Mohon tunggu...
Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Pemuda Dingin Tanpa Suara

6 Juli 2022   23:01 Diperbarui: 6 Juli 2022   23:07 150
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pagi cerah bersama kicauan burung

Udara masih berembun sejukkan hati

Sementara matahari masih malu-malu berjumpa pagi hari

Suara pagi bersama pepohonan yang rindang

Tiba-tiba ada suara keras dari sudut ruang Kadipaten "Romo putri anake panjenengan iii iii ical"

Adipati berdebar jantung semakin kencang

Mendengar kabar putri satu-satunya hilang

Selaksa pohon yang di sambar petir dan tumbang

Kondisi Kadipaten semakin memanas

Adipati segera mengambil tindakan tegas

Membuat sayembara "sopo wonge seng iso nemokne putriku nah sek joko tak pek mantu, tapi nah wes ra joko utowo wong wadon tak pek sedulur"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun