Mohon tunggu...
Khasbi Abdul Malik
Khasbi Abdul Malik Mohon Tunggu... Muda produktif, menikmati dan meluangkan hidup untuk berjuang di Pesantren.

Panikmat Karya dalam Ribuan Tumpukan Kertas.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Tentang Rasa: #08 Dikorbankan

11 Mei 2019   01:14 Diperbarui: 23 Mei 2019   19:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tulisan ini ditulis bertepatan dengan turunnya hujan di sore hari, deras bukan main. Suaranya, kalahkan suasan sekitar. Hanya jutaan tetes air hujan yang menyelimuti. Di sela-sela itu, aku ingin berbagi untuk aku sendiri, kamu, dia, dan mereka. Aku mencoba uraikan perlahan, tentang sebuah cacatan kecil. Mungkin kamu merasakan saat ini di posisi yang sama. Jika berkenan, kamu boleh bagikan kisahmu ke aku dalam versi lain. Boleh kan?

Kamu pernah dijauhi oleh orang terdekatmu, aku yakin pernah. Kamu pasti merasa heran, dan bertanya kepada diri sendiri. Kenapa dia tiba-tiba berubah sikap seperti ini, sedikit menjauhiku. Aku yakin, kamu pasti mencari-cari sebuah jawaban. Iya, kamu akan pastikan bahwa dia berubah sikap karena ada sesuatu yang merubahnya. Kamu pasti pernah menyalahkan diri sendiri. Lantas berfikir, apa ini gara-gara aku, tapi dimana letak kesalahanku. Dan ini terus membanyangimu.

Jika kamu adalah orang berkarakter cuek, hal itu akan mudah kamu biarkan tergelam berjalannya waktu. Tapi, jika kamu orang yang memiliki rasa simpati, kamu akan terus mencari jawaban. Sesekali, kamu mengira dia ini dan itu. Ah, itu kan hanya perkiraan kamu. Tidak ada yang mengetahui isi hati orang lain, kecuali Tuhan. Membingungkan bukan?

Ternyata, permasalahan ini akibat keputusan sikapmu terdadap diri sendiri. Apa artinya? Kamu mulai mengenal rasa di tengah-tengah persahabatanmu atau pertemananmu. Kamu paham maksudku bukan? Iya, temanmu atau sahabatmu mengganggap rasa yang hadir pada dirimu mengganggu. Mengganggu aktifitasmu, menggangu obrolan bersama mereka, bahkan mengganggu hati mereka.

Eh, kamu tidak tahu bukan. Itu mengganggu hati salah satu temanmu. Kenapa bisa seperti itu? Iya, bisa jadi rasa itu jatuh kepada orang yang sama. Mungkin kamu tersenyum membaca ini. Karena kamu terjebak cinta dalam lingkaran pertemanan. Yaitu, kamu memiliki rasa kepada dia (seorang yang kamu cintai), dan temanmu juga serupa. Naasnya, kamu dan temanmu belum memberanikan diri untuk menghadap. Ya, kamu harus korbankan.

Apa yang dikorbankan? Kamu akan dituntut untuk memilih siapa yang akan kamu korbankan. Aku simpulkan, kamu memiliki dua pilihan. Pertama, kamu korbankan dirimu dan pertemananmu untuk tetap mempertahankan rasa itu hingga pada waktunya harus disampaikan. Kedua, kamu berusaha bunuh rasa itu demi keharmonisan sebuah pertemanan. Apa pilihanmu? Aku harap kamu tidak salah memilih.