Mohon tunggu...
Eneng Nunuz R
Eneng Nunuz R Mohon Tunggu...

Blogger

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Baduy, Menyelamimu Sekali Lagi

3 April 2016   10:33 Diperbarui: 4 April 2016   15:32 0 1 0 Mohon Tunggu...

Lebih dari setahun berlalu kala terakhir kali saya berkunjung ketempat ini. Tepat minggu lalu, disela-sela kesibukan, terseliplah warna merah di kalender bulan Maret 2016 di hari Jumat. Waktunya kita berlibur. Saya langsung memutuskan untuk “mudik” ke Baduy. Saya ajak serta kedua teman saya yang kebetulah memang sedang membutuhkan liburan.

Entah untuk kali ke berapa saya berkunjung ke Desa Kanekes ini, maka dari itu saya menyebutnya “mudik”.  Suasana di Baduy sering membuat saya merindu untuk “pulang kampung”. Saya mengambil ponsel untuk menghubungi salah satu kenalan di Baduy Luar, mengabari mereka jika saya hendak kesana.

Jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang, ketika elf kami melaju meninggalkan terminal Cimarga, menyusuri jalanan yang tidak begitu mulus melewati perkampungan demi perkampungan hingga akhirnya tiba di Ciboleger. Sebuah kampung perbatasan yang juga berfungsi sebagai terminal pemberhentian kendaraan bermotor.

[caption caption="Selamat Datang di Ciboleger (dokumentasi pribadi)"][/caption]Saya menerima tas carriel saya dari seorang kondektur elf, dan langsung menyangkutkannya pada bahu-bahu yang sudah saya istirahatkan kurang lebih satu setengah jam. Kami berjalan menaiki tangga demi tangga, melipir sebentar ke warung makan, mengisi perut yang mulai keroncongan. Kami pun berpapasan dengan beberapa orang Baduy Dalam yang sepertinya tengah mengantar beberapa tamu.

Perjalanan kami lanjutkan, hingga pada saat memasuki gerbang selamat datang, saya membaca sepenggal tulisan larangan merokok tertanda Jaro Saija. Saya masih belum tersadar jika Jaro telah berganti hingga kenalan saya Orang Baduy Luar ini bercerita telah ada pergantian jaro lebih dari enam bulan yang lalu.

Sesampainya saya di rumah salah seorang kenalan di Kadu Ketug 3, kami disuguhi buah pisitan yang awalnya saya kira dukuh. Saya sibuk mencicipi pisitan, kemudian bertanya bedanya pisitan, kokosan, dan dukuh. Karena jujur, beberapa hari sebelumnya, saya sempat berdebat dengan seseorang mengenai buah-buah ini.

Saya asik mengobrol dalam bahasa sunda, yang mengakibatkan saya harus jadi translator untuk kedua teman saya. Yang dalam bahasa Indonesia kiranya begini obrolan kami.

“Kalau pisitan sama dukuh, bedanya kulit pisitan lebih tipis dari dukuh dan mulus ga ada titik-titik di kulitnya, getahnya lebih banyak, buahnya sedikit asam, dan bentuknya sedikit lonjong. Kalau dukuh itu lebih tebel kulitnya, buahnya lebih manis, bentuknya lebih bulat.” Ayah Kaldi menjelaskan

“Terus kang bedanya dengan kokosan?” tanya saya lagi

“Nah kalau kokosan beda lagi, warnanya sedikit kecoklatan”

“Agak kuning, coklat gitu ya kang?” jelas saya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
KONTEN MENARIK LAINNYA
x