Mohon tunggu...
Khairatun Nisa
Khairatun Nisa Mohon Tunggu... Guru - Mahasiswa PPG Dalam Jabatan Universitas Ahmad Dahlan

Mahasiswa PPG Dalam Jabatan Universitas Ahmad Dahlan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Lulus SMA, Kuliah atau Kerja?

3 Desember 2022   19:48 Diperbarui: 4 Desember 2022   12:38 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Salah satu tugas perkembangan peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. Hal ini tertuang dalam Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) poin ke 9 yaitu Wawasan dan Persiapan Karier. Salah satu contoh nyata dari tugas perkembangan ini adalah peserta didik mampu membuat perencanaan karier setelah lulus SMA.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, paling rendah se-Indonesia pada tahun 2021, yakni hanya 15,23 persen. Hal ini berarti dari 100 lulusan SMA/SMK, hanya 15 anak yang kuliah. Secara statistik, nilai APK ini sudah naik 0,5 poin dibandingkan dengan APK tahun 2020, yaitu 14,73 persen, namun status Provinsi dengan APK terendah se-Indonesia telah disandang oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak tahun 2015.

Padahal dari segi ekonomi, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masuk 10 besar provinsi dengan pertumbuhan perekonomian tertinggi di Indonesia. Hal ini berarti walaupun kesejahteraan masyarakat sudah bisa dikatakan makmur, minat kuliah remaja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih rendah.

Kesulitan peserta didik dalam membuat perencanaan karier dikarenakan peserta didik belum menentukan apa yang akan dilakukan setelah lulus SMA. Jika bekerja, dimana dan bagaimana prosesnya. Jika kuliah, apa saja pilihan jurusan dan kampusnya. Selain itu, peserta didik belum mengetahui jurusan apa yang akan diambil yang disebabkan peserta didik belum memahami minat, bakat dan potensi yang dimilikinya.

Salah satu faktor penyebab rendahnya APK di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakni para lulusan SMA lebih memilih untuk langsung bekerja, biasanya laki-laki memilih menjadi penambang timah atau mengelola kebun kelapa sawit, sedangkan yang perempuan menjadi penjaga toko di supermarket atau toko baju. Mereka berpikir bahwa dengan menambang timah, bekerja di pabrik sawit atau bekerja menjadi pegawai toko baju lebih menjanjikan dan dapat lebih cepat menghasilkan uang yang banyak dibandingkan dengan kuliah. Hal ini juga dikarenakan cukup banyak lulusan sarjana yang menganggur, sulit mendapatkan pekerjaan tetap dan malah berkebun atau menambang timah juga setelah lulus kuliah.

Selain itu, lulusan SMA yang banyak tidak melanjutkan kuliah rata-rata berasal dari pedesaan. Hal ini disebabkan kurangnya dukungan dari orangtua, misalnya orangtua berpikir tanpa kuliahpun, anaknya tetap bisa menghasilkan uang dari mengelola kebun milik keluarga dan kondisi ekonomi orangtua yang tidak memungkinkan untuk mereka bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Peserta didik juga memikirkan tentang sulitnya masuk ke perguruan tinggi negeri apalagi yang berada di luar daerah, perguruan tinggi swasta dinilai peserta didik lebih mahal biayanya sehingga peserta didik kebingungan untuk menentukan arah sekolah lanjutan yang akan dipilih. Bagi beberapa lulusan SMA yang memiliki kartu KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah, walaupun sudah bebas biaya kuliah, beberapa orangtua masih bingung bagaimana memenuhi kebutuhan biaya hidup selama kuliah.

Di sisi lain, pilihan untuk menikah muda juga menjadi pola pikir umum lainnya yang berkembang dalam masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya pada kaum perempuan. Sepanjang tahun 2021, BKKBN Babel mencatat sebanyak 779 orang pada usia 0-18 tahun yang melakukan pernikahan dini, 690 orang di antaranya berjenis kelamin perempuan, yang berarti bahwa angka pernikahan dini di Provinsi Bangka Belitung sangat tinggi, yaitu mencapai 88,57 persen. Bahkan di tahun 2020, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan pernikahan dini tertinggi se-Indonesia.

Tentu saja fenomena rendahnya APK pendidikan tinggi akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga muncul beberapa hal negatif seperti sulit memperoleh pekerjaan yang layak, angka pengangguran meningkat, yang berujung pada tingginya tindak kriminalitas seperti pencurian, perampokan dll.

Melihat permasalahan peserta didik yang mengalami kesulitan dalam merencanakan karier seperti membuat pilihan jurusan di perguruan tinggi, guru BK berupaya membantu mencegah terjadinya permasalahan tersebut. Usaha yang telah dilakukan oleh guru BK yaitu memberikan beberapa informasi baik berupa persyaratan, biaya, fasilitas, gambaran umum jurusan, dan prospek kerjanya atau informasi lain terkait dengan dunia perguruan tinggi. 

Selain itu, guru BK juga mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan career day, yang rutin diselenggarakan oleh MGBK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan melakukan kerjasama dengan beberapa universitas baik negeri maupun swasta dan dinas ketenagakerjaan yang kegiatannya berupa talkshow kuliah (perguruan tinggi), talkshow bekerja dan berwirausaha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun