Mohon tunggu...
F. I. Agung Prasetyo
F. I. Agung Prasetyo Mohon Tunggu... Desainer Grafis dan Ilustrator

Cowok Deskomviser yang akan menggunakan Kompasiana untuk nulis dan ngedumel...

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Adakah yang "Kutu Loncat" seperti Saya?

26 November 2019   09:04 Diperbarui: 26 November 2019   21:23 475 5 2 Mohon Tunggu...
Adakah yang "Kutu Loncat" seperti Saya?
Ilustrasi pekerjaan. Sumber: Pixabay.com

Terus terang, saya mungkin bisa dikatakan 'kutu loncat', yakni orang yang gonta-ganti pekerjaan. Pada dasarnya saya menyukai loyalitas, namun ternyata terbentur suatu halangan yang menyebabkan saya memilih keluar kerja dan mencari lainnya. Bukannya jika tidak cocok mending keluar? Keluar ya keluar saja, ko repot.

*

Pekerjaan A.
Ada advertising (perusahaan iklan) yang saat ini telah tutup. Selama 3 bulan saya di perusahaan yang berada di dekat Plaza Marina tersebut, hasil karya desain saya belum tidak pernah tembus untuk dieksekusi ke dalam benda atau grafis final sebenarnya. Misalnya logo, desain gapura dsb. Karena itu saya mundur dan memilih mencari peluang lain dari segi teknis.

Pekerjaan B.
Saya lalu ditawari kerja oleh seorang teman sekelas kuliah saat sama2 keluar dari perkuliahan terkendala biaya. Diawali di sebuah digital printing di pusat Surabaya, lalu dipindah ke Malang disebabkan kekurangan tenaga (hanya satu orang—tidak seperti beberapa tahun terakhir ini yang punya 4 operator komputer/desain).

Di Malang ternyata jam kerjanya lebih tinggi, lebih ngoyo karena biasanya konsumen suka semaunya saja (maksudnya berubah pikiran), tapi dengan gaji lebih sedikit karena kebutuhan orang sana tidak banyak. Macam Indomie, satu kurang dua kebanyakan. Masa satu setengah?

Saya memilih keluar disebabkan ingin melanjutkan kuliah hingga lulus, jadi balik ke Surabaya.

Pekerjaan C.
Saya mendapat pekerjaan yang lumayan karena kebaikan seorang atasan yang saya ingat hingga kini; pekerjaan tersebut di developer perumahan.

Sebetulnya pekerjaannya tak terlalu sulit dan ada waktu buat pengembangan diri. Saya satu-satunya etnis Jawa di lantai 1 sedangkan lainnya Tionghoa. Tapi hal ini tidak lantas membuat saya merasa terintimidasi. Hanya... ada hal yang membuat saya terpaksa keluar: saya terserang depresi.

Ceritanya, saya mengenal seseorang sejak pertemuan di Malang. Saat pindah Surabaya, saya nyatain. Ditolak. Patah hati dong. Hal ini mungkin agak membuat down.

Tapi yang membuat seperti telah jatuh tertimpa tangga adalah adanya keributan di keluarga. Saya bentrok hebat dengan kakak saya. Begitu pula situasi keluarga tidak dalam ketenangan.

Saya juga masih dalam rangka down serta berusaha bangkit sejak puisi saya lenyap gara-gara harddisk yang terformat. Jadi belum sempat bangun oleh hal ini, ada dua hal di atas yang terakumulasi hebat. Umpama saya mengenal program macam Recuva saat itu mungkin tak terlalu dalam terpuruk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x