Muda Pilihan

Masih Perlukah Memendam Kebencian dalam Diri?

19 Mei 2018   11:02 Diperbarui: 19 Mei 2018   11:09 444 0 0
Masih Perlukah Memendam Kebencian dalam Diri?
Bukan untuk Membenci - okezone.com

Tidak ada yang menyangka, dampak dari kebencian dalam diri bisa menghasilkan perbuatan yang tidak terpuji. Tidak ada yang menyangka pula, jika kebencian dalam diri ini berubah menjadi kebencian kolektif. Akibatnya bisa memicu terjadinya konflik sosial. Bibit kebencian harus dihilangkan dalam pikiran. Sentimen SARA yang sempat muncul, seringkali didasarkan atas sentimen agama. 

Padahal, sudah sejak dulu di Indonesia, keberagaman bisa hidup rukun dalam harmoni. Sudah sejak dulu berbagai agama bisa hidup saling berdampingan. Lalu, kenapa saat ini muncul ujaran kebencian? Kenapa kita saling membenci?

Belakangan, ujaran kebencian begitu masif ke wilayah politik. Kenapa? Maklum, saat ini Indonesia sedang memasuki tahun politik. Banyak orang tak bertanggung jawab memanfaatkannya, untuk membuat  masyarakat terpecah. Pesta demokrasi semestinya dimaknai sebagai momentum untuk saling adu gagasan, saling adu solusi, agar pemimpin yang terpilih benar-benar bertanggung pada konstituennya. 

Pemimpin juga harus mempertanggungjawabkan ketika masih di dunia, hingga di akhirat kelak. Untuk itulah, perlu ada mekanisme yang benar, agar bisa mendapatkan pemimpin yang benar. 

Jika masyarakat tertipu daya dengan ujaran kebencian yang ditujukan kepada paslon tertentu, dikhawatrikan pemimpin yang terpilih adalah pemimpin pembenci, bukan pemimpin yang penuh cinta kasih.

Kebencian berlebihan nampaknya juga terjadi di wilayah lain. Kali ini kebencian disebarkan oleh kelompok intoleran dan radikal. Kelompok ini dari dulu terus menebarkan bibit kebencian, agar keinginannya untuk mendirikan kekhilafahan bisa diwujudkan. Output kebencian dari kelompok ini biasanya berbentuk propaganda kebencian, persekusi, hingga aksi teror. 

Kebencian ini dialamatkan kepada pihak-pihak yang tidak sepaham dengan mereka. Bahkan, pemerintahan yang mendukung sistem demokrasi, juga dianggap sebagai bagian dari thogut. Karena itulah, aksi teror terus bermunculan. Mereka terus bermetamorfosa sesuai perkembangan zaman.

Akibat kebencian terhadap simbol barat, kebecian terhadap polisi, kebencian terhadap pemerintah, pekan kemarin publik kembali dikejutkan dengan maraknya ancaman dan teror bom di berbagai tempat. Bahkan, yang membuat merinding adalah, ledakan bom di Surabaya dilakukan oleh keluarga. Ada ibu-ibu yang secara sadar dan sengaja, mengajak anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri. 

Akibat kebencian yang membabi buta, banyak nyawa tak berdosa melayang. Anak yang seharusnya bisa menikmati kehidupan ini, terpaksa harus meninggal akibat kebencian yang tak terkendali dari orang tuanya.

Lalu, jika melihat contoh-contoh diatas, masihkah kita saling membenci? Kenapa kita tidak mau belajar dari sejarah? Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing. Kenapa kita tidak saling mencintai dan menghormati antar sesama?  Bukankah Indonesia ini dipenuhi keindahan keanekaragaman suku, budaha, bahasa dan agama? Kenapa kita tidak membayangkan jika keberagaman itu bisa berkumpul menjadi satu, akan membuat negeri ini semakin indah? 

Karena itulah, para pendiri negeri ini menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, dan menyatukan keberagaman melalui semangat bhineka tunggal ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Lalu, kenapa masih ada sebagian orang yang saling membenci? Mari di bulan Ramadan yang suci ini, kita saling introspeksi agar bibit kebencian itu terus terkikis dari negeri ini.