Ken Hirai
Ken Hirai profesional

JIKA DIAM SAAT AGAMAMU DIHINA, GANTILAH BAJUMU DENGAN KAIN KAFAN. JIKA "GHIRAH" TELAH HILANG DARI HATI GANTINYA HANYA KAIN KAFAN 3 LAPIS, SEBAB KEHILANGAN "GHIRAH" SAMA DENGAN MATI (-BUYA HAMKA-)

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Politik Dua Kaki Partai Demokrat, Untung atau Buntung?

11 September 2018   19:32 Diperbarui: 11 September 2018   20:36 408 0 0
Politik Dua Kaki Partai Demokrat, Untung atau Buntung?
(tribunnews.com)

Jika pada pilpres 2014, Partai Demokrat menyatakan netral alias tidak mendukung Jokowi maupun Prabowo, maka pada pilpres 2019 Partai Demokrat memilih mendukung Prabowo. Tapi dukungan tersebut ternyata hanya setengah hati. Terbukti Partai Demokrat mengijinkan kader-kadernya di daerah untuk mendukung Jokowi.

Pilihan politik Partai Demokrat yang mengijinkan kader-kadernya di daerah untuk mendukung Jokowi merupakan strategi jitu untuk cari aman. Artinya, siapa pun pemenang pilpres, dipastikan Partai Demokrat akan kecipratan kue kekuasaan. Strategi yang sama pernah diterapkan oleh Partai Golkar di pilres 2014 lalu.

Meskipun secara resmi Partai Golkar mendukung Prabowo, faktanya banyak kader-kader potensial Partai Golkar lebih memilih mendukung Jokowi. Akibatnya mereka pun mengundurkan diri dan di pecat dari Partai golkar.

Dan kini, kader-kader Golkar pendukung Jokowi di pilpres 2014 lalu kecipratan kue kekuasaan. Luhut Binsar Panjaitan menduduki posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Begitu juga dengan Agus Gumiwang Kartasasmita yang sukses menduduki jabatan Menteri Sosial. Mereka adalah kader-kader Partai Golkar yang mendukung Jokowi pada pilpres 2014 lalu.

Kini strategi yang sama coba dijalankan oleh Partai Demokrat. Pilihan strategi politik dua kaki Partai Demokrat tentunya tidak mengejutkan. Seandainya UU Pemilu yang baru mengijinkan parpol untuk netral maka bisa diduga Partai Demokrat akan mengambil pilihan tersebut. Sayangnya, UU Pemilu yang baru mewajibkan parpol untuk menjadi pengusung capres-cawapres, tidak boleh abstain atau netral.

Maka setelah AHY gagal menjadi cawapres, pilihan 'terpaksa' Partai Demokrat menjatuhkan pilihannya mendukung Prabowo. Sebuah pilihan yang diiringi dengan drama 'mahar' ala Andi Arief.

Seandainya hubungan SBY dan Megawati baik dan cair, kemungkinan terbesarnya Partai Demokrat akan mendukung Jokowi. Selama ini komunikasi antara Jokowi-SBY dan AHY sangat baik. Satu-satunya kendala Partai Demokrat untuk bergabung pada koalisi Jokowi hanya karena sikap Megawati yang tetap 'dingin'.

Yang membedakan format pilihan politik dua kaki antara Partai Demokrat dan Partai Golkra, Partai Demokrat mengijinkan secara resmi kader-kadernya tanpa ada hukuman dan sanksi, sedangkan Partai Golkar tegas meminta kader-kadernya yang mendukung Jokowi untuk mundur dan dipecat.

Terlihat dengan jelas, tidak ada ketegasan sama sekali pada Partai Demokrat. Kita tunggu saja, pilihan politik dua kaki yang dipilih oleh Partai Demokrat akan menguntungkan atau justru buntung.