Ada Cara Sehat
Ada Cara Sehat Blogger

Manusia yg kepo sama kesehatan, gaya hidup dan otomotif. Doyan juga nulis politik dan ponsel.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Ratna Sarumpaet, Perwira yang Berkorban atau Dikorbankan Dalam Strategi Catur?

10 Oktober 2018   09:04 Diperbarui: 12 Oktober 2018   21:23 788 2 0
Ratna Sarumpaet, Perwira yang Berkorban atau Dikorbankan Dalam Strategi Catur?
(Sumber: Pexels com)

Olahraga catur dan sekaligus permainan yang populer di kalangan masyarakat luas, sangat mudah dijadikan alternatif mengisi waktu luang. Biasanya masyarakat umum banyak bermain catur setelah pulang kerja dan memainkannya saat tengah malam. Dipilihnya catur saat malam punya beberapa alasan bagi beberapa masyarakat yang menjadi pengemar catur, salah satunya karena waktu masih dianggap terlalu pagi untuk tidur, jadi dipilihlah catur untuk menunggu waktu. Selain catur, tentu masih banyak pilihan masyarakat menunggu waktu untuk  tidur.

Dalam permainan catur terdiri beberapa elemen seperti raja, mentri dan perwira serta bidak, bermain catur untuk kelas warung kopi memang tidak memerlukan kesulitan yang besar, beberapa pedoman penting untuk bermain catur yang perlu diketahui, mulai dari aturan untuk pergerakan masing masing elemen, strategi dan analisa lawan. Hal ini tentu akan berbeda jika seseorang ingin menjadi catur profesional dengan gelas dan elo rating, selain sudah memahami standar dasar catur yang disebutkan diatas, perlu juga untuk mengenali setiap pembukaan yang di pakai lawan sebagai antisipasi.

Catur dan Politik
Bagi sebagian masyarakat, ada anggapan menyebutkan permainan catur mirip mirip dengan dunia politik, saya sendiri kurang mengetahui alasan yang paling tepat untuk mengaitkan olahraga catur ini dengan politik. Selain catur, beberapa olahraga lain seperti brigde dalam dunia ekonomi dan keuangan juga salah satu contoh jenis dianggap berhubungan dan digemari orang yang sukses di bidangnya.

Jika mengikuti anggapan masyarakat tentang catur dengan dunia politik, saya ibaratkan sosok Ratna Sarumpaet mirip mirip dengan perwira dalam papan catur, seperti gajah. Gajah yang juga populer sebutannya pluncur oleh masyarakat non master ini punya langkah cukup jauh, sama seperti mentri dan benteng dalam melakukan eksplorasi dan memasuki wilayah sendiri dan lawannya.

Sayangnya, Ratna Sarumpaet salah langkah dalam posisinya di permainan catur, sehingga menyebabkan blunder dan berujung menjadi cerita hoax. Seandainya hoax Ratna Sarumpaet benar terjadi seperti yang digembar gemborkan kubu lawan, gerakan Ratna sudah dapat dikatakan mulai melemahkan kekuatan pemain.

Aksi menarik simpati dengan cerita penganiayaan oleh orang tak dikenal, terlebih lagi emak emak yang menjadi wanita digambarkan lemah dibandingkan sosok pria, membuat Ratna Sarumpaet kebanjiran simpati. 

Selain itu juga mulai adanya gerakan untuk mendukung beredar di beberapa media sosial dan video youtube oleh tokoh politik di Jakarta, jika belum dihapus. Mereka politikus yang anggap saja memang punya hati mulia untuk membela kebenaran tanpa di embelin kepentingan tertentu.

Penonton Catur Yang Merasa Janggal
Masyarakat yang mendengar cerita penganiayaan terhadap sosok emak emak menarik banyak perhatian masyarakat luas, salah satunya dokter ahli bedah Tompi. Kecurigaan dokter bedah Tompi tentu bukan tanpa alasan, mengingat dirinya sudah lama menjadi dokter sehingga bisa membedakan logika dan kejanggalan saat melihat penampakan muka Ratna Sarumpaet yang lebam, akhirnya Tokoh Nasional Mahfud Md mendapat penjelasan analisis berdasarkan diagnosa Tompi.

Sampai di sini saya kagum dengan Mahfud Md, akal sehat masih digunakan menyikapi peristiwa ini. Analisa dr Tompi tentang kejanggalan yang dialami Ratna tidak berjalan mulus, sebab ada bantahan lain yang dilakukan profesi yang sama sama dokter, singkat cerita akhirnya masyarakat jadi bertanya tanya, siapa yang benar dalam diagnosa muka lebam Ratna Sarumpaet. 

Posisi dr Tompi jika saya ibaratkan dalam dunia catur, seperti penonton melihat perwira catur tidak menggunakan etika peraturan percaturan.

Untungnya, pihak polisi bergerak cepat menanggapi pemberitaan penganiayaan Ratna Sarumpaet, masyarakat memberi apresiasi besar unuk kepolisian dalam mengungkap kebohongan balik fakta. Banyak bukti penting yang berhasil dikumpulkan, sehingga Ratna Sarumpaet tidak dapat berkelit lagi.

Ratna berkorban atau dikorbankan ?
Masyarakat yang melihat Ratna Sarumpaet berbohong dengan cerita tentang dirinya, mulai menarik simpati dan berbondong bondong menjadi alergi dengan Ratna Sarumpaet. Saya kira sangat wajar masyarakat emosi, terlebih lagi setelah kompes Ratna yang mengakui bahwa penganiayaan atas dirinya adalah hoax.

Beberapa masyarakat mengadukan Ratna Sarumpaet, bukan hanya itu saja, kubu Prabowo yang semula membatalkan melaporkan dengan alasan tidak ingin menambah tekanan pada Ratna, akhirnya memutuskan untuk meneruskan laporannya ke Polda Metro Jaya.

Penyelidikan pihak polisi terkait hoax Ratna Sarumpaet sedang berjalan  pemanggilan saksi, hal ini akan membuat masyarakat tahu fakta sebenarnya hoax penganiayaan tersebut, Ratna sebagai perwira yang berkorban atau dikorbankan ? 

Menurut pendapat saya, ada kubu yang merasakan keuntungan jika hoax tidak terungkap atau  sebaliknya kerugian jika hoax ini terungkap. 

Namun semua kembali kepada masing masing kubu untuk menyadari, menggaet elektabilitas dengan cara berbohong pasti juga sadar sangat tidak baik pada pendidikan politik untuk masyarakat.

Sumber 1

Sumber 2

Sumber 3