Mohon tunggu...
Frengky Keban
Frengky Keban Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Penulis Jalanan.... Putra Solor-NTT Tinggal Di Sumba Facebook : Frengky Keban IG. :keban_engky

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Mampukah Kaum Muda Meruntuhkan Tembok Politik Kaum Tua?

13 Januari 2019   22:31 Diperbarui: 14 Januari 2019   08:36 751
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(instagram/faldomaldini)

Hal ini bisa diamini jika melihat sepak terjang para politisi selama ini. Kehadiran mereka tidak lebih dari pelengkap di gedung anggota terhormat.

Belum lagi kemalasannya dalam mengemukakan pendapat di forum resmi dan deretan cerita negatif lainnya menjadi pembuktian bahwa wakil rakyat kita belum mampu memahami tugasnya sebagai pelayan bagi masyarakat dengan baik. 

Kopiah dan jas menjadi topeng paling sempurna menutupi semuanya. Begitupun dengan janji-janji yang sering disampaikan. Lebih banyak nolnya.

Kehadiran kaum muda di titik ini seyogianya ingin mematahkan semua stigma negatif para wakil rakyat ini. Mencoba menghentikan hegemoni dan kuatnya arus politisi lama.

Namun hal itu dipastikan tidak akan mudah. Kaum muda akan berhadapan dengan tembok kepentingan partai yang begitu besar. Bak melawan arus, kaum muda butuh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas untuk sampai ke tepian pantai tujuan besarnya tanpa harus melupakan partai pengusungnya.  

Iya... kehadiran kaum muda haruslah dimaknai komprehensif dan holistik, bukan hanya parsial semata karena jika itu terjadi kita sedang menabur garam di laut. Kaum muda harus diberi awasan lebih awal sebagai ruang bagi mereka lebih banyak bekerja ketimbang bicara.

Percaya diri boleh tapi jangan besar kepala, karena politik itu keras. Memukul dan menghancurkan dengan pelan tapi sakitnya terasa sepanjang hidup kita.

Tidak disangkal bahwa partai politik masih memainkan peran penting di titik ini. Partai politik bukan hanya punya kuasa menentukan siapa yang berhak memakai gerbongnya tetapi juga masih berhak menentukan siapa yang duduk nantinya. 

Kok bisa? Kan sekarang sistem pemilihannya menggunakan metode Sainte Lague atau sistem pembagian kursi dilakukan dengan pembagian bilangan ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya?

Sekali lagi ini politik. Tidak ada politik yang jujur. A bisa berubah jadi B dalam hitungan menit. Dan kaum muda akan berada di pusaran ini juga nantinya. 

Pesimisme kadang mengiringi. Begitupun keraguan. Bagi penulis hal ini adalah sebuah kewajaran yang sudah barang tentu tidak bisa disangkal lagi bahwa kehadiran kaum muda di titik ini bisa jadi hanya untuk meraup suara partai semata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun