Kertas Putih Kastrat
Kertas Putih Kastrat

Kumpulan intisari berita aktual dan terkini yang ditulis dan disusun oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM IKM FKUI 2017. Narahubung: Abiyyu (LINE: abiyyou)

Selanjutnya

Tutup

Muda

Sumpah Pemuda: Apakah masih Dimaknai oleh Pemuda?

28 Oktober 2017   18:50 Diperbarui: 28 Oktober 2017   18:54 1008 1 0
Sumpah Pemuda: Apakah masih Dimaknai oleh Pemuda?
suumpah-59f46e4112ae941c5d098a92.jpg

"Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."


oleh Ditta Shabrina Suhada


89 tahun sudah berlalu sejak 28 Oktober 1928. Yang patut ditanyakan sekarang adalah, apa kita masih memaknai arti Sumpah Pemuda?

Atau kita hanya sekedar bersembunyi di balik layar, menikmati indahnya kemerdekaan, tanpa mempedulikan lagi perjuangan di baliknya?


Hati saya cukup terenyuh mengingat kembali isi dari Sumpah Pemuda yang begitu sakral, memuat pengakuan dan janji para pemuda untuk senantiasa bersatu dalam satu "Indonesia". Karena pada kenyataannya, Indonesia yang saya lihat sekarang ini masih penuh dengan kondisi "membeda-bedakan".

Perpecahan karena perbedaan pendapat justru masih menjadi pemandangan yang biasa.

Saya di sini tidak ingin membahas spesifik satu atau dua masalah yang hingga kini masih ramai. Saya di sini hanya sekedar mengajak teman-teman untuk kembali merenungkan arti Sumpah Pemuda, utamanya arti persatuan, yang kerap terucap dari mulut, tetapi pada kenyataannya kurang dipedulikan. Apa memang itu persatuan yang kita maksud? Bersatu dalam kata-kata, bercerai dalam sikap.

Terlebih, era digital membuat persatuan itu sebenarnya lebih mudah untuk digapai, di mana dapat dikatakan tidak ada lagi sekat antar ruang. Tapi apa benar keuntungan ini sudah kita manfaatkan dengan baik?

Jujur, saya pun masih cukup ragu dengan diri saya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai kontribusi untuk Indonesia?

Saya rasa hal paling sederhana adalah dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Apa teman-teman yakin bisa merasakan berada di posisi orang lain dengan pendapat berbeda? Padahal bisa saja jika kita semua berbicara dengan tenang, kita akan dapat saling mengerti dan akhirnya saling menghargai.

Di sini, secara teori kita sebaiknya berusaha mengerti latar belakang dari pendapat orang lain, tidak egois, mencegah terjadinya cek cok dalam suatu perbedaan pendapat. Tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi yang mungkin sebenarnya tidak juga baik untuk kita?

Menjadi seorang pemuda adalah menjadi bagian penting dari Indonesia. Pemikiran pemuda adalah salah satu hal yang memiliki porsi besar bagi keputusan yang dibuat oleh negara. Tetapi saya pribadi memperhatikan bahwa pemuda di zaman sekarang ini cenderung apatis dan "iya iya aja". Padahal, bahkan kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh pemuda.

Sebagai mahasiswa sendiri, sudah sepatutnya kita menjadi "agent of change" yang senantiasa berusaha membuat perubahan ke arah yang lebih positif, dan tentunya hal ini juga harus dimulai dari diri kita sendiri. Tetapi, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak boleh menyalah gunakan status kita di masyarakat, yang terkadang malah bisa menimbulkan kembali perpecahan. Kita harus pandai menyikapi hal yang tengah terjadi, dan kita harus bisa pandai memilih tindakan yang akan kita lakukan.


Saya percaya bahwa dengan memulai perubahan positif, bersatu, dan memaknai Sumpah Pemuda adalah satu dari sekian banyak kontribusi kecil yang dapat kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan yang selama ini mungkin hanya sekedar kita nikmati.

Dan saya percaya, teman-teman yang membaca tulisan ini siap untuk memaknai arti dari perjuangan dan janji para pemuda di masa lampau.