Ang Tek Khun
Ang Tek Khun digilifepreneur

A popular, psychological view and stories about daily life; a human, personal and community behavior and trends beyond tech.

Selanjutnya

Tutup

Media

Karena Kompasiana, Saya Ngeblog Lagi

9 Oktober 2015   03:04 Diperbarui: 9 Oktober 2015   08:35 265 10 5

 [caption caption="Foto: Pixabay"][/caption]

Saya mulai menulis blog ketika Wasantara masih eksis. Internet Provider "pelat merah" keluaran PT Pos dan Giro ini memang bisa masuk dalam kategori pelopor dan paling ekonomis pada zamannya dalam merajut nusantara melalui layanan internet.

Saya mulai mencurahkan “rasa dan karsa” melalui media blog ketika Multiply masih berjaya. Pada masanya, media menulis blog seolah terpisah melalui dua "kubu" platform, yaitu yang mengandalkan teks dan yang memanjakan image.

Apa yang saya tulis kala ngeblog saat itu? Selaras dengan apa yang disebut sebagai "personal journal writing". Menuliskan apa yang terstimulus oleh pancaindra, menorehkan apa yang sedang meletup-letup, dan membagikan sesuatu sebagai sarana untuk terkoneksi dan berbagi cerita.

Era ketika "phone" belum "smart" dan biaya berkirim SMS masih dihitung biayanya berdasarkan jumlah karakter yang terketik dilayar sehingga melahirkan bahasa seperti “u lg sbk g?”, serta aplikasi untuk bercakap-cakap seperti BBM dkk bahkan belum terbayangkan oleh pengguna hape, berbalas komentar di blog adalah keniscayaan. Tak heran bila posting tulisan di blog boleh dibilang akan selalu mudah dalam memanen komentar, karena di situlah salah satu sarana "elite" berbalas obrolan.

* * *

Kata Kho Ping Hoo, ada tiga peristiwa penting dalam hidup seseorang, yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian. Tak mau kalah, kata Ang Tek Khun (cieehh... emangnya ada yang percaya?) ada empat peristiwa krusial yang memengaruhi hidup seseorang, yaitu penemuan abjad, penemuan mesin cetak, penemuan Internet, plus bonus penemuan blog. Adanya alfabet membuat kita memiliki "alat" dasar untuk berkomunikasi, hadirnya mesin cetak membuat kita mampu menyebarkan sebuah informasi secara massal dan cepat, dan ditemukannya Internet membuat penetrasi informasi kian dalam dan luas sehingga "bumi menjadi rata".

Lalu, bagaimana penjelasan atas penemuan Blog? Ketika blog "dilahirkan", saya takjub dan menduga bahwa ini adalah peristiwa krusial dalam budaya literasi yang akan mengubah masa depan bangsa dan negara kita. Alasannya sederhana saja, karena bangsa kita bergerak dari budaya lisan dan berjuang amat keras untuk beralih ke budaya tulis. Ketika blog booming, menjadi tren dan gaya hidup, dalam beberapa kejapan telah mendorong sekian banyak orang mau dan bisa menulis. Bukankah ini peristiwa positif yang menakjubkan?

Masa keemasan blog adalah momentum yang patut dicatat dalam sejarah. Melalui blog lahir "cara baru" menjalin pertemanan hingga berdampak lanjut dengan kehadiran komunitas-komunitas blogger, dari ujung Barat hingga Timur Indonesia, dan pada puncaknya terselenggara even tahunan yang menjadi ajang "pesta" bagi blogger. Pada masa ini, saya bergabung dalam salah satu komunitas yang masuk dalam jajaran besar, yaitu Blogger Family (Blogfam) yang digagas oleh Maknyak dkk. Blogfam “bermarkas” di Forum, dan yang menarik untuk dicatat, dari Blogfam lahir e-Magz (majalah elektronik) yang terbit secara berkala dengan berbagai rubrik dan topik liputan utama.

Catatan sejarah penting lainnya adalah, melalui titik berangkat blog, lahirlah banyak karya cetak (baca: buku). Yang paling berbahagia, saya turut berada di pusaran ini dengan "genre" yang kami sebut Blook (blog-book). Berkisah tentang ini, kita harus merujuk pada Raditya Dika dengan Blook Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (KJ). KJ adalah sebuah fenomena yang menoreh sejarah dengan tinta emas. Buku hasil migrasi materi dari blog ini, tidak ada matinya. Terus terjual bagus mengarungi waktu puanjang sejak terbit perdana 2005 dan telah diadaptasi ke layar perak. Buku ini pula yang kemudian melejitkan nama sang penulis hingga kini.

Sebagai orang berkecimpung di dunia penerbitan dan pusaran penggagas Blook, saya tak berhasil membidani lahirnya Blook yang mampu menjajari kesuksesan KJ. Namun yang cukup menghibur hati dan membahagiakan, saya bisa berada di pusaran terbit dua Blook yang mampu mencatat national best seller, yaitu Anak Kos Dodol (AKD, seri) karya Dewi "Dedew" Rieka dan My Stupid Boss (MSB, seri) karya Mbak Kerani. AKD telah difilmkan, sementara penulis MSB “menolak” bukunya difilmkan. Jika hingga hari ini Anda masih mengenang kedua buku (seri) ini, melalui kesempatan ini izinkan saya mengucapkan "maturnuwun".

* * *

Kembali ke laptop. Ketika sedang eksis dan lebay-lebaynya saya ngeblog kala itu, seorang sahabat yang bekerja dalam jajaran editor di harian Kompas mengontak dan "menghasut" saya untuk membuka Kompasiana dan terlibat menulis di dalamnya. Penanggalan kala itu menunjukkan tahun 2008, dan penampakan Kompasiana saat itu sungguh mengerikan bagi saya. Kompasianer-nya adalah wartawan-wartawan harian Kompas. "Lah, saya ini siapa?" "Kakak-kakak itu menorehkan tulisan-tulisan yang wow, sementara saya ocah-oceh di blog dalam kategori wew."

Mengenang episode ini beberapa saat yang lalu, saya teringat pada beberapa hal yang masih melekat dalam bilik kenangan saya. Kompasiana kala itu belum disisipi Fiksiana, dan bila tak salah mengunduh kenangan, saat itu saya mendapati kalimat penegasan di Kompasiana yang tampaknya tak bisa lebih "sadis" dari itu, yaitu larangan menulis/mem-posting puisi. Alamak! Akun pertama yang saya buka di Kompasiana itu lalu terlupakan tanpa pernah diisi satu pun tulisan. Alasannya sederana saja: Saya justru akan menulis puisi di sana, karena dengan format puisi saya tidak akan kalah pamor dengan para jurnalis yang "wow" itu.

Ringkas cerita, datang masa ketika banyak blog kemudian menjadi "rumah hantu" atau "kuburan" akibat tak disentuh lagi oleh pemiliknya. Kedisiplinan saya menulis blog pun turut mengendor seiiring dengan jam kerja saya yang meningkat. Pada tahun-tahun tersebut, saya menghabiskan waktu 70-80 jam kerja dalam seminggu. Menulis untuk kesenangan pribadi (baca: ngeblog) menjadi sebuah kemewahan.

* * *

Time flies but memories last forever. Lima tahun kemudian, entah bagaimana kisah detailnya, saya kembali ke Kompasiana. Kembali membuka akun, dan kali ini mulai mengisinya. Tidak serajin doeloe dan tidak seboros "menye-menye" doeloe. Kali ini dengan kesadaran berbeda:

  1. Aspek pribadi - saya harus kembali ke habitus awal (baca: menulis). Menjadi editor, meskipun dijalani selama sekian panjang, tidak akan pernah berbanding lurus dengan kemampuan menulis. Dan meskipun hati saya tidak berkecenderungan sebagai penulis/pengarang, saya tak bisa memungkiri hukum alam yang jelas-jelas akan menjatuhkan sanksinya: "talenta yang tidak diasah akan menjadi tumpul dan kemudian punah".
  2. Aspek keteladanan - saat kerap berbicara dalam forum-forum tentang penulisan, saya dituntut untuk memberikan teladan. Pembicara, pelatih, atau trainer menulis yang tidak (sedang) menulis akan selalu didorong ke dalam kelompok warga yang disebut Omdo (omong doang).
  3. Aspek sosial - dengan passion pada "kampanye" mengenalkan dan membangun literasi melalui berbagai kesempatan membuat saya belajar bahwa trik yang paling efektif dalam mengajak orang lain menulis adalah ajakan, "yuk kita sama-sama belajar menulis".

Kesadaran kedua adalah saya merasa meskipun berada dalam keterbatasan, saya perlu hadir dan turut merawat Kompasiana agar bukan hanya mampu bertahan melewati generasi ke generasi, melainkan juga kian berkembang dan sukses. Kompasiana memegang peranan penting dalam menumbuhkan dan memelihara budaya menulis dan budaya literasi pada umumnya, oleh karena itu Kompasiana harus tetap eksis dengan stamina panjang. Mengenai ini, saya menyimpan catatan kaki yang ingin saya bagikan di sini:

  1. Bersentuhan secara terbatas baik langsung maupun tidak langsung serta membaca kisah suksesi melalui pemberitaan media mengenai korporat induk Kompasiana membuat saya mafhum bagaimana prinsip dan etos yang dianut managemen. Seluruh bos di muka bumi ini akan selalu ngomong hal yang sama atau mirip bahwa "ujung dari bisnis adalah kalkulasi". Jadi, ujung dari poin ini adalah kiranya para Kompasianer menyadari betapa penting dirinya untuk memainkan peran dan berandil besar dalam memelihara Kompasiana sebagai anggota keluarga kita bersama.
  2. Pernahkah Anda membaca "tanda-tanda" pergerakan zaman sederhana ini: Blog > Facebook > Twitter > Instagram. Saya dirundung kesedihan ketika Facebook lahir, karena ia segera merebut hati blogger untuk beralih "mainan". Kemudian Twitter muncul, lalu Instagram. Meskipun di Facebook tersedia Note, kita tahu dengan baik bahwa menulis Status FB jauh lebih pendek dan praktis. Dan ketika orang-orang mengeluh bahwa menulis Status FB itu terlalu panjang baginya dan selalu kehabisan bahan, maka Twitter dengan pembatasan 140 karakter adalah "gue banget". Lalu saat menulis sependek Twitter mulai dikeluhkan, maka kehadiran Instagram dengan segala daya tariknya terasa jauh lebih memerdekakan. Nah, apakah Anda bisa melihat "progres" platform ini telah "menyunat" habis budaya bergelut dengan kata?

Menulis adalah memformulasikan buah pikir melalui kata-kata. Dalam bahasa Voltaire, "Writing is the painting of the voice". Untuk mencapai kompetensi terbaik dalam menulis, tidak bisa tidak, Anda harus terus menulis, setiap saat. Seburuk apa pun kemampuan Anda menulis saat ini, tidak menjadi alasan untuk bersembunyi bagai burung onta. Seorang bijak berkata, "The worst thing you write is better than the best thing you did not write". Richard Bach memberi penegasan bahwa "A profesional writer is an amateur who didn't quit".

Blog adalah salah satu sarana mujarab untuk menemani perjalanan Anda dalam menulis. Dan Kompasiana dengan keberadaan dan sistem yang dibangunnya adalah salah satu, bila tidak ingin menyebut satu-satunya, yang terbaik milik negeri ini. Itulah sebabnya saya kembali ke Kompasiana dan selalu menyarankan siapa saja di berbagai kesempatan formal maupun nonformal untuk menggunakan sarana ini. Bahkan apabila berkenan, bersama Kompasianer Yogyakarta lainnya, kami siap beredar (blogshop) untuk berkampanye sesemarak pilkada serentak. Disertai sejumlah curhat dan kegelisahan yang saya bagikan di atas, marilah kita terus ngeblog (dan meneruskan ajakan ini). Hasil darinya, bukan untuk kepentingan dan keuntungan siapa pun, kecuali Anda sendiri. Percayalah...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2