Mohon tunggu...
Khairil Miswar
Khairil Miswar Mohon Tunggu... Penulis - Esais

Pemulung Buku Tua

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | "Sukmamati!"

3 April 2018   11:10 Diperbarui: 3 April 2018   11:10 722
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: www.jpnn.com/

Saudara-saudara sebangsa, setanah air, seperjuangan, dan juga sekampung, kemarin kita telah dihebohkan oleh sebuah puisi yang dilantunkan oleh Nyonya Sukmawati Soekarnoputri. Terus terang, saya tidak berhak mengomentari sosok ini, selain tidak ada sisi yang menarik, juga tidak akan berdampak pada manfaat apa pun.

Melalui artikel ini, tentunya saya dan kita semua berhak memberikan apresiasi kepada Sukmawati atas puisinya yang telah mengguncang jagad Indonesia. Puisi yang luar biasa, merdu, syahdu dan mengalun lembut, selembut "material" kuning yang kita produksi setiap pagi melalui "tunggingan" beberapa detik di sebuah kamar kecil bernama "toilet."

Sukmawati telah melahirkan sebuah karya sastra yang mungkin tidak ada tandingannya di abad ini. Sebuah karya yang tidak hanya spektakuler, tetapi juga "teler." Seandainya pujangga-pujangga besar itu masih hidup, tentu mereka akan menangis meratap membaca bait-bait puisi yang keindahannya sulit digambarkan. Para pujangga besar itu benar-benar kalah.

Di balik sastra dia mengerang sambil berlindung, "ini hanya puisi." Dengan label budayawan, si pujangga terlihat bebas menghantam apa saja yang berada di depannya.

Untuk itu, suasana gegap gempita atas puisi penyair besar Nyonya Sukmawati memang patut kita meriahkan. Dan kemeriahan ini akan menemukan keindahannya melalui puisi pula.

Berikut ini adalah puisi saya sebagai gerak awal menyambut "kebangkitan" sastra di Indonesia yang dipelopori oleh Sukmawati.

Sebelum membaca puisi ini, saya ingatkan, ini adalah karya sastra, hanya pikiran saya yang tentu bebas saja saya lempar kian kemari. Boleh dong saya meniru Sukmawati?

 

Hantu Indonesia
Aku tak tahu Sukmawati
Yang kutahu puisinya sangatlah in dark
Lebih jangkrik dari cakap lembu
Gerai lekukan mulutnya anyir
Seamis kain pembungkus kaki
Rasa ciptanya berbuah petaka
Menyatu dengan semburan air got
lidahnya berbau lintah hitam
Mulut terkecup bau

Lihatlah hantu Indonesia
Saat pikirannya semakin miring
Agar kau dapat minggat
dari keberagaman bangsamu
Tanpa sengaja dia memantik, membentur anak negeri
Jangan ikut ucapnya, sebab dia hantu Indonesia


Dia pura-pura tak tahu syariat Islam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun