Mohon tunggu...
KASTRAT BEM FEB UGM
KASTRAT BEM FEB UGM Mohon Tunggu... Kabinet Riang Bersinergi

Akun Resmi Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UGM

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Kopi Indonesia: Dari Budaya Ngopi Menjadi Bisnis "Go International"

15 Juli 2019   08:55 Diperbarui: 15 Juli 2019   09:20 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kopi Indonesia: Dari Budaya Ngopi Menjadi Bisnis "Go International"
Kastratpedia#10 oleh Jonathan Farez S. (Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB 2019/Ilmu Ekonomi 2017)

"Among the numerous luxuries of the table...coffee may be considered as one of the most valuable. It excites cheerfulness without intoxication; and the pleasing flow of spirits which it occasions...is never followed by sadness, languor or debility." -Benjamin Franklin

Mendekati akhir Juni lalu, tepatnya senin (24/6), salah satu jaringan gerai kopi terkenal asal Indonesia, 'Kopi Kenangan', memperoleh pendanaan sejumlah US$20 juta atau sekitar Rp288 milliar (kurs Rp14.400/US$ 1) dari Sequoia India.

Sebelumnya, bisnis gerai kopi yang didirikan pada 2017 oleh Edward Tirtanata dan James Prananto sempat memperoleh pendanaan awal (seed funding) dari Alpha JWC Ventures sebesar US$8 juta pada Oktober 2018. Dana yang diperoleh Kopi Kenangan akan digunakan untuk mengekspansi bisnisnya ke berbagai negara di regional Asia Tenggara. 

Co-Founder merangkap CEO Kopi Kenangan, Edward Tirtanata, juga menyebutkan bahwa Kopi Kenangan berkeinginan untuk membuka 150 gerai baru hingga akhir 2019 dan menargetkan membuka hingga seribu gerai di seluruh Indonesia pada 2021. Hingga saat ini, gerai Kopi Kenangan memiliki delapan puluh gerai di delapan kota. 

Kopi Kenangan mampu menjual rata-rata sejumlah satu juta cangkir kopi setiap bulannya dan meraup Rp18 miliar/bulan (asumsi penjualan kopi dengan harga termurah), meningkat pesat dari enam belas gerai dan 175.000 cangkir per bulan pada Oktober 2018.

Fenomena pendanaan awal (seed funding) kepada gerai kopi grab n go atau on-demand ini juga pernah dilakukan oleh East Ventures, SMDV, Pavilion Capital, dan lainnya kepada Fore Coffee sebesar US$9,5 juta. 

Gerai kopi yang didirikan oleh Elisa Suteja ini merupakan salah satu gerai kopi yang peka dalam kebutuhan teknologi, terutama internet. Pendanaan ini digunakan oleh Fore Coffee untuk meningkatkan investasi mesin dan inovasi online-to-offline sebagai upaya mendorong efisiensi biaya produksi kopi.

Kedua jaringan gerai kopi di atas telah meluncurkan aplikasi mobile untuk memenuhi permintaan konsumen dengan lebih efisien. Customer kedua gerai dapat mengakses dan memesan kopi favorit dengan lebih cepat. 

Kedua gerai kopi juga menyediakan voucher-voucher menarik di platform tersebut. Pelanggan juga memperoleh pilihan untuk take away atau pesanan dikirim sampai ke tempat yang ditentukan. 

Di tengah berjalannya era Internet of Things, gerai kopi on-demand atau grab n go menjadi suatu konsep gerai dengan tujuan untuk memenuhi keinginan segmen konsumen yang tidak mampu menghabiskan waktunya untuk duduk dan bercengkerama di coffee shop. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7