Khairrubi
Khairrubi Indie writer wanna be

Sejenak menepi dari pergulatan materialisme. Kemudian menulis, kritis, bebas.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Artikel Utama FEATURED

Hotel Alexis dan Simbol-simbol Kemegahannya

16 Januari 2017   11:39 Diperbarui: 1 November 2017   13:42 7915 14 7
Hotel Alexis dan Simbol-simbol Kemegahannya
Foto: Kompas.com

Ketawa saya mendengar statement Anies ketika debat pilgub Jakarta kemarin. Secara tak langsung ia menyampaikan opini akan menutup Alexis jika terpilih jadi gubernur. Pertanyaannya, realistiskah ide itu?

Pelacuran sudah jadi komoditi bisnis sejak zaman nabi. Tak pernah ada seorang pun yang bisa menghapuskan prostitusi, itu profesi paling tua di dunia ini. Selalu ada demand dari pria-pria yang ingin menyalurkan libidonya. Supply and demand, prinsip ekonomi paling simpel, tak usah ribet-ribet memikirkannya kenapa bisnis syahwat ini takkan pernah usang ditelan zaman.

Penikmat kehidupan malam Jakarta sempat dibuat shock ketika Ahok berani menutup Stadium, diskotik yang terkenal dengan layanan plus-plusnya. Sudah lama stadium menjadi rujukan menikmati alkohol, drugs, dan wanita tanpa perlu khawatir digerebek aparat. Tewasnya salah seorang customer menjadi pemicu Ahok untuk langsung menutup Stadium. Jika saja tak pernah ada korban tewas karena drugs, bisa dipastikan stadium akan lebih panjang umurnya.

Bisnis esek-esek berkedok hotel, diskotik, pub, spa, atau pijat refleksi mudah ditemui di tiap kota tak hanya Jakarta. Adanya demand, mudahnya perizinan menjadikan para pengusaha optimis bisa break event point dalam sekejap. Besarnya pajak hiburan tak membuat ciut nyali pengusaha, karena mereka sudah kalkulasi akan tetap untung. Yang penting punya beking, setoran ke ormas setempat lancar. 

Customer happy bisa memuaskan syahwat dengan aman, pengusaha happy dapatkan laba, pemerintah happy dapatkan setoran pajak, ormas pun kipas-kipas kecipratan rupiah. Belum lagi bisnis turunan di sekitar tempat hiburan malam seperti warung rokok, warung makan, layanan ojek online yang turut mengais rupiah dari para customer hedon penyuka hiburan malam.

Menutup Alexis bukan perkara mudah. Meski telah tersebar video dan foto syur dari lantai 7, hal itu tak serta merta bisa jadi alasan untuk menutup Alexis. Sama seperti stadium, mesti ada yang tewas dengan mulut berbusa karena narkoba dulu baru sebuah tempat hiburan bisa ditutup. Kalau si customer tewas karena viagra atau obat kuat ya jangan harap bisa dicabut izin operasinya. Berita tewas seorang om-om senang cuma jadi headline sementara di tabloid berita murahan. Esok harinya kita sudah lupa, berganti lagi dengan berita-berita yang lebih hot.

Kalau mau objektif, bukan cuma Hotel Alexis yang jadi tempat rujukan pemuas syahwat. Hotel bintang 5 di bundaran HI sekalipun juga jadi rujukan tempat transaksi bisnis esek-esek. Masih ingat beberapa artis ternama ditangkap basah sedang indehoi dengan pengusaha dan pejabat berkantong tebal. Tarif mereka puluhan hingga ratusan juta rupiah sekali 'crot'. Jangan harap kita bisa mengetahui siapa customer yang memesan artis-artis yang nyambi jadi PSK online itu.

Sekali lagi, hebatnya pengaruh duit bisa menutup rapat kebejatan syahwat. Yang ditangkap dan dipenjara cuma mucikarinya saja, usernya selamat, sang artis pun berkelit jadi korban perdagangan manusia. Berita infotainment heboh sejenak, "Nikita Mirzani ditangkap lagi bugil di sebuah hotel bintang 5!". Seminggu kemudian si Nikita sudah pamer susu dan paha mulusnya di pantai kuta.

So what? Itu realitanya. Jangan bodoh dan coba tutup mata dengan realita. Ratusan PKL kaki lima penjaja obat kuat di sekitaran jalan hayam wuruk, gajah mada, pasar baru, mangga besar adalah bukti nyata bahwa hotel-hotel yang berada di area itu menjadi tempat transaksi syahwat.

Alexis menjadi simbol kemegahan dan mengguritanya bisnis prostitusi. Tak perlu alergi dengan yang begini. Kapan-kapan bolehlah kita bareng ke lantai 7 alexis, tes seberapa kuat imanmu ketika aroma parfum mahal menyebar dari tubuh para wanita cantik, tinggi, putih, langsing, mulus tanpa ada noda bekas gigitan nyamuk sedikitpun.

Jika merasa imanmu belum kuat melawan godaan super dahsyat itu, jauhi! Lebih baik nikmati saja tubuh istrimu yang jelas-jelas halal. (RUB)