Mohon tunggu...
Kathman
Kathman Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tesendatnya Regenerasi Petani

14 Mei 2019   20:26 Diperbarui: 14 Mei 2019   20:37 0 1 0 Mohon Tunggu...
Tesendatnya Regenerasi Petani
Foto: tirto.id

Pertanian yang menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perkembangan populasi manusia di Indonesia, penyedia pangan serta lapangan pekerjaan memiliki masalah serius dalam benih, irigasi, alat mesin pertanian, pupuk, serta penyuluh lapangan (Sumber Daya Petani).

Permasalahan ketahanan pangan dan modernisasi sektor pertanian ialah masalah penting dan membutuhkan penanganan serius, sebab sekitar 60% penduduk Indonesia dan mayoritas penduduknya tinggal di desa-desa dan menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.

Dapat diasumsikan pertanian bangsa ini sudah tidak menguntungkan lagi bagi para petani. Selain bidang pertanian tidak menjanjikan dari segi keuntungan, secara status sosial masih dipandang sebelah mata. 

Hal itu terlihat dari generasi tua yang mulai enggan bertani begitupun dengan generasi muda yang mulai kehilangan gairah meneruskan usaha orang tuanya untuk menggarap lahan pertanian.

Target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tahun 2045  mungkin menjadi mimpi apabila permasalahan regenerasi petani terus dibiarkan dana tidak respon. 

Mungkin beberapa tahun kemudian Indonesia mengalami keterpurukan berupa krisis pangan, dan Indonesia akan menjadi sebuah bangsa agraris yang mengimpor beras dan menggantungkan ketahanan pangan dari negara lain.

Penyebab lain yang menjadi faktor pemicu regenerasi petani muda tersendat ialah semakin berkurangnya lahan pertanian produktif yang tergerus karena proses konversi menjadi tempat wisata, pemukiman, perkantoran, pusat perbelanjaan, dll.

Beberapa cara yang dilakukan Kementrian Pertanian dalam menyelesaikan permasalahan itu  dengan pendampingan mahasiswa demi meningkatan produksi pangan. Kedua, Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP). Ketiga, pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMKPP) serta transformasi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.