Analisis

Awas Kegagalan Terulang, Gagal Pimpin PSSI Edy Rahmayadi Ingin Pimpin Sumut

14 Juni 2018   18:44 Diperbarui: 14 Juni 2018   18:53 625 0 0

Hampir dua tahun, Edy Rahmayadi memimpin Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Namun, kinerja organisasi sepak bola itu tak kunjung membaik pula, apalagi prestasinya.

Hal itu diakui sendiri oleh sang komandan. Edy mengakui bahwa dirinya telah gagal memimpin PSSI. Bahkan dia hendak mencari orang yang akan mampu mengurus PSSI nantinya.

Pernyataan itu disampaikan sendiri oleh Edy tepat setahun pasca dirinya terpilih dalam KLB PSSI pada tahun 2016 lalu.

Sayang, di tangan pria yang juga menjabat sebagai Pangkostrad tersebut, PSSI belum banyak menunjukkan hasil positif. Target terdekat yang saat itu ia canangkan, yakni emas Sea Games, gagal direngkuh. Timnas hanya mampu meraih perunggu.

Bukan hanya itu, kondisi kompetisi Go-Jek Traveloka Liga 1 juga belum menunjukkan perbaikan berarti--bila tidak ingin disebut semrawut. Khususnya, sejak pertengahan musim hingga mendekati akhir

Belum lagi, semakin banyaknya suporter yang harus meregang nyawa ketika menonton tim kesayangannya.

Selain soal prestasi, Edy juga mengakui kegagalannya membangun sistem kerja di PSSI yang lebih baik. Dia juga mengaku gagal menghadirkan kompetisi sepak bola nasional yang sehat juga sportif.

Mendapati kondisi seperti itu, masyarakat sendiri sangat kecewa dengan PSSI di bawah kepemimpinan Edy Rahmayadi. Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) sebagai salah satu wadah para pencinta sepakbola nasional sangat mendukung bila Edy Rahmayadi mundur dari PSSI.

Sebagian besar pecinta bola di tanah air juga berharap PSSI segera melakukan perombakan besar. Reformasi PSSI harus segera dilakukan untuk membenahi permasalahan sepakbola Tanah Air.

Fakta di atas kontras dengan langkah politik Edy Rahmayadi sendiri. Di tengah kacau balaunya PSSI, dia justru memutuskan untuk maju sebagai Cagub dalam Pilkada Sumut 2018.

Bila memimpin organisasi persatuan olahraga tertentu saja carut marut, apalagi nanti akan memimpin masyarakat yang majemuk dengan segala kompleksitasnya.

Cita-cita Edy untuk memajukan Sumut tampaknya perlu dieliminisasi sementara. Pasalnya, kapasitas dan kapabilitasnya memang tak cakap.

Dalam memimpin itu faktor pengalaman menjadi sangat penting. Bahkan dari sanalah rekam jejak kepemimpinan seseorang bisa dinilai. Dengan cacatnya rekam jejak Edy Rahmayadi itu, kita bisa mengambil sikap untuk Pilkada Sumut mendatang.

Di sisi lain, menjadi ciri khas Edy, dirinya sangat percaya diri, ambisius, dan oportunis-pragmatis, dalam berkampanye seolah dirinya pasi terpilih dan mampu memimpin Sumut. Padahal rekam jejaknya di PSSI saja sudah pasti gagal.

Untuk masyarakat Sumut, bila tak ingin wilayahnya dijadikan ajang coba-coba oleh ambisj politik Edy Rahmayadi, sebaiknya dipikir ulang. Lihat PSSI saat ini sebagai hasil kerja kepemimpinan Edy Rahmayadi.