Mohon tunggu...
Renita Yulistiana
Renita Yulistiana Mohon Tunggu... Literasi

Gerakan Suka Baca -- Yayasan Taman Baca Inovator

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pandemi Dilawan-Menyayang Relawan

12 September 2020   17:40 Diperbarui: 12 September 2020   17:39 60 9 1 Mohon Tunggu...

Setidaknya, selalu ada sekitar 50 relawan baru dengan semangat yang senada berkegiatan bersama Gerakan Suka Baca (GSB), per tiga bulan sekali dalam acara Wisata Edukasi--yang sering kami panggil sebagai kakak asuh. Kini, mudah merekrut lebih banyak dari segi jumlah. Namun, dari segi semangat? Jangankan 50 relawan, mendapati 5-10 relawan saja sudah Alhamdulillah sekali.

Semua karena pengaruh berubahnya kebiasaan masa pandemi. Sementara disuguhkan perdebatan yang tiada henti soal membela sektor ekonomi atau kesehatan diri antara pemerintah pusat, daerah, dan mereka yang memiliki kedudukan tinggi--tapi kerjanya b aja, bahkan "mepet" dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sepertinya, menulis keresahan yang dialami komunitas seru juga nih.

Menurut Etienne Wenger, pengertian komunitas adalah kelompok sosial yang memiliki habitat lingkungan dan ketertarikan yang sama dalam ruang lingkup kepercayaan ataupun ruang lingkup yang lainnya. 

Nah, kalian sudah merasakanlah ya. Betapa banyaknya komunitas bertebaran di Indonesia. Jangankan skala Indonesia. Satu daerah saja, sudah beragam fokusnya. Belum lagi gerakan sosial yang dibuat di dalamnya. Ada yang fokus di pilar pendidikan, kesehatan, lingkungan, seni, literasi, dan masih banyak lagi.

Komunitas dan gerakan sosial ini, atau sering dijuluki gerakan akar rumput (grassroot). Banyak yang akhirnya membawa dampak positif bagi lingkungan, karena jarang ditunggangi "kepentingan". Jika ada penilaian berdasarkan Indeks Prestasi dan saya menjelma sebagai seorang dosen. Tanpa ragu akan memberikan cumlaude kepada para pejuang komunitas, apalagi ditandingi dengan kinerja menteri di kabinet sekarang.

Bisa bisanya kinerja "paduka yang terhormat" yang digaji dan harusnya mewakili rakyat, malah kalah gesit dengan para relawan yang hanya diupah dengan kata terima kasih atau sebuah tag serta mention dalam sosial media. Sudah berapa banyak coba, gerakan peduli covid-19 yang diusung komunitas? Salah satu referensinya, kalian bisa lihat dalam website Indorelawan.

Namun, masa pandemi ini bukan berarti komunitas dipermudah "keadaan" untuk mengadakan aksi sosial. Justru, komunitas juga mendapat jatah tantangan yang berat. Mereka dipaksa untuk kreatif dan inovatif. Memutar otak dengan cepat dan memodifikasi semua agenda kerelawanan dalam bentuk virtual. Jika, masih ingin tetap aktif berkegiatan.

Apakah mudah? Sebanding bertebaran banyaknya aplikasi yang dapat digunakan. Sebagai pengurus salah satu komunitas dan anggota di salah tiga komunitas, yang berbasis kegiatan lapangan. Saya rasa, ini sangat sulit. 

Kegiatan relawan tatap muka sangat berbeda jauh dengan virtual. Terutama semangatnya, beda sekali. Sebab, tidak ada interaksi langsung yang membuat kedekatan secara personal. Meskipun ada keuntungan lebih dalam kegiatan relawan virtual. Seperti, komunitas bisa lebih menjangkau relawan hingga pelosok daerah. Berkenalan dengan berbagai domisili. Tapi, kalau kedekatan tidak sampai di hati? Apakah tidak sayang?

Bagi saya, kegiatan relawan harus berkelanjutan dan berdampak. Minimal membawa dampak positif untuk relawannya sendiri. Hubungan komunitas dengan relawan bukan sebatas menuntut untuk berperan lalu menyelesaikan aksi, kemudian selesai. Tapi, juga harus ada feedback dan evaluasi. Bagaimana pelayanan komunitas terhadap relawan? Apakah sudah atau belum sesuai dengan harapan? Apakah sudah seimbang dengan yang diberikan komunitas ke relawan dan sebaliknya?

Kegiatan sukarela, bukanlah benda mati yang mudah dihitung secara quantity. Virtual dan tatap muka, apapun bentuknya. Sampai kapanpun, relawan tetap wujud kebaikan yang tak bisa terdeskripsikan.

Renita Yulistiana
Depok, 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x