Mohon tunggu...
KHAKIMATUL ROYANI
KHAKIMATUL ROYANI Mohon Tunggu... Guru - guru

Saya adalah seoarang guru sekolahan negeri di daerah jawa tengah. banyak hal yang membuat saya mencintai profesi saya. saya sudah menikah dan di karuniai seorang putra. kegemaran saya bermain di instagram tiktok sebagai hiburan. tapi bukan sebagai pembuat konten hanya menikmati saja. hobi saya banyak sekai intinya yang penting menyenangkan ya...

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Model Pembelajaran CPI (Controversial Public Issues) dengan Pemanfaatan UKBM

6 Desember 2022   12:00 Diperbarui: 6 Desember 2022   12:02 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menurut UU no 14 tahun 2015, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pendidikan berkualitas dapat dicapai melalui pembelajaran yang bermakna.

Penggunaan model pembelajaran berpengaruh pada keterlibatan peserta didik pada proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk melatih cara berpikir peserta didik khususnya dalam melatih kemampuan berpikir kritis adalah model pembelajaran Controversial Public Issues. Model pembelajaran Controversial Public Issues diperlukan untuk membentuk kemampuan berpartisipasi guna memecahkan masalah-masalah dalam suatu masyarakat demokratis dengan cara diskusi. Dari model ini harapannya dapat membantu siswa mengembangkan suatu pemahaman meningkatkan kemauannya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di kehidupan dan secara positif mempengaruhi isi pemahaman, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan kecakapan interpersonal.

Lembar kerja untuk melakukan evaluasi pun masih jarang digunakan dan dioptimalkan. Guru masih banyak yang mengandalkan sistem penilaian terdahulu tanpa melakukan inovasi. Selain itu sarana prasarana yang mendukung penampilan penilaian juga sangat minim. Di SMA Negeri 1 Bantarbolang sendiri persediaan LCD Projektor hanya 4 buah. Tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. Sehingga terjadi kesenjangan antara kebutuhan siswa dan sarana prasarana tidak bisa berjalan bersama dan tidak saling mendukung. Faktor sumber daya manusia, kemampuan tenaga pendidik sarana dan prasarana sangat mempengaruhi dalam keberhasilan pembelajaran. Mayoritas guru dan siswa jarang menggunakan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran dan menggali informasi dikarenakan keterbatasan buku yang ada.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis akan membuat laporan aktualisasi kegiatan berdasarkan nilai-nilai dasar ASN serta kedudukan dan peran ASN dalam NKRI di instansi penulis, yaitu SMA Negeri 1 Bantarbolang, Kabupaten Pemalang. Materi-materi tersebut didapat oleh penulis selama mengikuti LATSAR di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. Penulis mengambil beberapa isu di lingkungan kerjanya, diantaranya adalah: 1) kurangnya peningkatan motivasi dan cara berpikir kritis pada mata pelajaran PPKn di SMA N 1 Bantarbolang, 2) belum optimalnya model pembelajaran controversial public Issues sebagai inovasi model pembelajaran di SMA N 1 Bantarbolang, 3) belum adanya lembar kerja kegiatan belajar mandiri di SMA N 1 Bantarbolang, 4) belum optimalnya pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar di SMA N 1 Bantarbolang, dan 5) belum optimalnya sarana prasaran untuk menampilkan hasil kegiatan siswa di SMA Negeri 1 Bantarbolang. Kemudian akan dipilih satu core issue yang menjadi prioritas untuk dipecahkan melalui gagasan-gagasan kegiatan kreatif dan inovatif yang dilandasi oleh nilai-nilai dasar ASN yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi (ANEKA) yang dituangkan dalam kegiatan aktualisasi. Pemilihan core isu didasarkan pada analisis isu dengan APKL dan USG.

  • Analisis Kriteria Isu Menggunakan Analisis APKL

Untuk menganalisis ketepatan dan kualitas isu dilakukan melalui analisis isu dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria isu. Analisis isu bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan yang dilakukan di lingkungan unit kerja. Analisis isu dilakukan dengan pendekatan APKL yaitu Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Layak.

APKL memiliki 4 kriteria penilaian antara lain: 1) Aktual artinya benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat; 2) Problematik artinya isu yang memiliki dimensi masalah yang kompleks, sehingga perlu dicarikan solusinya; 3) Kekhalayakan artinya isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak; dan 4) Kelayakan artinya isu yang masuk akal, logis, realistis, serta relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.

Berikut ini adalah beberapa isu yang ada di SMA Negeri 1 Bantarbolang yang telah dianalisis ketepatan dan kualitas isunya menggunakan metode APKL tersaji dalam tabel 1.2 dibawah ini

No.

Keterkaitan dengan Mata Pelatihan

Identifikasi Isu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun