Ken Hirai
Ken Hirai profesional

JIKA DIAM SAAT AGAMAMU DIHINA, GANTILAH BAJUMU DENGAN KAIN KAFAN. JIKA "GHIRAH" TELAH HILANG DARI HATI GANTINYA HANYA KAIN KAFAN 3 LAPIS, SEBAB KEHILANGAN "GHIRAH" SAMA DENGAN MATI (-BUYA HAMKA-)

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Mampukah Erick Tohir Menggeser Politik SARA?

11 September 2018   12:20 Diperbarui: 11 September 2018   12:31 237 1 0

Erick Tohir pengusaha muda yang tajir mlintir resmi ditunjuk oleh Jokowi sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional. Dalam pengumuman penunjukkan Erick Tohir, Jokowi menyampaikan bahwa pemilihan Erick Tohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional karena selain sukses sebagai pengusaha muda, Erick Tohir juga memiliki banyak media, klub sepakbola dan klub basket.

Beberapa media mainstream yang dikuasai Erick Tohir adalah Republika, TV One, dan ANTV. Pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, Republika mampu mengantarkan Anies-Sandi sebagai pemenang. Sebagai media mainstream yang dipersepsikan selalu membela kepentingan umat Islam, tentunya Erick Tohir akan membawa Republika menjadi corong kampanye Jokowi. Bersama media mainstream lainnya seperti Metro TV, TV One, RCTI, Global TV, MNCTV, ANTV, I-News TV, Media Indonesia, Koran Sindo, Okezone dan viva.co.id  tentunya Republika akan bahu membahu memenangkan Jokowi.

Pertanyaannya, dengan menguasai hampir seluruh media mainstream mampukah Erick Tohir yang dijuluki sebagai cawapres 'stuntman' menggeser politik SARA. Selama ini politik SARA menjadi momok yang menakutkan setiap ada gelaran pilkada dan pilpres. Banyak yang mengatakan kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI 2017 lalu karena tersandung masalah SARA. Dalam berbagai survey yang digelar sebelum pencoblosan, Ahok unggul jauh dengan persentase lebih dari 60%. Tapi pada hari H pencoblosan, Ahok justru kalah telak. SARA menjadi biang kerok kekalahan Ahok.

Jika kita meluangkan waktu berselancar di dunia maya, polarisasi yang dipicu masalah SARA semakin tajam. Istilah Cebong untuk pendukung Jokowi dan Kampret untuk pendung Prabowo sudah menjadi viral. Netizen pun dipaksa mau menjadi Cebong atau Kampret. Rakyat terpecah belah dan sangat tidak sehat.

Kehadiran Erick Tohir dengan Republika nya diharapkan mampu meredam isu SARA. Jika selama ini Republika selalu memblow up berita-berita terkait gerakan tagar 2019 ganti presiden dan aktivitas alumni gerakan 212 mungkin bisa dihilangkan.

Bisa kita lihat, sejak Erick Tohir resmi ditunjuk sebagai Ketua Timses, berita-berita Republika mengangkat citra positif Jokowi. Tentunya hal yang sangat positif.