Mohon tunggu...
Gunawan Wibisono
Gunawan Wibisono Mohon Tunggu... Administrasi - Palembang, Sumatera Selatan

puisi adakalanya menggantikan rembulan diwaktu malam dan hadir menemanimu di siang hari tatkala hatimu gundah maka aku adalah puisi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Dunia Paralel

23 November 2022   09:44 Diperbarui: 23 November 2022   09:56 76
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Di sini, ketika menggeliat di peraduan pagi yang cerah, secangkir kopi tubruk wangi dan sepiring pisang rebus telah menyapaku hangat setelah penat semalaman berupaya membunuhku, di waktu yang sama matahari tengah menatap terik di belahan bumi yang lain membaca peluh-peluh cinta yang mencengkeramnya kokoh dalam langkah-langkah yang sesak lalu berkerumun jatuh dan mengering.

Di sisi yang berbeda, tidak kemana-mana, masih di dunia kita yang sama, alunan musik cinta mendayu-dayu merayu sepasang nafsu yang kesiangan pulang pada bilik syahwat yang terengah, padahal sang isteri tercintanya menanti di rumah dengan kesabaran sayang.

Masih di sini, di sisi waktu lainnya dalam perjalanan hari yang sama, lantunan firman tuhan menghijaukan daun, menumbuhkan dahan dan ranting baru, mengokohkan pohon dengan akarnya yang kian menghujam bumi, lalu buah-buahnya yang harum ranum bergelantungan menggoda ingin menghimbau para musafir lalu

Di sini, di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, kita merajut kasih, menyisih peluh, menyimpan selingkuh dan merajut do'a-do'a sekaligus, segalanya atas nama cinta.   

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun