Doddy Poerbo
Doddy Poerbo

apalah arti sebuah nama

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Sabarlah Pak SBY, Pak Jokowi Memang Begitu

17 Mei 2018   01:50 Diperbarui: 17 Mei 2018   02:14 1821 2 3

Presiden RI ke-6 SBY bereaksi atas kritik Presiden Jokowi soal    mahalnya  harga BBM di wilayah Indonesia timur pada 3,5 tahun lalu.    Namun, karena  ada hal yang belum dijelaskan SBY, #SBYJelaskan jadi    viral.

Berikut tweet SBY:
Pak Jokowi intinya    mengkritik &  menyalahkan kebijakan subsidi utk rakyat &    kebijakan harga BBM, yg  berlaku di era pemerintahan saya. *SBY*
Saya    mengikuti percakapan  publik, termasuk di media sosial, menyusul    pernyataan Presiden Jokowi  yg salahkan kebijakan SBY 5 th lalu. Pak    Jokowi intinya mengkritik &  menyalahkan kebijakan subsidi utk    rakyat & kebijakan harga BBM, yg  berlaku di era pemerintahan saya.    *SBY*

Saya minta para mantan menteri & pejabat pemerintah di    era SBY, para  kader Demokrat & konstituen saya, TETAP SABAR.    *SBY*," kata SBY di  tiga cuitan pertamanya. Justru kita harus bersatu    padu. Juga makin rukun. Jangan malah cekcok  & beri contoh yg tak    baik kepada rakyat. Malu kita. *SBY*.
Tentu  saya bisa jelaskan.   Tapi  tak perlu & tak baik di mata rakyat.  Apalagi saat ini kita   tengah  menghadapi masalah keamanan, politik, &  ekonomi. *SBY*

Tweet yang terakhir inilah yang kemudian jadi viral. Tweet itu viral karena SBY, yang merasa dikritik, kemudian merespons lewat     Twitter. Namun SBY memilih menekankan kata 'tetap sabar' dan tak     menjelaskan secara detail argumennya.

Tagar SBYJelaskan ini    menjadi menarik sebab adalah sebuah penggambaran pemerintahan saat ini    lebih baik, pembandingnya adalah pemerintahan SBY, tak lain tujuannya    untuk meraih simpati publik atau politik pencitraan. Yang menjadi inti    permasalahan adalah apakah publik percaya dengan penggambaran   tersebut?.

Kalau  bicara perasaan, memang harus diakui membuat   tidak enak hati mantan  Presiden ini yang dinilai gagal walaupun   faktanya terpilih dua periode  hasil pemilihan langsung. 

Kalau   bicara pencitraan, bohongpun sah  sah saja karena pada dasarnya politik   tidak bersandar pada kejujuran  melainkan strategi. Mungkin semasa SBY   situasinya berbeda, pada waktu  itu fokusnya mengembalikan kedaulatan   keuangan bangsa kita yang  dikendalikan oleh IMF yang merupakan warisan   Orde Baru.

Pada  era  pemerinthan SBY, Indonesia berhasil  melunasi  hutang IMF dan buah dari  kedaulatan keuangan itu dinikmati  pemerintah  sekarang dengan  mengandalkan utang luar negeri untuk  membangun  infrastruktur ekonomi.  Dengan adanya pembangunan  infrastruktur ini  memperlancar distribusi  kebutuhan masyarakat.

Kita  sudah memiliki  pengalaman pahit pada  akhir masa Orde Baru, depresiasi  rupiah yang  begitu dalam menjadikan  Indonesia gagal bayar utang  sehingga harus  menjadi susuan IMF. Saat ini,  walaupun disikapi secara  optimis, hal itu  lebih kurang sama ketika Suharto menyatakan  begitu  optimis fondasi ekonomi  Indonesia cukup kuat  namun faktanya ambruk juga  dan menyerah kepada  IMF.

Menengok sejarah kepresidenan Indonesia, Sukarno bernasib tragis menjadi seorang tahanan "rumah" sampai akhir hayatnya, Suharto dicaci maki dan anaknya mewarisi tuntutan dan SBY hanya "disindir" oleh Jokowi tidak berhasil menstandarkan harga BBM di Papua. 

Mungkin perlu seorang penasehat yang dapat membuat hati tenang, sabarlah Pak SBY, Jokowi memang begitu, ingin menunjukkan Indonesia lebih maju, pembanding lebih maju ukuranya pemerintahan Bapak. Kalau publik ikut ikutan, pemeimpin memberi contoh cara menilai keberhasilan, lebih berhasil dari pemerintahan sebelumnya agar rakyat tenang dan tidak gaduh.

Tidak ada seorang pemimpin didunia yang mengaku pemerintahannya mengalami kemunduran, mundur tidaknya yang merasakan rakyat bukan karena ucapan pimpinan. Yang dirasakan saat ini, kebutuhan harga kebutuhan pokok mulai merambat naik yang dipengaruhi penguatan dollar Amerika Serikatt, bukan karena nilai tukarnya yang menurun, bahasa politiknya seperti itu.