Mohon tunggu...
MK
MK Mohon Tunggu... Freelancer - Cahaya Bintang

Saat diri dapat katakan CUKUP di saat itu dengan mudah diri ini untuk BERBAGI kepada sesama:)

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Rumah Nol Emisi

19 Oktober 2021   12:54 Diperbarui: 19 Oktober 2021   12:56 37 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Masyarakat kita tanpa disadari memiliki warisan lisan berupa kata bujukan,"nanti bapak dan ibu petani menangis kalau tahu kamu makan tidak habis."

Mayoritas orang dewasa secara turun-menurun mengatakan hal serupa kepada anak kecil saat mogok atau malas habiskan makanan. Saya waktu kecil pun sering dibujuk orang tua untuk habiskan makanan dengan perkataan itu.

Ketika ditanya mengapa petani menangis, jawabannya, "karena mereka sedih kamu tidak menghargai jerih payah mereka." Jawaban itu ampuh menyemangati saya untuk berusaha keras menghabiskan makanan.

Kebiasaan itu membuat saya tumbuh dewasa menjadi manusia yang ambil makanan secukup mungkin dan habiskan hingga bersih serta tanggung jawab dengan sampah yang saya hasilkan dengan rutin memilah sampah organik dan non organik karena ketika dewasa baru saya sadar ternyata bila tidak menghabiskan makanan yang menangis bukan petani, peternak maupun nelayan. Melainkan, bumi yang menangis.

RUMAH NOL EMISI

Saat saya kecil hal yang paling mengkhawatirkan bagi orang tua adalah saya sulit makan. Sehingga sering membujuk saya makan dengan kalimat warisan lisan itu.

Tetapi, warisan lisan itu sebenarnya memiliki tujuan tersembunyi untuk mengajarkan anak secara tak langsung untuk menghargai jerih payah sesama manusia dan bumi yang telah memberi kehidupan.

Suhu yang semakin panas serta polusi udara, macet dan tumpukan sampah yang makin mengkhawatirkan di Jakarta dalam kurun waktu 20 tahun ini mengunggah hati saya sejak 15 tahun lalu untuk lebih menerapkan gaya hidup "Net Zero Emissions" di rumah.

Langkah pertama adalah menjual mobil lalu, semua anggota keluarga di rumah dipaksa mengunakan angkutan umum. Banyak sahabat, tetangga dan keluarga lain yang mencibir keputusan itu. Bagi mereka naik turun dan berdesak-desakan di angkutan umum berarti menurunkan derajat dan merupakan gaya hidup yang tidak berkelas.  

Tapi, saya memiliki keyakinan bila semua rumah tangga memiliki kendaraan pribadi hanya demi gaya hidup berkelas maka kelak saya dan keluarga sendiri yang menanggung akibat dari hidup demi gengsi itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gayahidup Selengkapnya
Lihat Gayahidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan