Mohon tunggu...
Kartika Kariono
Kartika Kariono Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Cuties": Beban Mental Remaja, Gegar Budaya, dan Pengakuan di Media Sosial

14 September 2020   15:37 Diperbarui: 15 September 2020   10:13 414 20 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Cuties": Beban Mental Remaja, Gegar Budaya, dan Pengakuan di Media Sosial
Tangkapan Layar Film Cuties (Sumber: Kompas.com)

Feminism dan mental health masih menjadi perhatian yang menarik untuk diangkat dalam sebuah karya seni, termasuk oleh sineas dunia. Film Cuties malah melampauinya, begitu padat isu sensitif yang diangkat dalam film ini.   

Meski disayangkan, film ini justru dikenal karena tagar #cancelnetflix karena indikasi eksploitasi seksual anak yang sangat berbanding terbalik dengan pesan moral yang diletakkan di film ini. 

Film produksi Perancis ini mengangkat isu anak perempuan Muslim dalam tekanan pengakuan aktualisasi diri baik di dunia nyata dan dunia maya, di tengah fase pra-puber. 

Penggambaran begitu kompleksnya beban mental yang harus diemban oleh anak pra remaja ini, menghadapi kenyataan persoalan domestik yang terkait dengan budaya asalnya, serta gegar budaya untuk akulturasi ditempat ia bertumbuh. Dalam satu frame besar yang dihadapi oleh seluruh anak baru gede (ABG) di seluruh dunia, yaitu pengakuan.

Film yang Menuai Kontroversi
Awalnya tidak terlalu tertarik menonton film ini meski pada Sundace Festival 2020, sang sutradara Mamouna Doucour, memenangkan penghargaan penyutradaraan dramatis.

Dalam sepekan ini tagar #cancelnetflix digaungkan untuk memboikot film ini karena disinyalir mengeksploitasi seksual anak. Rate film ini di netflix juga 18+ dengan adanya peringatan akan adanya nudity dan bahasa yang kasar. 

Di media sosial bahkan termasuk WAG, tersebar video dancing yang dapat dikatakan vulgar oleh tim dancer ABG. Dancing yang jadi kontroversi di film ini. Sempat bergejolak batin ini saat melihat adegannya membayangkan betapa puasnya pedophilia melihat adegan ini.  

Kepentingan saya menonton film ini  pada isu yang diangkat, terlebih film ini mengangkat kisah tentang pergolakan batin ABG perempuan berusia sebelas tahun. Masa transisi dari anak-anak ke remaja menjelang baligh. Usia yang hampir sama dengan putra semata wayang saya.

Untuk penggemar film yang anti-spoiler ada baiknya untuk melewatkan dulu tulisan ini sebelum menonton (jika ada niat untuk menontonnya). 

Ide ceritanya luar biasa, isunya yang diangkat seringkali luput dari perhatian khalayak. Meski mungkin tujuannya totalitas, tetapi mengekploitasi tubuh para ABG itu jelas sangat mengganggu saya.

Pesan utama dalam film ini adalah kerentanan jiwa masa awal pubertas. Saat anak masih lugu tetapi serangan media sosial demi pengakuan dan eksistensi dapat sangat kebablasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x