Mohon tunggu...
khumaediimam
khumaediimam Mohon Tunggu... Teruslah menebar kebaikan, karena kebaikan yang mana yang diridhai, tiada kita tahu

Menulis Atau Mati.....

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis Bukan Sekadar Keinginan Saja

25 Oktober 2020   04:52 Diperbarui: 25 Oktober 2020   04:58 53 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis Bukan Sekadar Keinginan Saja
Menulis. Sumber: image.freepik.com

Ada banyak orang yang sebenarnya ingin berproses menulis. Menulis apa saja. Namun terkadang keinginannya untuk menuliskan sesuatu baru pada dataran keinginan semata, tak dibarengi dengan niat dan tekad yang kuat. Sehingga keinginanannya untuk menulis sering mental, tak urung kunjung terlaksana. 

Suatu keinginan memanglah haru didasari keniatan dan tekad yang kuat, termasuk dalam menulis. Apalagi menulis itu bukan hanya sekedar kegiatan yang bisa dilakukan sambil lalu, sekedar iseng atau hanya untuk menunggu waktu luang saja. Tetapi menulis itu adalah kesengajaan yang terencana untuk menuangkan ide, isi hati, gagasan kita dalam sebuah rangkaian kata-kata. 

Maka jadikanlah menulis itu bagian dari hidup kita. Bisa jadi, gaya hidup, hobi bahkan kebutuhan jiwa yang harus terpenuhi dan terlaksana tiap harinya. Ketika menulis itu sudah menjadi bagian dari diri kita yang tak terpisahkan, maka dengan sendirinya naluri kita akan berjalan dengan sendirinya untuk melaksanakan atau memenuhinya dengan bergerak, menulis apa saja dengan gaya apa saja, bahkan dalam bentuk apa pun. 

Ketika menulis sudah menjadi suatu kebutuhan, maka seseorang akan berjuang sekuat tenaga dan tekad baja untuk mewujudkannya, sehingga yang terpenting terlebih dahulu yakni harus dan harus terpenuhi. Bagaimanapun caranya, apa pun akan dilakukannya. Karena menulis bukan sekedar impian melainkan cita-tika yang kuat. 

Sebaliknya, ketika menulis itu hanya baru dataran keinginan seseorang saja, maka dipastikan besar peluangnya untuk tidak maksimal, bahkan tidak terlaksa dengan baik.  Apalagi dibenturkan dengan kesibukan lain yang dianggap sebagai kesibukan utama seseorang. Pasti, menulis akan dinomor duakan bahkan dinomor sekiankan, bahkan bisa dicancel terabaikan. 

Jika kita mengartikan sebuah keinginan adalah sesuatu yang belum begitu penting. Maka keinginan itu bukanlah sesuatu yang primer atau wajib adanya. Bisa jadi keinginan itu kita tunda, kita kurangi bahkan kita batalkan. Toh, sebatas keinginan, sah-sah saja. Berbeda dengan sebuah kebutuhan yang memang harus terpenuhi..

Seperti keinginan kita akan sesuatu yang membutuhkan biaya. Misal, saya ingin membeli sepatu, atau saya ingin piknik. Karena suatu hal, seperti tidak adanya biaya, tak adanya waktu luang, akhirnya keinginan itu bisa jadi batal, ditunda. Atau bisa saja terlaksana tetapi diluar ekspektasi awal. Misal jadi beli sepatu tetapi dengan kualitas biasa, atau rendah. Jadi piknik tetapi dengan lokasi yang dekat saja, mengingat waktu yang mepet. 

Termasuk ketika kita memposisikan menulis itu sendiri hanya sebagai keinginan kita. Maka bisa jadi akhirnya keinginan kita untuk menulis berujung pada penundaan atau pembatalan. Penundaan menulis bisa terjadi manakala seseorang merasa belum siap materi, tak ada waktu, ada hal lain yang dianggap lebih penting. 

Pembatalan seseorang untuk menulis, menjadi akhir yang mengenaskan. Jika hal ini tidak dipaksakan dalam memulai atau berproses untuk menulis, bisa jadi akan terus berkeoanjangan. Bahkan menjadi kebiasaan yang pada akhirnya memupus, mengubur dalam keinginan seseorang untuk menulis. 

Seseorang yang masih setengah hati dalam menulis saja terkadang berimbas pada kualitas dan kuantitas tulisannya. Tak fokus, yang akhirnya mengurangi kadar tulisannya.

Bisa jadi mengurangi jadwal atau jatah waktu yang telah diagendakan atau bisa jadi mengurangi jumlah kata, jumlah halaman tulisannya. Itu terjadi karena menulis belum dengan sepenuh hati. Rasanya ada yang kurang, tidak tuntas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN