Mohon tunggu...
Alex Kawilarang
Alex Kawilarang Mohon Tunggu... Penggiat Masyarakat

Hobi dengan program kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dwi Soetjipto dan Fitnah Dari Mafia Migas

19 Mei 2017   02:34 Diperbarui: 19 Mei 2017   03:39 5333 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dwi Soetjipto dan Fitnah Dari Mafia Migas
Sumber : Mimbarbangsa.com (Jokowi angkat Faisal Basri Ketua Tim Reformasi Migas)

Publik tentu faham dan tahu, Dirut Pertamina yang memiliki kinerja “moncer” dan telah kembalikan harga diri Indonesia dengan kalahkan Petronas malah dicopot. Alasannya juga mengada-ada, yaitu perseteruan antara Dirut dan Wadirut Pertamina. Lucunya, saat Dirut dan Wadirut dicopot, ealaahhhh.... saat ini jabatan Wadirut dihilangkan. 

Bahkan jabatan Wadirut ini praktis hanya bertahan 5 bulan sejak diangkatnya Ahmad Bambang sebagai Wadirut di bulan Oktober 2016, lalu Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang sama-sama dicopot di bulan Februari 2017. Jadi fungsi Wadirut yang dibentuk adalah untuk mengganggu kinerja dan kepemimpinan Dirut. Lalu muncullah berita bahwa mantan Wadirut Pertamina akan dijadikan staf khusus Menteri BUMN Rini Soemarno. Klop sudah, dan semakin terang benderang.

Pertanyaannya mengapa Dwi Soetjipto harus dicopot?

Bacalah (googling kata kunci “Ari Soemarno dan Petral”) maka akan muncul berita dari tribunnews.com tanggal 28 September 2014 Saat itu Rini Soemarno sebagai Ketua Tim Transisi Jokowi menunjuk dan mengumumpkan Ari Soemarno sebagai Ketua Kelompok Kerja Energi dan Anti Mafia Minyak dan Gas. Kontan saja berbagai pihak langsung menolak, karena Ari Soemarno sebelum menjadi Dirut Pertamina pernah menjabat sebagai Dirut Petral sebagaimana dipaparkan Tim Riset Global Future Institute Ferdiansyah Ali. 

Tentu publik jadi bertanya “dalam rangka membongkar ataukah menyembunyikan Mafia Migas”. Untunglah Jokowi cerdik dan tidak mau dibohongi Rini, maka ditunjuklah Faisal Basri sebagai Ketua Tim Reformasi Migas. Maka tancap gas dilakukan Faisal Basri, diselingi dengan pressure di media, Faisal Basri terus membongkar boroknya Mafia Migas dan Petral. Rekomendasinya paling lambat September 2015 Petral harus dibubarkan.

Pasca pembubaran Petral, sudah muncul suara-suara Dirut Pertamina akan diganti. Pastilah, siapa mau kehilangan uang lebih dari Rp 15 triliun pertahun, yang pastinya uang tersebut mengalir sampai jaauuuhhhhhh.......dan kemana-manaaaaa.......

Strategi Mafia Migas disusun dan mulai dengan melakukan perombakan komisaris. Sosok Sugiharto yang mantan Menteri BUMN dan mengerti betul bisnis BUMN, serta membackup total program reformasi Pertamina yang digagas Dwi Soetjipto digarap lebih dahulu. Sugiharto percaya Dwi Soetjipto, pastilahh.... silahkan di Googling, siapa yang mengangkat Dwi Soetjipto menjadi Dirut Semen Gresik tahun 2005. Jawabannya saat Menteri BUMN adalah Sugiharto?. 

Kenapa Sugiharto percaya sama Dwi Soetjipto yang merupakan Dirut Semen Padang lalu dinaikkan tinggi sekali menjadi Dirut Semen Gresik yang merupakan induk (holding dari Semen Padang dan Semen Tonasa). Lihat hasilnya Semen Gresik yang saat ini Semen Indonesia mencatatkan kinerja joosss sampai tahun 2014, yaitu laba naik 1.000% dari Rp 500 miliar menjadi Rp 5,6 triliun. Kapasitas pabrik semen meningkat 99% dari 16 juta ton/th menjadi 31,8 juta ton/th. Menjadi BUMN pertama berstatus multinational company (yang memberi julukan Menteri BUMN Dahlan Iskan) karena mencaplok Thang Long Cement Company Vietnam, sekaligus aksi tersebut menjadikan Semen Indonesia menjadi perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara mengalahkan Siam Cement dari Thailand.

Sugiharto masih Komisaris Utama Pertamina sebelum Dwi Soetjipto diangkat Jokowi menjadi Dirut Pertamina. Tentu saja, masuknya Dwi Soetjipto ke Pertamina maka lengkaplah “Duet Maut” Sugiharto & Dwi Soetjipto. Maka tidak salah transformasi Pertamina langsung berjalan mulus sejak awal Dwi Soetjipto menjabat.

Sugiharto diganti Tanri Abeng, sebagian publik sudah menduga akan terjadi sesuatu di Pertamina. Karena sosok Tanri Abeng memiliki rekam jejak yang kurang bagus. Benar Tanri Abeng pernah dijuluki manajer 1 miliar (gaji tertinggi di jaman itu). Namun saat Tanri Abeng menjabat sebagai Menteri BUMN, ditangan dialah Saham Semen Gresik dijual ke Cemex Meksiko yang memicu demonstrasi besar-besaran, termasuk tuntutan spin of Semen Padang dan Semen Tonasa. 

Lalu Tanri Abeng diganti Laksamana Sukardi, di era Laksamana Sukardi sebagai Menteri BUMN ditunjuklah Dwi Soetjipto di tahun 2003 sebagai Dirut Semen Padang untuk “menjaga Semen Padang agar tetap bersatu dengan Semen Gresik”. Misi Laksmana Sukardi berjalan sukses, kinerja Semen Padang moncer dan makin bersinergi dengan Semen Gresik. Lalu Menteri BUMN Sugiharto mengangkat Dwi Soetjipto menjadi Dirut Semen Gresik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x