Mohon tunggu...
kelvin ramadhan
kelvin ramadhan Mohon Tunggu... Sleepy man

Kaum Burjois Jogja | Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM 2018 | Salurkan Pikiran Lewat Tulisan walau Masih Amatiran | Email : Kelvinramadhan1712@gmail.com |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tunawisma dan Kewajiban Rumah Ibadah

20 Juli 2019   20:36 Diperbarui: 22 Juli 2019   10:39 0 0 0 Mohon Tunggu...
Tunawisma dan Kewajiban Rumah Ibadah
mstar.com

Setiap malam sehabis pulang kampus, selalu saya dapati pemandangan yang kurang elok di pinggiran jalan protokol Jogja. Terdapat belasan hingga puluhan tunawisma yang sedang bersiap bertarung dengan dinginnya hawa bekas Gunung Merapi di malam hari. 

Kain-kain digelar di atas datarnya jalur pedestrian. Gerobak-gerobak penyambung hidup berjejer rapi di jalanan. Sementara, nampak mereka saling bercengkrama dengan kawan sesama tunawismanya. Mungkin itu adalah ritual wajib sebelum kantuk menjangkiti tiap-tiap dari mereka. 

Saya meyakini bahwa bukan hanya Jogja yang mempunyai pemandangan pelik seperti itu namun juga di kota-kota lain di Indonesia banyak kita jumpai pemandangan yang serupa. Karena penasaran, saya iseng-iseng mencoba mencari data tentang jumlah tunawisma di Indonesia secara keseluruhan. 

Hasilnya? Nihil. Sepertinya BPS kita sedikit abai dengan nasib para tunawisma. Buktinya? Data tentang jumlah tunawisma yang terbaru, saya dapatkan sudah 19 tahun yang lalu! Ya terakhir kali survei tunawisma dilakukan pada tahun 2000. Survei pada tahun tersebut menyebutkan bahwa jumlah Tunawisma di Indonesia sekitar 3 juta orang. 

Untuk sekarang, saya tak berani jamin jumlahnya semakin bertambah mengingat angka kemiskinan kita di tahun 2018 untuk pertama kalinya sejak 1999 mencapai single digit, yakni 9,83 persen. Akan tetapi bukan berarti saya meyakini angkanya telah berkurang. Tidak ada survei yang pasti tentang jumlah tunawisma saat ini.

Sudahlah, lupakan berapa jumlah pasti tunawisma saat ini. Masih ada yang lebih penting daripada itu, yakni bagaimana kita sebagai manusia yang "masih" punya rumah ini peduli terhadap mereka. Bagaimana manusia yang "masih" belum punya rumah itu bisa mempunyai tempat untuk sekadar tidur, lebih-lebih bisa memandikan diri mereka juga. 

Kemudian, entah kenapa tiba-tiba datang sebuah solusi yang sedikit kurang ajar sebenarnya. Yakni sesuai judul tulisan ini, rumah ibadah sebagai tempat penampungan para tunawisma tersebut. Mungkin karena saya sering menjadikan masjid kampus sebagai tempat tidur siang jadinya kepikiran hal tersebut. 

Terus mengapa kok saya tulis kurang ajar? Jelas karena rumah ibadah itu haruslah suci dan bersih dan adanya tunawisma diyakini akan mengotori lingkungan rumah ibadah tersebut. Akan tetapi, apakah kesucian rumah ibadah mengalahkan nasib mereka yang terluntang-lantung hanya untuk memikirkan tempat untuk tidur. 

Toh jika diatur sedemikian rupa, kesucian dari rumah ibadah tetap mampu terjaga. Toh juga para tunawisma tersebut hanyalah orang yang tidak punya rumah, bukan orang yang tidak punya akal. Percayalah, orang yang masih punya akal takkan pernah ingin mengotori "rumah" Tuhannya. Jika ada, mungkin patut dipertanyakan keberadaan akalnya. 

Saya tidak pernah menjumpai agama manapun yang mengajarkan untuk tidak peduli pada nasib orang-orang yang lemah. Pastinya tunawisma itu termasuk ke dalam golongan tersebut dan rumah ibadah adalah simbol utama bagi semua umat beragama. 

Namun, sampai sekarang belum saya jumpai rumah ibadah di agama manapun yang membuka diri untuk para tunawisma (kecuali di Inggris). Entah hanya untuk bermalam ataupun sekadar membersihkan badan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x