Rizki Subbeh
Rizki Subbeh Pedagang dan Blogger

Dekonstruksi Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Penggendong Pot Tua

14 Maret 2018   00:49 Diperbarui: 14 Maret 2018   01:00 257 2 0

"Untuk apa dia muncul?" semua warga resah dengan sosok tersebut.
warga pun gisruh dengan penampakan itu, beberapa kalangan membicarakan sosok aneh yang setiap malam mengelilingi rumah, hingga kampung terdekat juga gempar dengan kemunculannya. 

Ketika itu Malam pekat telah menjemput belahan dunia, udara dingin yang mengalir seperti air, menyebar keseluruh arah menusuk jantung kota. Jam dinding berdering kencang di rumah warga menunjukkan tengah malam, disisi lain terdengar ketukan besi di tiang-tiang listrik pinggir jalan hal itu akan memberi pesan terhadap warga, hari telah tengah malam. 

Pamong desa yang berjaga di pos-pos ronda yang siap melihat sekitaran desa dengan beberapa segerombol pemuda. Burung hantu bersengger di pohon beringin yang sudah berumur tua, suasana malam semakin runyam kala itu. Setiap malam warga desa Sari bergilir menjaga malam, bukan hanya kampung itu saja beberapa desa juga sibuk menjaga kala malam datang. 

Gosip yang melanda desa Sari, desa Grigis, dan dua desa lainnya yaitu desa Plamen dan desa Durin sangat meresahkan warga sekitar. Banyak warga yang membicarakan gosip itu, meski tidak tahu kebenarannya. Ada yang bilang desa Grigis telah melihat sosok misterius yang setiap malamnya selalu mengitari rumah warga, jika ada yang melihat, sosok itu akan menghilang di pekatnya malam dalam kuburan, penjaga makam umum pada desa Grigis selalu terkecoh meski telah menemukan dan membututinya. 

Sosok itu selalu memberi keresahan setiap malam, dia mengitari rumah kerumah, berjalan dengan pelan menelusuri jalan yang sepi. Salah satu warga yang menyebarkan gosip itu adalah pak Darwin, seorang warga Grigis yang melihat pertama kali sosok itu, ketika itu pak Darwin yang pulang dari kantor desa kira-kira pukul 23.30. telah memergoki sosok hitam yang ingin menyebrangi jalan, laju sepeda motornya langsung terhenti, sosok itu tiba-tiba menyebrangi jalan dihadapan sepeda motor pak Darwin. 

Wajah yang tidak jelas membuat bulu kuduknya merinding, dia hanya melihat juba hitam yang menyelimuti, rambutnya sudah memutih terlihat diselala-sela kain hitam yang menutupi kepalanya dengan bau harum bunga kamboja, Yang terlihat jelas adalah pot bunga yang sangat tua karena sangat kusam, catnya sudah mulai luntur mungkin sudah lama dia gendong atau mungkin pot itu memang sudah berumur tua. 

Sosok misterius sudah mulai termakan usia hal itu hanya perspektif pikiran lelaki separuh baya saja karena tubuhnya yang kurus membuat muncul pemikiran seperti itu. Pak Darwin yang gemetar langsung tancap gas setelah sosok itu menyebrang dihadapannya yang langsung menuju dalam kuburan kemudian menghilang. Rumahnya cukup jauh dari tempat pertemuan sosok misterius itu. "buk, bukkk, buuukkk, bukain buk bapak datang cepat buka?" suara panik dan gemetar membuat kaget bu. Erni. "iya pak sabar, kenapa sampean harus teriak-teriak seperti orang panik" cetus ibu. 

Pak Darwin pun masuk rumah dengan tergesah-gesah sambil memasukan sepeda motor dia menceritakan kepada istrinya. "barusan bapak ini melihat sosok hitam yang menyebrangi jalan dihadapan sepeda bapak, mangkanya bapak teriak-teriak memanggil ibu", bu Erni pun langsung tercengang mendengar cerita dari suaminya. "sosok hitam gimana pak? 

Sampean jangan mengada-ngada to pak". "bagaimana bapak mengada-ngada to buk, wong bapak melihat dengan sendiri, sosok hitam itu tiba-tiba menyebrangi tanpa menoleh kanan kiri, dia pun langsung hilang masuk pemakaman umum disana, siapa dia bapak tidak tau, yang jelas bukkk, sosok itu menyeramkan". 

Jam dinding sudah berdering menunjukkan pukul 00.00, hari pun sudah berganti minggu, bu Erni dengan suaminya mencoba tidak membicarakan kejadian yang di alami Pak Darwin. Mereka pun langsung menuju ketempat tidur. Pagi itu telah menjemput warga desa Grigis, terlihat matahari yang mengintip suasana diselah-selah daun awan putih.

Burung pun berkicau menjemput sinar matahari yang mulai menghangatkan suasana, setangkai mawar siap menyapa melihat sinar menyebarkan bau khas dari bunga itu sendiri, matahari telah menyapa beberapa makluk hidup yang membuat semua siap menyonsong pagi itu. Akhir pekan ini memberi suasana gembira, bukan hanya pada orang-orang berdasi yang libur kerja, anak-anak sekolah pun menikmati libur kali ini. Terlihat asap putih yang keluar dari beberapa rumah yang sibuk menyiapkan makan pagi untuk keluarga, sedangkan para suami menunggu hidangan dengan bersantai membaca koran yang ditemani dengan segelas kopi diteras rumah, ada beberapa bapak yang sibuk membersihkan halaman. 

Remaja-remaja yang berkeliaran menyambut pagi yang indah tak terlihat setangkai awan putih mendung dilangit sana. Pak Darwin yang tengah membaca koran terhenti ketika melihat kawan kerjanya menyapa didepan rumah, "pak, waduhh akhir pekan yang santai ya?" gurauan terlontar dari Pak Sio sambil mengeluarkan senyuman. "eh pak Sio, sini mampir ke gubug saya ini, mumupung hari libur" jawab Pak Darwin. 

Seketika itu pak Sio mampir dan membicarakan beberapa persoalan yang telah dihadapi di kantor Desa, sesekali mereka membicarakan keluarga tak terasa pembicaraannya telah menjalar pada kejadian semalam yang di alami oleh Pak Darwin. Mulai itu berita mengenai sosok misterius menyebar keseluruh desa Grigis yang membuat keresahan, banyak orang yang mengetahui sosok itu namun mereka juga mengalami apa yang dirasakan oleh keluarga Pak Darwin, sosok itu seperti ingin memberi tahu saja, namun ketika di ikuti selalu menghilang di pekat hawa kabut malam di kuburan.

Seminggu kemudian desa tetangga telah geger dengan penampakan sosok misterius, kasus ini sama dengan desa Grigis namun ada perbedaan jika pada desa Grigis sosok itu dengan jubah serba hitam berbeda dengan desa Plamen sosok itu muncul dengan menggunakan jubah putih. 

Pot tua yang di gendong menjadi ciri khas sosok aneh dan misterius, kala itu seorang warga yang tengah berkeliling melihat sekitaran desa telah dikejutkan dengan kemunculan orang aneh, kemunculan tersebut terjadi di dekat pemakaman umun desa Plamen sama persis dengan kejadian di desa Grigis.

Seperti layaknya desa Grigis kasus ini membuat gempar semua warga Plamen, banyak warga yang mendefinisikan sosok itu hanyalah halusinasi saja mungkin terjadi karena capek atau ngantuk. Tidak disangka setelah beberapa warga yang membicarakan kasus itu melihat dengan mata kepalanya sendiri sehingga warga tidak mau membicarakan sosok yang tidak dikenal tersebut. Keresahan dan kekawatiran warga desa Plamen membuat staf desa harus memberi solusi, hingga tercuat rencana akan di adakan ronda bergilir disetiap sudut desa. 

Warga pun menyutujui setelah Kepala Desa menyampaikan rencana ini, setiap malam desa Plamen di sibukkan oleh ronda bergilir dengan tujuan agar sosok tersebut bisa tertangkap dan berhenti meresahkan warga. Berita ini tercium oleh Pak Darwin dan warga desa Grigis lainnya, hingga mereka tidak habis fikir kenapa sosok misterius harus muncul juga didesa tetangga, kejadian yang dialami sama dengan desa Grigis. 

Sosok itu muncul seperti sudah disusun dengan rapi, minggu awal bulan terjadi di desa Grigis, minggu kedua terjadi di desa Plamen terus berulang setiap bulan. Sebulan kemudian saudara Pak Darwin mendatangi rumah kediamannya, melihat kondisi dan menyambung silatuhrahmi agar tali persaudaraan tetap terjaga. Namanya Pak Kusen warga desa Durin dia menjadi Kepala Desa setelah terpilih menjadi Kades satu bulan yang lalu. Perkumpulan keluarga besar Pak Darwin memang sudah biasa mereka lakukan, mereka bercengkrama dengan berbagai ragam hidangan yang disajikan. 

Perbincangan tak lepas dari suatu perkumpulan, mereka selalu menceritakan berbagai macam persoalan yang terjadi, ketika itu Pak Dawrin menceritakan hal aneh yang terjadi dalam desa Grigis dan desa Plamen, awalnya Pak Kusen tidak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh saudara sepupunya itu. Selang beberapa jam setelah perbincangan sosok misterius selesai, Pak Kusen mulai sadar apa yang terjadi di desa Grigis dan desa Plamen telah terjadi di desanya juga. 

Kali ini yang merasakan hal yang sama adalah desa Durin dengan desa Sari, akan tetapi kejadian sosok itu menggunakan jubah yang berbeda minggu yang berbeda. Desa Durin mengetahui sosok itu ketika minggu ketiga, sedangkan desa Sari minggu keempat, jubah yang di pakai juga berubah, jika desa Grigis jubah hitam dan desa Plamen jubah putih lain halnya dengan desa Durin dan desa Sari yang memakai jubah hijau dan coklat. Sepertinya dalam satu bulan sosok itu mengitari empat desa tetangga, dengan aroma melati yang membuat merinding ketika seseorang melihatnya. 

Desa Sari dengan Desa Durin sudah bekerja sama mengenai masalah ini, akan tetapi kasus ini tetap saja masih berguling hingga empat bulan lamanya. Warga masih bertanya-tanya apa motif sosok itu muncul di tengah malam dengan menggendong pot bunga dengan bau harum bunga kamboja dan jubah yang berbeda dalam setiap desa yang dimasukinnya, jika pencuri mengapa barang-barang warga masih utuh tidak ada kehilangan sama sekali, jika sebuah penampakan bagaimana bisa penampakan yang sama juga terjadi di desa-desa tetangga, tapi kenapa setiap orang yang melihatnya selalu ketakutan? disisi lain bau harum kamboja menjadi picu utama ketakutan warga yang melihat. 

Bahkan desa Grigis dan desa Plamen yang terkenal kedamaian dan ketentraman menjadi resah akan kejadian aneh yang melanda saat itu. Sosok penggendong pot tua itu menjadi momok warga, ketentraman yang terjalin pada desa menjadi rancu karenanya, semua warga setiap malam berkeliling desa akan tetapi selalu tidak berhasil menangkap. Sesekali melihat tetapi rasa takut membuat sosok penggendong pot tua berhasil meloloskan diri. Hingga para normal yang ada di ke empat desa tersebut juga turut mencari kebenaran dan membongkar siapa dibalik jubah itu. 

Semua hasil tetap nihil, sosok itu terus berkelana hingga enam bulan lamanya. Kecemasan staf desa akan keresahan warga membuat panik, hingga Pak Darwin mengusulkan kasus ini harus bekerja sama dengan desa-desa yang mengalami kasus yang sama. Suatu ketika akhir pekan telah terjadi rapat besar yang melibatkan staf-staf desa yaitu desa Grigis, desa Plamen, desa Durin dan desa Sari. 

Semua staf di undang termasuk Kades, rapat ini membahas tentang kasus yang di alami oleh warga setiap desa, yang menghasilkan kerjasama dengan mengadakan ronda secara besar-besaran, yang nanti akan melibatkan seluruh warga desa yang bersatu dalam setiap minggu yang terjadwal pada sosok penggendong pot tua yang muncul di setiap desa artinya ronda ini akan terjadi pada minggu pertama di desa Grigis hingga minggu selanjutnya di desa lain.

Minggu pertama ronda itu dilakukan di Desa Grigis seluruh warga di desa yang bersangkutan berkumpul dan ditambah lagi dari warga desa Plamen, desa Durin dan desa Sari dan beberapa staf desa juga melakukan ronda. 

Usaha itu tidak ada hasil, hingga minggun pertama sudah terlewatkan, giliran desa Plamen beronda diminggu kedua pada bulan Desember 2010. Berbagai macam kalangan berkumpul di desa Plamen, setiap jam mereka berkeliling di setiap sudut desa. Ada yang melihat sosok itu, akan tetapi selalu bisa menghilangkan diri, sepertinya dia bisa menyatu dengan kabut yang menyelimuti makam di desa Plamen. 

Warga selalu terkeco dengan penggendong pot tua tersebut, berbagai usaha sudah di lakukan namun hasil tetap saja  seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Desa Durin pun menjadi kalang kabut meski banyak bantuan warga dari beberapa desa, hasilnya pun masih tetap sama, hingga para staf memiliki rencana untuk mengepung di kuburan desa Sari di minggu ke empat. 

Kala itu malam yang hening berselimut kabut tebal di pemakaman umum desa Sari, dingin yang menghentak menerjang kulit warga mencabik-cabik pori-pori. Burung hantu yang berdiri di beringin sebelah tugu pemakaman dengan bunyi khas membuat malam semakin seram, bulu kuduk pun berjoget pada kulit setiap warga yang menjaga di sekitar kuburan. 

Terlihat jubah coklat yang melintas ingin menyebrang jalan menuju ke tugu pemakaman, warga pun bersiap-siap meski dalam hatinya masih tergetar rasa takut melihat sosok itu memasuki kuburan desa Sari. 

Dalam sekejap warga memasuki makam setelah sosok penggendong pot tua masuk dengan pelan-pelan. Masih tercium bau bunga kamboja di sekujur tubuhnya, entah apakah dia makhluk halus atau siapa, yang jelas bau bunga yang menyelimuti membuat bulu kuduk dan hati warga resah. Ratusan warga mengitari sosok penggendong pot tua, awalnya tidak ada yang berani mendekat bahkan mendekapnya. Tubuh warga seperti lumpuh tidak ada tulang yang diselimuti daging tubuh, semua lemas berkeringat, keringat dingin mengucur pada setiap warga yang mengelilingi sosok aneh tersebut. 

Penggendong pot tua itu sudah mengetahui jika dirinya sudah terkepung, tetapi dia tidak berusaha melawan, hanya terdiam terhenti seperti orang kebingungan. "ampun,ampun" suara rintihan tangis nenek Lea yang telah terkepung oleh warga di pemakaman desa Sari, duduk di atas nisan dengan wajah yang masih tertutup oleh jubah coklatnya. 

Ketika itu pula Kades desa Sari membuka juba pada mukanya, terpental semua melihat seorang nenek tua yang ada pada juba tersebut. Dia pun di seret pada pos ronda, seorang warga yang kesal sesekali menggebukinya, Pak Kades langsung melarang akan penghakiman ini, dia juga melihat sudah keriput termakan usia nenek penggendong pot tua itu. 

Mendekat secara perlahan Pak Kades mulai menanyakan sedang apa beliau berkeliaran di tengah malam melintasi kuburan dengan menggendong pot tua di dadanya. Dia sudah berumur 78 tahun, nenek Lea masih bisa beraktifitas menusuri jalan desa dari desa satu ke desa yang lain, hidupnya hanya sebatangkara anak cucu tak menghiraukan nenek Lea, suami yang setiap saat menemani dalam perjalanan langkah nenek telah berpulang terlebih dahulu. 

Nenek penggendong pot tua tinggal di bawah jembatan penghubung desa Grigis dengan desa Plamen, kesehariannya bekerja mencari bunga kamboja pada tengah malam untuk di keringkan di siang hari kemudian dijual seminggu sekali, hasil yang diperoleh hanya cukup untuk makan sehari-hari.