Mohon tunggu...
Doddy Poerbo
Doddy Poerbo Mohon Tunggu...

apalah arti sebuah nama

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kisruh Freeport, Inilah Resiko yang Dihadapi Jokowi

25 Februari 2017   00:28 Diperbarui: 25 Februari 2017   03:32 1961 3 4 Mohon Tunggu...

Adalah Kapten Johan Carstenz mungkin saja tidak menduga apa yang dilhatnya dikemudian hari  akan menjadi sebuah tonggak sejarah ditemukannya harta karun yang tak ternilai yang saat ini menjadi perebutan antara pemerintah RI dan Freeport McMoran, sebuah korposari dari Amerika Serikat yang saat ini mengelola tambang harta karun di tanah Papua.

Catatan pertama tentang pegunungan salju ini adalah dari Kapten Johan Carstensz yang dalam perjalanan dengan dua kapalnya Aernem dan Pera ke “selatan” pada tahun 1623 di perairan sebelah selatan Tanah Papua, Tiba-tiba  jauh dipedalaman melihat kilauan salju dan mencatat di dalam buku hariannya pada tanggal 16 Februari 1623 tentang suatu pegungungan yang “teramat tingginya” yang pada bagian-bagiannya tertutup oleh salju. Catatan Carsztensz ini menjadi cemoohan kawan-kawannya yang menganggap Carstensz hanya berkhayal.

Dari catatn tersebut kemudian dilakukan ekspidisi penaklukan pegunungan bersalju itu, diantaranya ekspedisi Belanda yang terkenal dipimpin oleh Dr. HA.Lorentz dan Kapten A. Franzen Henderschee. Semua dilakukan dengan sasaran untuk mencapai puncak Wilhelmina (Puncak Sudirman sekarang) pada ketinggian 4,750 meter. Nama Lorentz belakangan diabadikan untuk nama Taman Nasional Lorentz di wilayah suku Asmat di pantai selatan.

Pada pertengahan tahun 1930, dua pemuda Belanda Colijn dan Dozy, keduanya adalah pegawai perusahaan minyak NNGPM yang merencanakan pelaksanaan cita-cita mereka untuk mencapai puncak Cartensz. Petualangan mereka kemudian menjadi langkah pertama bagi pembukaan pertambangan di Tanah Papua empat puluh tahun kemudian setelah tanah Papua dibebaskan Indonesia dari tangan Belanda yang didukung oleh Amerika Serikat di PBB.

Terlepas ada atau tidaknya kesepakatan rahasia dibelakngnya, Soeharto yang memimpin pasukan Indonesia yang berkonfrontasi dengan Belanda  kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno dan mengubah kiblat politiknya condong ke barat dalam perang dingin antara blok barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan blok timur yang dipimpin oleh Uni soviet.

Dari serangkaian perudingan dengan korporasi yang berbasis di Amerikat Serikat ini, akhirnya Freeport McMoran mendapatkan izin dari pemerintah Suharto  untuk meneruskan proyek tersebut pada tahun 1967. Itulah Kontrak Karya Pertama Freeport (KK-I). Kontrak karya tersebut merupakan bahan promosi memperkenalkan Indonesia ke luar negeri dan misi pertamanya adalah mempromosikan Kebijakan Penanaman Modal Asing ke Australia.

Sebelum 1967 wilayah Timika adalah hutan belantara. Pada awal Freeport mulai beroperasi, banyak penduduk yang pada awalnya berpencar-pencar mulai masuk ke wilayah sekitar tambang Freeport sehingga pertumbuhan penduduk di Timika meningkat. Tahun 1970 pemerintah dan Freeport secara bersama-sama membangun rumah-rumah penduduk yang layak di jalan Kamuki. Kemudian dibangun juga perumahan penduduk di sekitar selatan Bandar Udara yang sekarang menjadi Kota Timika.

Empat puluh tahun kemudian setelah hutan belantara  berubah menjadi wilayah eksploitasi kekayaan alam yang mendatangkan uang itu, rezim kekuasaan juga sudah berganti, undang2 minerba juga sudah diperbaharui, Freeport diminta untuk tunduk pada undang2 yang berlaku di Indonesia itu.

Agaknya tak serta merta Freeport Indonesia bersedia tunduk pada undang-undang itu dan oleh karenanya pemerintah melarang export konsentrat yang dibalas dengan isu pemecatan buruh. Mengenai rencana PT Freeport Indonesia yang akan membawa persoalan ke arbitrase, pemerintah menyatakan yakin akan menang.

Salah satu tuntutan Indonesia kepada PT FI adalah divestasi saham hingga 51 %, ini artinya Indonesia menginginkan pengendalian PT. FI berada ditangan Indonesia. Hal ini akan melihat pada sejarah keberadaan Freeport McMoran di Indonesia yang semula dimaksudkan sebagai promosi untuk menarik penanaman modal asing. Tak lain tak bukan tujuan divestasi saham mayoritas tersebut bertujuan untuk menasionalisasi PT. FI.

Terkait dengan tuntutan pemerintah tersebut, , induk usaha Freeport Indonesia, Freeport-McMoran Inc mengatakan akan mengurangi tenaga kerja, menahan investasi pertambangan bawah tanah, dan mengurangi produksi menjadi 40 persen dari kapasitas total agar sesuai dengan kapasitas yang dimiliki PT Smelting jika pemerintah tak segera mengeluarkan izin ekspor bagi perusahaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN