Mohon tunggu...
Wayan Kerti
Wayan Kerti Mohon Tunggu... nak "Bongkol Gunung Agung", selalu siap mengahadapi situasi karena belajar dari alam. Guru SMP Negeri 1 Abang, Karangasem-Bali. Terlahir, 29 Juni 1967

Anak "Bongkol Gunung Agung", selalu siap mengahadapi situasi karena belajar dari alam. Guru SMP Negeri 1 Abang, Karangasem-Bali. Terlahir, 29 Juni 1967

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Antara BDR dan DRAKOR

13 Juli 2020   19:58 Diperbarui: 13 Juli 2020   19:52 13 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antara BDR dan DRAKOR
Sumber ilustrasi: asiaone.com

Era pandemik Covid-19 memaksa proses pendidikan didesain secara daring atau luring. Para siswa mengikuti proses belajar dari rumah atau diistilahkan dengan BDR, baik menerima informasi, menerima materi pelajaran,maupun mengerjakan tugas-tugas dan mengikuti proses evaluasi pembelajaran dari rumah. Kondisi seperti ini sesungguhnya memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengatur waktu belajarnya sendiri, mengerjakan tugas-tugasnya sesuai dengan kemauan dan kesempatan yang dimilikinya.

Apakah mereka (para siswa) bisa dan biasa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya? Pertanyaan inilah yang jawabannya bisa bervariasi. Ada siswa yang memanfaatkan kesempatan belajar itu dengan baik, tetapi mungkin juga kebanyakan malah meyia-nyiakan kesempatan tersebut. Pada umumnya, hanya sedikit siswa yang disiplin belajar dari rumah. Mereka biasanya adalah para siswa di tingkat lanjutan atas. Untuk para siswa di tingkat pendidikan dasar (SD -- SMP), BDR menjadi tantangan tersendiri bagi guru, siswa dan orangtua.

Umumnya, siswa SD -- SMP, khususnya siswa SD lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk bermain. Mereka sepertinya menganggap BDR itu ibarat liburan saja. Bangun siang, lalu bermain itu menjadi kebiasaan baru, apalagi usai libur panjang kenaikan kelas. Anak-anak laki biasanya akan sibuk bermain games di gawainya, berkumpul dengan teman-temannya, atau asyik bermain laying-layang. Anak-anak prempuan biasanya lebih suka bermaian gawai atau menonton televisi. Hal itu tantangan tersendiri bagi guru dan orangtua siswa.

Tantangan bagi guru-guru, mereka harus sabar dan selalu mengingatkan para siswanya. Peringatan itu tidak hanya sekali, tetapi mungkin perlu berkali-kali. Peringatan itu bisa dilakukan melalui google classroom, WA group siswanya, atau sekadar sms. Hal ini membutuhkan kesadaran dan kesabaran lebih para guru. 

Permasalahannya, bagimana siswa yang tidak memiliki HP? Apakah juga dituntut untuk wajib BDR? Bagi siswa yang tidak memiliki HP sendiri mungkin bisa meminjam HP orangtuanya, HP kakaknya, atau bergabung dengan teman terdekatnya. Jika hal itu tidak juga memungkinkan karena kondisi keluarga anak memang tidak memilki kemampuan membeli HP, maka bisa dilakukan dengan pembelajaran system fortofolio mingguan. 

Guru bisa meminta bantuan kepala desa/lurah, lalu diteruskan oleh ke kepada dusun atau kepala lingkungan tempat siswa berdomisili. Selanjutnya, guru akan mengambil tagihan pembelajaran itu juga di kantor desa.

Tantangan bagi orangtua siswa, mereka dituntut ekstra untuk mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Mereka (orangtua) harus berperan aktif sebagai pendidik menggantikan peran guru, bahkan terkadang harus menjadi guru ketika putra-putinya mengalami kesulitan belajar. 

Permasalahannya adalah bagi orangtua siswa yang sibuk mendampingi putra-putrinya, maka mereka akan menyerahkan urusan pendampingan tersebut pada kakaknya, pembantunya, atau malah membiarkannya belajar sendiri. Hal ini terkadang menyebabkan proses BDR tidak sesuai harapan. 

Bagi orangtua yang tingkat pendidikannya rendah, atau bahkan mungkin ada yang buta aksara, maka orangtuanya mungkin hanya bisa mendampingi, tidak memberikan solusi. Beruntunglah bagi para siswa yang memiliki orangtua berpendidikan, memiliki fasilitas BDR yang memadai, dan memiliki waktu mendapinginya dalam belajar.

Jadi, intinya BDR merepotkan banyak pihak. Guru-guru repot mempersiapkan dan beradaptasi untuk bisa melakukan BDR dengan system daring, luring, atau konvensional sistem fortofolio mingguan. Guru-guru sangat direpotkan dan tentu akan menggangu kegiatannya di keluarga atau kegiatannya bermasyarakat. Orangtua juga mesti memutar otak agar bisa menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi putra-putrinya. Perangkat desa pun ikut repot mengurusi warganya agar kewajiban para siswa di lingkungannya bisa berjalan.

Lalu apa kaitannya dengan DRAKOR? DRAKOR (drama Korea) yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta, sedang trend belakangan ini. Penggemar DRAKOR ini biasanya adalah kaum hawa. Para ibu-ibu dan anak-anak gadis biasanya sudah stay di depan televisi untuk menonton tayangan drama Korea tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x