masuk mana", setiap murid baru diharuskan menjalani proses pemilihan dengan cara memakai Topi Seleksi. Topi inilah yang "memfatwa" seseorang menghuni asrama mana.

Kalau kamu belum lupa, di asrama Gryffindor misalnya, rombongan pelakon utama cerita/film Harry Potter bermukim di asrama ini. Selain Harry, ada Ron, Hermione, dan Ginny. Yang terakhir ini gak lain adalah calon pacar Harry yang bikin aku patah hati dan sakitnya tuh di sini :(

Aku gak pernah lagi mengingat kisah dan detail proses di cerita/film Harry Potter ini sampe menemukan *yeay!* topi Harry Potret. Di manakah? Di Newmont, sodara-sodara. Yayaya... di Nusa Tenggara sono.

[caption caption="Topi Harry Potter di salah satu tiang (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]

Mulanya sih di bus saat Pak Arie Burhan salah seorang pendamping peserta Bootcamp V bercerita tentang berbagai binatang yang dibiarkan bebas berkeliaran di ranah Newmont. Monyet misalnya (iya, monyet, bukan kamu kok, gak usah melotot kayak gitu), kerap kelayapan di jalanan sampe di teras kamar di mess dan mengaduk-aduk tempat sampah. Iseng? Ahh, mungkin dia hanya lelah dan pengin piknik.

Pak Arie berpesan jelas: Kalau jumpa monyet di jalanan, jangan sok jadi Tarzan, ya! Eh, maaf, bukan. Pak Arie gak ngomong gitu, tapi ngomong gini > Jangan beri perlakuan khusus, apalagi memberi makan. Biarkan mereka berlaku wajar saja. Duh, bijak banget ya?

Karena bus masih jalan, Pak Arie terus bercerita. Binatang tertentu suka nakal, maunya merayap dan gelantungan di kawat-kawat untuk naik ke tiang. Mau selpie kali ya? Hmm, harus diatasi nih, tapi gimana caranya? Ahhh, gampang kok kataku dalam hati. Monyet-monyet itu ditangkapi aja, kalau ngelawan aku panggilin Ahok deh, terus disumbangkan ke kebun-kebun bintang. Beres! Terus ular-ular, misalnya, ya dibasmi ajalah. Lumayan bisa dibikin abon :) Habis gimana, kan ular gak ramah untuk diajak pulang dan bobo bareng.

Tapi? Ups! Ternyata Newmont gak melakukannya! Pak Arie cerita panjang lebar tentang cara mengatasinya, tapi otakku gak punya gambaran apa sih yang dimaksud *maafkan aku pak*. Sampe ditunjukkin ke sesuatu pas bus lewat di sana. Dan, astaga, ihh... lucunya! Kayak topi Harry Potter di Hogwarts jeritku elegan.

[caption caption="Topi Harry Potter sebagai pencegah dua pembunuhan (Foto: @angtekkhun)"]

[/caption]

Topi-topi Harry Potter itu dipasang di bagian agak bawah di setiap kawat yang kayaknya berfungsi sebagai pengaman berdirinya tiang listrik. Guna topi itu, untuk menghalangi binatang apa saja yang kurang piknik dan ngincer merayap naik. kalau dibiarin, akan terjadi korsleting dan listrik pun padam. Kerja terhenti, produktivitas terganggu, kerugian menumpuk.

Tapi, tahukah kamu ada yang lebih penting dari itu? *jrengjreng*

"Akan terjadi dua pembunuhan," kata Pak Arie serius. Aku pun melongo. Tapi buru-buru beliau menjelaskan. Pertama, jaringan akan mati. Kedua, pembunuhan pun menimpa binatang itu sampe dianya almarhum. Jadi, itu cara taktis Newmont melakukan perlindungan agar tak terjadi dua pembunuhan.

Ups! Aku terdiam. Kerongkonganku tercekat, tiba-tiba gak bisa ngomong. Kalau dalam chit-chat santai kita dengan enteng sering berguyon agar memiliki rasa "berperikebinatangan", maka di sini ternyata tidak hanya jadi buah bibir. Newmont mempraktikkannya. Pesannya jelas, yang dalam bahasa formal gini: Sayangilah binatang.

Duh, so sweet.... Teringat usulku untuk nangkep-nangkepin dan membasmi di atas, mukaku langsung jadi jengah, dan kupalingkan dengan perasaan malu.

[]

Tulisan lain yang terkait: