Mohon tunggu...
kemal abdur rasyid
kemal abdur rasyid Mohon Tunggu... Kemal

S1 Historical Science, S2 Middle Eastern Studies

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Melakukan Deradikalisasi Islam dengan Membentuk Masyarakat Pluralisme Inklusif dalam Konteks Indonesia

18 April 2021   01:34 Diperbarui: 18 April 2021   01:47 121 1 0 Mohon Tunggu...

Runtuhnya rezim orde baru yang otoritarianisme dan demoktratisasi di Indonesia berdampak pada kebangkitan politik identitas-identitas primodial, seperti identitas etnis dan identitas agama. Yang mengkhawatirkan adalah bangkitnya identitas keislaman dan masuknya faham internasionalisme islam seperti yang digagas oleh Ikhwanul muslimin dan Hizbut tahrir. Lalu bagaimana cara kita melawan faham internasionalisme islam tersebut yang membahayakan pluralism di Indonesia. 

Ada beberapa cara salah satu cara yang saya kritik adalah dengan membangkitkan semangat kelokalan atau menggunakan budaya lokal. Seperti mengutip kata-kata bung Denny Siregar dalam wawancaranya di youtube yang mengatakan 'anti virus radikalisme islam adalah budaya' belialu mengatakan dan beliau mengagumi cara seorang politisi golkar kang Dedi Mulyadi yang pernah menjadi bupati Perwakarta. 

Cara dalam melawan radikalisme dengan budaya, dalam wawancaranya beliau mengutip kata-kata Dedi Mulyadi, " permasalahan orang Sunda adalah kehilangan identitas sebagai orang Sunda, dan ketika mereka kehilangan akar mereka sebagai orang Sunda mereka akan dengan mudah dimasukan doktrin dari luar" "oleh sebab itu Dedi Mulyadi mengatakan kebangaan menjadi orang Sunda, karena hanya kebanggan kepada orang Sunda kebangggan kepada akar budaya yang bisa melawan radikalisme itu".  Oke lalu menimbulkan pertanyaan apakah benar begitu cara melawan radikalisme islam?

Jawabannya tentu TIDAK

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bung Denny Siregar dan Kang Dedi Mulyadi, pada dasarnya saya mendukung deradikalisasi islam, namun bukan dengan pendekatan budaya lokal atau budaya asli nusantara dan menumbuhkan kebanggan sebagai orang Sunda, Jawa, Dayak, atau papaun itu, bukan lah cara yang tepat untuk melawan radikalisme islam. ini memang bisa mematikan politik identitas umat islam agar tidak berorientasi pada keislaman namun berorientasi pada kedaerahan dan kesukuaan.

 Ini bukan lah cara untuk melawan radikalisme. Ada banyak sisi negatifnya jika melakukan pendekatan kebudayaan dan kebanggan menjadi orang lokal dalam melawan radikalisme islam, ini sama saja menghancurkan ideologi primordia dengan menumbuhkan ideologi primodial lainnya. Setelah itu jika masyarakat Indonesia bangga dengan akar budaya lokalnya ini akan menimbulkan problem kekacauan administratif, kita ambil contoh Jogjakarta dimana Jogjakarta adalah sebuah daerah istimewa yang dipimpin oleh Sultan dan warga Indonesia tidak bisa menjadi gubernur disana, hal tersebut pernah digugat mengenai persoalan derah istimewa Jogjakarta, namun ditolak oleh Mahkamah Konstitusi.

Namun yang menarik seluruh masyarakat Jogja mendukung status istimewa Jogjakarta dan mendukung kekuatan politik sulatan sebagai symbol feodalisme lokal yang masih berkuasa. Kenapa demikian kenapa masyarakat Jogja mendukung status istimewa itu dan melarang warga non Jogja menjadi gubernur Jogja? Ini karena kebanggan kepada identitas lokal! 

Dan ini bisa menimbulkan deskriminasi sosial dan politik kepada kaum pendatang yang dianggap bukan warga Jogja asli. Lalu kita lihat Bali, dengan kebanggaan sebagai warga Bali kebanggan lokalitas ada tuntutan dari seoarang politisi anggota Dewan Perwakilan Daerah Bali Arya Wedakarna untuk memperjuangkan daerah istimewa Bali. Jikaalau cara seperti ini digunakan untuk melawan radikalisme islam lama-kelamaan bisa muncul provinsi-provinsi baru yang berkembang karena masyarakat Indonesia bangga dengan identitas etnis dan daerahnya, seperti Nias dan lain sebagainya. Ini akan semakin menimbulkan sebuah kekacauan administarif. 

Selain itu dengan menumbuhkan kebanggan sebagai orang lokal bisa menimbulkan sikap xenophobic atau sikap anti terhadap budaya asing, tidak hanya budaya arab tapi juga budaya barat, budaya jepang, dan budaya korea yang sekarang sedang menajadi tren atau budaya populer anak muda di Indonesia. Selain itu dengan menumbuhkan sikap kebanggan menjadi orang lokal atau etnis-etnis tertentu, ini tidak akan bisa menciptakan masyarakat yang berbasis pada plurasime inklusif, memang yang terjadi dalam konteks Indoensia adalah pluralism ekslusif dimana keberagaman diakaui, akan tetapi hanya mengakui keberagaman budaya-budaya yang dianggap asli Nusantara. Berbeda dengan pluralism inklusif dimana keberagaman diakui dan tetap mengadopsi nialai-nilai budaya asing ayng diakomodasikan dan diakulturasikan dengan budaya-budaya yang dianggap lokal.

Lalu bagaimana seharusnya cara dalam melawan radikalisme islam atau ideologi internasionalisme islam. Pertama, jika kita ingin melakukan deradikalisasi islam pertama aqidahnya yang hurus kita bereskan. Basis aqidah atau pemaham kaum radikalis islam adalah takfirisme kecinderungan mengakafir-kafirkan orang yang tidak satu faham dengannya. 

Oleh sebab itu faham atau aqidah takfirisme ini lah yang harus dibereskan, dengan menggunakan bantahan aqidah lain. Untuk membantah argumentasi aqidah tertentu ya harus menggunakan aqidah lain juga dengan menggunkan faham aqidah yang bertentangan dengan faham takfirisme. Salah satu contoh aqidah yang hrus dikembangakan dalam melawan faham takfirisme ini adalah faham murji'ah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x