Mohon tunggu...
Kartika V.
Kartika V. Mohon Tunggu...

journalist | creative writer | gadget | animated movies | drama series | not a feminist | Christ follower

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Styrofoam: Wadah Murah dengan Segudang Bahaya

18 November 2016   11:13 Diperbarui: 19 November 2016   10:38 0 4 3 Mohon Tunggu...
Styrofoam: Wadah Murah dengan Segudang Bahaya
Wadah makanan styrofoam yang praktis (sumber: theintellectualist.co)

Dalam keseharian kita sudah akrab menggunakan wadah makanan dari material styrofoam. Misalnya pada acara jamuan makan, pembungkus jajanan pinggir jalan, sampai dengan resto siap saji yang memakai styrofoam untuk mewadahi makanan. Material ini selain memang murah, keberadaannya juga mudah dijumpai di pasaran.

Banyak orang yang sudah mengetahui akan efek penggunaan styrofoam bagi kesehatan dalam jangka panjang. Namun, masyarakat seolah terjebak dalam situasi minimnya pilihan jenis material lain yang memiliki kriteria murah dan mudah ditemukan.

Apa saja bahaya yang mengintai pembungkus makanan dari styrofoam ini?

Styrofoam digolongkan sebagai jenis plastik (polimer) berdasarkan susunan kimianya. Banyak keunggulan pada styrofoam sebagai pembungkus makanan yang memudahkan bagi para penjual makanan, yaitu murah, tidak gampang bocor dan ringan.

Styrofoam untuk bungkus makanan merupakan material yang sama untuk bahan pelindung barang elektronik.
Styrofoam untuk bungkus makanan merupakan material yang sama untuk bahan pelindung barang elektronik.
Di balik semua kepraktisan itu, tersimpan bahaya bagi kesehatan manusia, yakni kandungan monomer stirena, benzena dan formalin, yang masing-masing diketahui merupakan zat karsinogenik (pencetus kanker) dan sejumlah dampak negatif lainnya bagi kesehatan.

Stirena dapat dengan mudah terlepas ke dalam makanan yang berminyak, berlemak atau mengandung alkohol, terutama ketika makanan dalam keadaan panas. Akibatnya dapat menimbulkan kerusakan pada sum-sum tulang belakang, masalah pada kelenjar tiroid, sampai kepada anemia.

Stirena ini juga dapat mengurangi produksi sel darah merah yang sangat dibutuhkan tubuh untuk mengangkut sari pati makanan dan oksigen ke seluruh tubuh sehingga muncul gejala disfungsi saraf seperti kelelahan, gelisah, dan sulit tidur. Stirena juga bisa bermigrasi ke janin melalui plasenta ibu yang sedang mengandung, dan berpotensi mengontaminasi ASI (air susu ibu).

Sementara zat benzena akan bereaksi dengan cepat begitu terkena uap panas dari makanan yang dimasukkan ke dalam styrofoam. Benzena yang masuk ke dalam tubuh akan menyasar jaringan darah. Benzena tidak dapat larut dalam air sehingga tidak dapat dikeluarkan melalui urin maupun feses, kemudian menumpuk pada lemak di dalam tubuh. Hal inilah yang dapat memicu munculnya penyakit kanker.

Bila ditinjau dari aspek lingkungan, styrofoam sangat berbahaya. Dengan penggunaan yang masif (karena harga murah tadi), styrofoam menimbulkan timbunan sampah. Secara alamiah, styrofoam baru bisa terurai dalam jangka waktu 500 tahun.

Sampah bekas styrofoam mencemari pantai (sumber: ecomaine.org)
Sampah bekas styrofoam mencemari pantai (sumber: ecomaine.org)
Styrofoam sebenarnya dapat didaur ulang namun proses daur ulangnya tetap saja melepaskan sekitar 57 senyawa-senyawa berbahaya di alam. Styrofoam bahkan dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.

Beberapa waktu lalu pernah diberitakan riset tentang rekayasa genetika terhadap cacing yang mampu pemakan plastik, dan juga riset tentang sampah kulit jeruk yang dapat mengurai secara alami senyawa styrofoam. Sayangnya semua inovasi tersebut terasa bagai angin lalu. Sampai sekarang belum ada penanganan khusus terhadap sampah styrofoam ini, dan pada akhirnya hanya metode sanitary landfill yang dipakai negara kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x