Yuliana. J
Yuliana. J Penulis Amatiran

"Apa yang diingat atau terpuruk dalam satu titik tiada bermakna." Rumah baca juga tulis tempat menyimpan dan mengasah ide dunia tulis menulis. Bahwa dari sudut pandang seni terdapat banyak makna, yang mana menjadi salah satu bagian dari histori kehidupan. Jika suka boleh like, boleh komen juga share dan jika berkenan jangan lupa follow. Semoga isi tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Saran dan kritik dengan senang hati diterima. Salam santun. -Kakak-

Selanjutnya

Tutup

Politik

Penawaran Menarik, Hashtag Bukan 80jt (#bukan80jt)

31 Januari 2019   14:45 Diperbarui: 31 Januari 2019   15:05 39 0 0

Saya pernah bahkan sering berkata pada seseorang, begini;
"Apapun yang kamu lakukan, aku support. Tapi satu, jangan politik ntah itu bergabung atau ikut-ikutan. Cukup pahami dan jangan ikut andil."

Sampai detik ini pikiran kami sama.

Dari kutipan diatas, bukan berarti melarang untuk terjun ke dunia politik. Tidak seperti itu. Ini hanya menurut pendapat saya untuk saya, mungkin juga seseorang itu.

Ini juga bukan membahas "kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?" Iya saya akui memang pemuda adalah bagian terbesar dari itu semua. Tidak ada yang salah dari itu.

Hanya saja menurut sudut pandang saya, lagi-lagi bagi saya sendiri saya menolak untuk bergabung.

Beberapa tahun silam, senior menawarkan hal yang sama. Saya ikut andil, dari paslon, debat, meeting, memberitakan blusukannya dari awal hingga selesai.

Lalu apa yang saya dapat? NOTHING. Secara kemanfaatan yang kekal menurut saya.
Pengalaman mungkin iya, amplop? Ah jangan tanya soal ini.

Lalu kemana orang yang saya bikin beritanya itu? I don't know. Mungkin dia sudah menemukan tangan kanan yang jauh lebih berkompeten.

Anyway.
Beberapa waktu belakangan ini hal serupa terjadi, penawaran dimana-dimana (#bukan80juta), "kamu mau berapa? Soal angpau gampang itu bisa diatur". Ya tidak sedikit kalimat itu dilontarkan.

Tapi tidak menutupi 'KEMUNGKINAN' ada yang suka rela saja. "Nggak kok aku suka rela aja, kita kan anak muda semestinya begini-begitu, dan bla bla bla..." Hei bung, dua kata 'anak muda' seharusnya memutuskan segala perkara paham dampak apa yang dipilih. Bukan ecek-ecek, tidak receh-receh apalagi kaleng-kaleng.

Berprinsip itu penting, menjalankan itu pilihan.

Berlanjut.
Semakin marak, DM, telepon, whatsp "bagaimana penawaran saya kemarin?" Dikira saya biro 'calo'? Yang ada uang ada barang. Lucu sekali menurut saya,

Paragraf yang sedang dibaca saat inipun mungkin ada tergelitik "siapa sih ni orang, sok iya banget sih" may be seperti itu.
Tapi ya ini dari perspektif saya, bukan berarti saya melarang untuk tidak dibolehkan.

Saya sendiri tertarik dan seperti ada magnet kalau berbicara soal politik hingga pemerintah.
Sejak berteman dengan beberapa dari kalangan jurusan hukum baik itu perdata dan pidana ada yang nantinya menjadi calon advocate, calon hakim mungkin juga pengacara.

Satu ketika kita tengah asyik berdiskusi "Kamu tahu nggak, ketika saya ditugaskan ke satu daerah saya melihat, mengkaji, dan meneliti bahwa hukum saja tidak cukup jika tidak ada permainan halus di dalamnya." Jelasnya,

"Kau tahu, di daerah saya saja ada 2020 napi didalamnya baik itu yang sudah di eksekusi maupun belum. Yang kebanyakan orang malas untuk mengambil pusing, mana ada pengacara mau dibayar nasi bungkus, kau kira petugas pengadilan hanya mengeluarkan stegment saja? Tidak, bukan seperti itu. Banyak yang harus mereka selesaikan, dan itu perlu waktu, tenaga juga pikiran" Lanjutnya.

See!
Sekarang 2019 saja ada 2020 napi itu hanya di daerah dia saja, belum lagi di daerah lain, lalu mau dikemanakan sisanya? Mau diapakan aparatur negara? Hanya sebatas hitam diatas putih saja?

"Belum lagi, jika sudah mendaftar nama di satu lembaga partai. Sejak saat itu nama kita tercatat dan sudah disediakan pengintai, sudah disiapkan pertanyaan-pertanyaan kasus yang nanti ia lakukan meskipun itu tidak di inginkan, dan itu akan terjadi. Karena memang begitu permainannya, ibarat sedang memanah dengan menutup dengan satu mata, jika tidak tepat sasaran. Bisa kena balik."

Ah sudahlah, semakin lama saya ditarik magnet untuk membahas ini.

Ya begitu saja.
Berlakulah seperti kamu orang yang berpendidik, tidak gampak dibodoh-bodohi, dunia ini sandiwara, berita saja tidak cukup. Pengalihan kasus berbanding terbalik dengan isi berita itu sudah hal biasa. Sudah jadi rahasia umum di Masyarakat, menelan mentah-mentah apa yang dipublish itu juga kesalahan.

"Wartawan, penulis jurnal saja ditembak mati jika berita yang ditulis tidak sesuai permintaan, kabarnya tertutup rapat, siapa yang mau disalahkan? Tidak ada. Dan itu risiko" pungkas teman jurnal.