Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Surat Kepada Desy Desol & Fiksiana

1 November 2015   04:33 Diperbarui: 1 November 2015   05:07 414 21 29

[caption caption="Ilustrasi (Foto: Pixabay)"][/caption]

Dear Desy,

Waktu bergerak dan bergulir tergesa, namun bayang-bayang keharusan bagiku untuk membayar utang padamu tak lelah mengejar. Hari-hari sebelum aku menyeberang ke negeri tetangga, kau menyapa, mengajak, mempersuasif bahkan menonjokku untuk mengikuti even "Menulis Surat" Fiksiana. Dan kau gagal. Aku cukup tegar tengkuk untuk menolak. Alasan bahwa aku tak punya subjek untuk ditulis, kau tolak mentah-mentah. Padahal, aku mengungkapkannya dengan jujur.

Kini, aku sudah punya subjek hasil galian selama berhari-hari dan berhari-hari. Aku ingin menulis surat ini ditujukan padamu dan Fiksiana. Dengan surat ini aku ingin melunasi janji kecil yang sempat kubisikkan pada diriku sendiri.

Mengingat perilakumu selaku admin Fiksiana, dalam selintasan mengingatkanku pada sosok HB Jassin. Paus Sastra Indonesia ini adalah seseorang yang teramat telaten dalam merawat pada sastrawan. Dia memperlakukan setiap orang dengan spesial. Menyapa, memberi masukan, memberi motivasi, mengajak terus menulis, hingga mereka tak kehilangan semangat dan kreatif dalam berkarya. Dari tangan "perawat" seperti ini lahir banyak nama, paling mudah untuk menyebut contoh adalah mencuatnya Chairil Anwar dalam pentas sastra nasional.

Kau melakukan hal yang mirip. Mungkin tanpa sengaja--sekadar naluri untuk memelihara komunitas dan menumbuhkan potensi-potensi yang kau jumpai. Teringat dengan jelas dalam even sebelum surat, dalam jam terakhir kau memaksa aku untuk menulis dan ikut. Didorong oleh simpati, aku mulai memainkan draf di kepala. Aku mulai membangun karakter tokoh dan mencari setting cerita melalui Google. Titik cerah plot mulai terbentuk namun belum memiliki ending ketika batas waktu pukul 00.00 terlewati. Aku mengontakmu dan mengibarkan bendera putih. Namun, betapa ndableg dirimu untuk tak menyerah saat mengalihkan tenggat ke hari esok. Di sini aku melihat pengharapan dan trust yang besar darimu. Maka, aku kembali membuka laptop dan mulai mencari data lokasi dan menulis. Kemudian mempersiapkan image untuk ilustrasi dan berhasil posting pada hampir pukul dua dinihari. Itulah kisah di balik lahirnya "Sepotong Senja di Odori Park" (http://bit.ly/1WnxtUJ).

Dear Desy,

Sejujurnya, aku sudah lama meninggalkan fiksi. Menulis fiksi pop sudah menjadi bagian dari masa lalu jauh di belakangku. Saat-saat kuliah doeloe, honor dari menulis cerpen di majalah memang pernah menjadi salah satu tulang punggung yang membiayai hidupku. Namun kemudian aku meninggalkannya untuk melewati masa kuliah psikologi dan berkiprah sebagai editor buku-buku nonfiksi.

Ketika pertama kali menengok Kompasiana pada 2008, aku tak menjumpai "sisipan" Fiksiana. Dan ketika bertandang dan membuka akun pada 2013, aku tak pernah tertarik melirik Fiksiana. Itu adalah keping dari masa lalu yang tak lagi menggugah. Namun suatu ketika di tahun 2015, Fiksiana menggoda, dan aku tergoda untuk iseng menulis cermin "Menghitung Butir Hujan di Orchard Road" (http://bit.ly/1LJ8svb). Disusul kemudian flash fiction 200 kata "Bahagia Untuk Gabriella" (http://bit.ly/1CkaIIa).

Itulah sejumput kecil kisah godaan Fiksiana dan kemudian panggilan kau menggoda. Jika kemudian aku mulai meneliti bahwa even-even Fiksiana yang biasanya tanpa hadiah apa pun bisa mencapai peserta lebih dari 100 Kompasianer/karya, aku makin dibuat takjub.

Demikian tali-temali yang membuatku kagum dan teringat pada sosok HB Jassin. Dalam ketidaktahuanmu, mungkin, kau telah menjadi HB Jassin kecil yang merawat komunitas Fiksiana. Kekaguman kecil yang patut diapresiasi ini, kuceritakan dengan tulus saat sekamar dengan Mas Kevin saat di Malaysia, dan baru saja kuulang kisah ini sekali lagi kepada Mbak Wardah saat kopdar Komunitas Kompasianer Jogjakarta beberapa jam lalu.

Dear Desy,

Kini kau akan mengerti, melalui dua peristiwa di paragraf atas, aku beroleh energi untuk membayar utang menulis surat ini. Bukan untuk membuatmu salah tingkah dan besar kepala--tidak, karena kasihan sekali apabila kau tidak bisa menemukan helm yang muat untuk kepalamu. Tidak pula demi mendapat traktir semangkuk bakso kawi bila aku menginjakkan kaki di kota Malang. Namun lebih dari itu, ada hidden agenda tersembunyi melalui surat ini, yaitu agar kau penasaran dan mulai mencari tahu sosok HB Jassin dan kiprah yang pernah beliau torehkan dalam menumbuhkan sastrawan di Indonesia.

Jadi, kuucapkan selamat mengulik lembar sejarah dan jejak-jejak yang mengguratkan sidik jari Om Jassin. Dengan demikian kau akan beroleh sendiri motivasi untuk terus melangkah tanpa perlu aku berpura-pura menjadi Mario Teguh yang memberi wejangan super.

Dear Desy,

Hari baru telah tiba dan gelap malam telah menjelang cerah. Itu pertanda aku harus segera mengakhiri surat ini dan merebahkan tubuh untuk memulihkan penat. Aku akan tidur subuh ini dengan lega atas pelunasan utang padamu. Semoga tidurku tidak dibuat gelisah dan dihantui akan mendapat respons seperti apa dari dirimu melalui pesan WA saat aku bangun beberapa jam lagi.

Plis, jangan menonjok bahuku sebagai wujud responsmu... karena aku pasti akan menelpon 911 untuk meminta pertolongan.

Salam hangat dari Jogjakarta,

~khun