Mohon tunggu...
Dwi Okta Nugraha
Dwi Okta Nugraha Mohon Tunggu... Blogger gado-gado Medioker di http://www.kasamago.com | dwioktanugroho.wordpress.com | twitter: @kasamago

Penggemar Hamster Sejati, Penyayang Kura Kura, Penikmat Unggas , Penonton Film, dan Pecinta tanaman.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Saat nya mereformasi anggota tetap Dewan Keamanan PBB

25 Oktober 2015   14:17 Diperbarui: 25 Oktober 2015   14:19 0 0 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="theiranproject.com"][/caption]

Dalam usia nya yang ke 70 Tahun, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) masih diterpa serangkaian problem dunia, klimaksnya adalah berkecamuknya Perang Suriah yang seolah adalah gambaran kecil dari apa yang disebut Perang Dunia karena melibatkan kaki tangan banyak Negara.

Salah satu kritikan dan tuntutan bagi PBB agar peran nya sebagai penjaga kedamaian dunia lebih luwes, efektif, terpercaya dan bebas dari pengaruh kekuasaan suatu Negara atau pihak adalah desakan untuk mereformasi Dewan Keamanan (DK) PBB ,dimana Hak Veto bagi anggota Tetap Dewan Keamanan PBB yakni Amerika, Rusia, Perancis, Inggris dan Tiongkok dianggap hanya menjadi alat yang dimanfaatkan demi kepentingan Negara nya sendiri.  Dunia menjadi saksi adanya bukti kuat penyalahgunaan hak veto terkait mengatasi gejolak konflik di seluruh dunia semua, jika konflik menguntungkan atau merugikan pihak yang didukung salah satu anggota tetap DK PBB, perang Hak Veto pun berlangsung. DK PBB bukannya sebagai pemadam kebakaran justru menjadi penyiram bensin ke tengah kobaran api. Konflik tak kunjung usai dan kini sesame Anggota DK PBB pun tengah terlibat perang maut dalam konflik Suriah, Kubu Pro Presiden Bashar Al Ashad, Rusia, China melawan Kubu anti Presiden Assad, Amerika, Inggris dan Perancis.

Adanya Privileage kekuasaan yang diberikan oleh PBB terhadap anggota DK PBB sudah tidak lagi menguntungkan seluruh anggota nya, kekuatan PBB seolah disetir oleh anggota DK PBB, keadilan dan kekuasaan merata bagi 193 negara anggota PBB terasa mandul. Sudah saatnya PBB terutama Dewan Keamanannya di reformasi total, formasi negara anggota tetap DK PBB sangat sangat tidak mewakili dunia internasional, aroma para pemenang Perang Dunia masih terasa kental dan itulah kenyataan bahwa Anggota DK PBB adalah Negara pemenang Perang melawan Nazi Jerman dan Jepang saat Perang Dunia II. Dari kelima Negara anggota, separuhnya digenggam eropa, wakil Asia hanya China dan itu masih belum cukup, lalu tak ada wakil dari benua Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Asia Barat.

Tantangan Perubahan

Siapapun yang telah berada dalam puncak kekuasaan, kenyamanan dan keuntungan tentu tak ingin dirinya diusik bahkan disingkirkan sekalipun, itulah rasanya yang menghantui Negara anggota tetap DK PBB terutama Amerika Serikat yang didaulat secara tak resmi sebagai mbah nya DK PBB. Perombakan anggota tetap DK PBB dengan bertambahnya jumlah anggota tetap DK PBB berpotensi kuat melemahkan kekuasaan Amerika di kursi DK PBB, sebuah keunggulan utama AS selain kekuatan militer nya.  Anggota Gerakan Non Blok (GNB) seperti Indonesia dan Malaysia telah sejak lama menuntut agar porsi anggota tetap DK PBB ditambah, sehingga keterwakilan kawasan di DK PBB menjadi lebih Representatif. India, Jepang, Indonesia adalah sedikit dari banyak Negara yang dipandang “Sudah Selayaknya” duduk di bangku Anggota Tetap DK PBB. Jumlah penduduk yang besar, kekuatan ekonomi dan militer yang berpengaruh dikawasan adalah bukti tak terbantahkan bahwa mereka layak berada di DK PBB.

Selama tak ada niatan dari kelima anggota tetap DK PBB untuk menerima tuntutan merubah formasi DK PBB, maka niatan Negara-negara anggota PBB lainnya dan Gerakan Non Blok akan tetap menemui jalan buntu. Sulit rasanya mengharapkan keikhslasan pemegang Hak Veto DK PBB membagi bagikan kekuasaan yang selama ini menjadi lambing keistimewaan dan keangkuhan Negara-negara tersebut di panggung PBB.

Di Usia nya ke 70 Tahun, Sudah seharusnya PBB mau menerima berbagai usulan dan tuntutan yang bertujuan mengubah, menyeleraskan kinerja PBB menjadi lebih baik lagi, Reformasi DK PBB adalah hal yang sudah termasuk mendesak karena dari banyak sector, masalah keamanan adalah black hole terbesar PBB. Sejak didirikan pada 24 Oktober 1945 lalu, Dunia telah mempercayakan kedamaiannya pada DK PBB, namun justru kepercayaan itu sering dimanfaatkan oleh Negara-negara tertentu yang memiliki keistimewaan. Inilah moment yang tepat bagi PBB untuk berbenah, jangan sampai kepercayaan yang telah rusak ini justru semakin rusak, menjauh dan pada akhirnya akan hilang untuk selama lamanya.

|Kasamago.com