Mohon tunggu...
F. I. Agung Prasetyo
F. I. Agung Prasetyo Mohon Tunggu... Desainer Grafis dan Ilustrator

Cowok Deskomviser yang akan menggunakan Kompasiana untuk nulis dan ngedumel...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Kunjung Kuliner ke Lambe Toerah, Enak Moerah

29 Juli 2017   16:27 Diperbarui: 5 Agustus 2017   13:28 2648 2 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kunjung Kuliner ke Lambe Toerah, Enak Moerah
Lambe Toerah Cuk, pada siang hari. Lantai 2 depan yang terlihat kosong itu sekarang dibuat perpustakaan mini plus lesehan kecil / dokumentasi pribadi

Maka... hampir setengah harian pada Hari Minggu lalu (23/7) beberapa blogger terkumpul bersama Mbak Avy sebagai koordinatornya menjelajah dua tempat sekaligus buat Undangan reviewblogger kuliner. Lepas dari Royal Plaza, menuju ke Pusat KulinerLambe Toerah Cuk (Cuk disini punya kepanjangan: Culinary Kekinian---Suroboyo banget ya) di jalan Tenggilis Mejoyo 72 Surabaya dimana lokasinya tepat di belakang Hotel Ibis Style yang terletak di jalan Jemursari. Mungkin jarak tempuhnya kira-kira setengah jam perjalanan bermotor dari Royal Plaza. Tempatnya cukup strategis dengan dikelilingi perumahan, dan sekitar 1 km dari situ pun ada Universitas Surabaya serta Politeknik Stikom beserta angkatan mahasiswa/i-nya yang mungkin membutuhkan tempat nongkrong baru.

Bila yang khas di tulisan saya sebelumnya adalah makanan dan bumbu rempah ala timur tengah serta India, lalu apa yang khas di Lambe Toerah? Sepertinya... campur-campur sekaligus tempatnya. Campur-campur alias 'Gado-gado' disini berarti ada banyak lapak (dengan bentuk mirip lapak pedagang sayur/bahan lauk di pasar rakyat) dengan banyak menu yang dipajang bareng. Bagaimana sistemnya? Nampaknya pengunjung bisa langsung ke kasir untuk memesan makanan yang kemudian akan diteruskan (oleh kasir) ke masing-masing lapak, bukan dari lapak yang kemudian diteruskan ke kasir (menggunakan tiket) seperti beberapa pujasera lain. Setidaknya itulah yang tercantum pada keterangan di depan sebelum masuk ke dalam.

kru kasir Lambe Toerah Cuk. bisa langsung memesan dari sini / dokumentasi pribadi
kru kasir Lambe Toerah Cuk. bisa langsung memesan dari sini / dokumentasi pribadi
suasana di dalam, dipotret dari luar / dokumentasi pribadi
suasana di dalam, dipotret dari luar / dokumentasi pribadi
suasana dalam, dipotret dari Drink Corner / dokumentasi pribadi
suasana dalam, dipotret dari Drink Corner / dokumentasi pribadi
Melihat daftar harga makanan dan minuman dari keseluruhan lapak, tentu kita bisa menyimpulkan pasar mana yang dituju. Menurut Ibu Dewi yang bertindak sebagai Humas Lambe Toerah Cuk, kisaran harga pada Pusat Kuliner tersebut memang dibatasi dibawah 30ribu rupiah untuk para pemilik tenant yang bergabung. Ternyata respons masyarakat pun cukup bagus yang diawali dari saat pembukaan pada tanggal 9 Juli 2017 hingga para blogger berkumpul di sana hari itu; karena dari yang berhasil saya 'paksa' untuk mengaku (haha) yakni kru Lambe Toerah Cuk juga memberikan keterangan yang hampir sama: ramai hampir sepanjang waktu dari pagi hingga siang, yang mungkin ada jeda beberapa jam lalu dilanjutkan petang hingga malam harinya. Suasana 'jeda dari keramaian' ini mungkin cocok bagi mereka yang kurang suka kehebohan. Eh, tapi nanti saya menulis begini malah banyak introvert yang menyerbu pada jam itu. Ramai lagi jadinya :D

Lalu mengapa mengundang D Kadoor sebagai Tamu pada launching (bukannya seleb lain)? Masih menurut Ibu Dewi, D Kadoor ini menonjolkan sisi ceriwisnya, dengan bibir merah yang sesuai dengan brandLambe Toerah Cuk. D Kadoor ini juga cukup familiar dengan netizen terkait stylenya ini. Oh iya, ada beberapa orang yang menebak-nebak apakah nama Lambe Toerah Cuk ini terkait langsung dengan akun medsos Lambe Turah yang dikenal lewat gosip pedasnya itu. Ibu Dewi menegaskan tidak, yang kemudian memaparkan sejarahnya: Lambe Toerah Cuk ini lahir dari komunitas Harley Davidson yang ingin membuka sebuah tempat makan, sementara bila dinamai sejenis itu akan menimbulkan kesan 'mahal'. Tempat makan pada umumnya juga merupakan tempat berbincang, bergosip, atau semacamnya (asal mula Nge Lambe = 'bibir' yang mempunyai makna makan dan berbincang) sehingga membuatnya dinamai demikian. Sebagai brand di ranah pujasera, namanya pun telah masuk daftar paten.

ibu Dewi, humas Lambe Toerah Cuk / dokumentasi pribadi
ibu Dewi, humas Lambe Toerah Cuk / dokumentasi pribadi
sisa jejak Grand Opening Lambe Toerah Cuk / dokumentasi pribadi
sisa jejak Grand Opening Lambe Toerah Cuk / dokumentasi pribadi
Suasana yang membumi seperti ini mungkin bisa menarik perhatian banyak orang untuk menggelar pertemuan, reuni, dan lain-lain. Ibu Dewi juga memberikan penawaran menarik untuk acara kumpul-kumpul kolosal begini yaitu Es Teh gratis dengan peserta minimal 10 orang selama Promo dan direncanakan akan ada hal baru yang hadir setiap bulan di Lambe Toerah Cuk. Misalnya, kedepannya akan diusahakan live music akustik untuk menghibur pengunjung yang datang. Mungkin jadi mirip Pub ^_^ 

[*update: ternyata live music akustik ini pun telah tampil mulai tanggal 28 Juli (Jumat-Minggu) menjelang petang hari]

Lalu akan ada mesin kopi yang dapat memuaskan para pecinta kopi di Drink Corner. Jadi pada saat blogger incip-incip hari itu agaknya mesti menahan ngiler soal kopi ini, dan sebagian harus puas dengan Lemon Tea, Es Taro, serta Es Teh :D

Eh, tapi masih ada beberapa pilihan lain lho. Misalnya Es Jeruk Peras, Es Milo, serta Es Green Tea. Beberapa jenis minuman dingin ini juga tersedia dalam versi hangatnya. Anda yang tak biasa makan dengan minuman manis pun disediakan air mineral dingin serta teh tawar hangat atau dingin. Tak sampai satu minggu setelah para blogger kumpul di situ, muncul deh minuman Juice buahnya, jus timun... jus sehat. Telat :D
Dan pada Bulan Agustus menyambut Kemerdekaan NKRI akan ada minuman Jus Merdeka, Squash, dan Ice Blend [ Merdeka! :P ]

lapak bubur ayam dan kue cubit / dokumentasi pribadi
lapak bubur ayam dan kue cubit / dokumentasi pribadi
lapak 'Monster' dan 'Ayam Gebuk' / dokumentasi pribadi
lapak 'Monster' dan 'Ayam Gebuk' / dokumentasi pribadi
lapak Gresik Corner dan Siomay/Batagor/Ceker / dokumentasi pribadi
lapak Gresik Corner dan Siomay/Batagor/Ceker / dokumentasi pribadi
lapak Hungry Brayy yang mengusung Baked Potato dkk / dokumentasi pribadi
lapak Hungry Brayy yang mengusung Baked Potato dkk / dokumentasi pribadi
lapak soto ala Kendangsari / dokumentasi pribadi
lapak soto ala Kendangsari / dokumentasi pribadi
lapak Bu Vemy dan Mie Kluntung / dokumentasi pribadi
lapak Bu Vemy dan Mie Kluntung / dokumentasi pribadi
Bercerita soal ngiritnya, dengan uang seratus ribu kita bisa memesan makanan untuk 3-4 orang dengan kenyang (tergantung menu makanannya). Sementara untuk berdua, sepertinya kisaran 50ribuan pun cukuplah. Di Lambe Toerah Cuk ini ada sekilas citarasa kuliner Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur (yang sangat mendominasi daftar menu) hingga citarasa 'populer'. Saya merekomendasikan untuk menambah nasi putih saat pemesanan beberapa menu, karena beberapa menu tadi rupanya terlalu eneg (mblenger) untuk dinikmati tanpa salah satu bahan makanan pokok tadi. Misalnya Ceker Kuah yang cenderung mirip 'masakan rumahan' alias lauk makan keseharian. Chicken Grill (yang belakangan diganti nama menunya menjadi Monster Chick) yang mirip sate agaknya juga sama, menurut saya.

Dengan banyaknya jenis makanan pada Lambe Toerah Cuk ini, mungkin kita bisa memesan menu yang berbeda saat kembali datang dan memesan makanan berbeda lainnya di hari lain hingga semuanya rata dicicipi. Lalu bagaimana dengan rasanya? Memang cukup variatif dan tergantung selera kita saat menjajal satu-persatu. Sepertinya satu tempat ini mengakomodasi mereka yang menyukai citarasa gurih-asin hingga manis. Dan karena saking bervariasinya, maka menjadi terbatas yang bisa saya cicipi pada saat itu. Apalagi ditambah dengan kondisi kedatangan ke sana bukan dalam perut kosong. Maka keterbatasan itu menjadi berlipat dua. Jadi, saya mempersilakan para pembaca untuk melahap tulisan review dari blogger lain yang bercerita seputar Lambe Toerah Cuk ini demi melengkapi gambaran keseluruhannya.

Ada beberapa hidangan yang terlewat oleh saya setelah tersaji di meja. Misalnya: Bubur ayam, Mie kluntung, Rawon, Soto Daging, Baked Potato, Ayam Lodho, Nasi Krawu, serta Siomay. Sedangkan yang sempat saya cicipi dari kesemuanya adalah Lontong Kikil, Chicken Grill (Monster Chick), Kue Cubit serta Ceker Kuah tadi. Kebetulan, semuanya tak ada yang bikin kaget alias asing bagi lidah saya karena setelah dicicip semuanya terasa familiar dan menyatu dengan makan keseharian saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x