Mohon tunggu...
Wayan Kerti
Wayan Kerti Mohon Tunggu... nak "Bongkol Gunung Agung", selalu siap mengahadapi situasi karena belajar dari alam. Guru SMP Negeri 1 Abang, Karangasem-Bali. Terlahir, 29 Juni 1967

Anak "Bongkol Gunung Agung", selalu siap mengahadapi situasi karena belajar dari alam. Guru SMP Negeri 1 Abang, Karangasem-Bali. Terlahir, 29 Juni 1967

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Menyusuri Jejak di Kaki "Giri Toh Langkir"

30 Desember 2017   16:41 Diperbarui: 7 Januari 2018   10:30 1108 0 0 Mohon Tunggu...
Menyusuri Jejak di Kaki "Giri Toh Langkir"
Foto: I Wayan Kerti dari Desa Jungutan hari Rabu, 27 Desember 2017

Pagi ini pukul 06.30 Wita, Giri Toh Langkir terlihat gagah nan berwibawa. Tak ada selimaut "amubu" yang membalut tubuhnya. Asap yang biasa mengepul dari "dapurnya" tidak terlihat sama sekali. Mungkin "Hyang Giri Toh Langkir" sedang sibuk, atau menikmati suasana pagi yang lagi segar. Tak ada "air mata" yang menetes yang membuat bingung dan murung "anak-anaknya".  Mungkin pertanda Giri Toh langkir lagi berbahagia bersama "ibu pertiwi?" Atau mungkin pula lagi bercengkrama di istana sucinya.

Kucoba susuri jalan raya desa Jungutan yang ditetapkan sebagai desa KRB II, menikmati udara pagi, mencari tetesan keringat, sambil meregangkan otot-otot yang semakin kaku termakan usia. Di sepanjang jalan nampak penduduk mulai berkativitas. Ada yang terlihat mengurus sawahnya, ada yang mulai membuka warung-warungnya. 

SMP Negeri 1 Bebandem pun mulai terlihat buka, dan di datangi para siswanya, walaupun sesungguhnya masa libur akhir semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018. Sepeda motor berseliweran, pertanda mereka akan beraktivitas. Hanya segelintir saja truk-truk pengangkut pasir yang melintas, yang membuatku semakin nyaman untuk menikmati perjalanan. Asap yang terlihat mengepul, bersumber dari pabrik aspal di dusun Yeh Bunga. Pengalu tuak terihat berseliweran membawa jirigan dengan motor atau mobil bak terbuka. Nampak pula beberapa petani sedang memanen buah salak, yang saat ini mulai musim.

Semakin ke utara perjalananku, udara terasa semakin sejuk. Rimbun pepohonan nampak segar. Tak ada lagi sisa-sisa abu vulkanik yang menempel di pucuk-pucuk daunnya.  Mungkin telah hanyut oleh tetesan air hujan yang mengguyur belakangan ini. Pelataran SMA 1 Bebandem nampak sepi, namun asri. Seorang wanita paruh baya nampak sibuk membersihkan areal sekolah seorang diri.

Perjalanan yang mestinya bisa aku tempuh 1 jam, menjadi berjam-jam karena di sepanjang jalan yang kulewati, kunikmati indahnya alam pedesaan, sambil sesekali menatap "Giri Toh Langkir". Bak seorang reforter, seiring perjalanan sering aku bertegur sapa dengan penduduk sekitar yang nampak ramah, walau di antara kami tidak saling kenal.

Aku bertanya pada serang ibu yang lagi nyapu di depan rumahnya, "Jro ten ngngsi?" ("Ibu tidak mengungsi?")

"Nenten, Pak." ("Tidak, Pak") Jawabnya datar. Sebuah jawaban yang polos dan tulus.

Ibu lain yang aku tanya di daerah Garba, juga mengatakan hal yang sama. Bahkan dia bercerita kalau semua masyarakat di sekitar Garba/Celuk tidak ngungsi saat ini.

"Napi saking dumun ibu nenten naen ngungsi?" (Apakah dari dulu ibu tidak mengungsi) tanyaku lebih lanjut.

"Dumun naen abos-bos ring Tanah Ampo Manggis" (Dulu dapat sebentar di Tanah Ampo Manggis), jawabnya.

"Kenapi dados mebalik? Irika kan aman, tur polih wantuan makuweh" ("Kenapa balik lagi? Di sana kan aman dan dapat banyak bantuan."), timpalku lebih lanjut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN