Mohon tunggu...
Kartika Kariono
Kartika Kariono Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Kado Romantis dari Abah

8 Juni 2018   19:37 Diperbarui: 9 Juni 2018   02:35 0 2 2 Mohon Tunggu...

Entahlah apakah saya yang terlalu keras kepala atau kisah hubungan mertua vs menantu yang membuat saya tidak langsung dekat dengan mertua saya ketika awal-awal pernikahan saya. Saya lebih memilih kedatangan ke rumah mertua saya seolah "gugur kewajiban". Bukan saya tidak mengobrol, saya tipe pengobrol kok dimana saja. Tetapi saya merasa saya cukup jaim jika di rumah mertua.

Saya yang biasa ceplas-ceplos jika  bicara, akan mengerem jika di rumah mertua. Jadi buat kalian, kakak adik yang biasa saya usilin  dengan "katoan" hanya di rumah mertua saya kalian akan aman dari "katoan" saya. Agak sempat terjadi gegar budaya membiasakan diri kebiasaan keluarga yang berbeda. 

Salah satunya, tradisi lebaran yang sangat jauh berbeda adalah sungkeman, tradisi yang sama sekali tidak dikenal di rumah saya. Kalo lebaran di rumah kami salim (salaman dengan cium tangan yang lebih tua), mohon maaf, minta cium ke ortu. Cukup begitu saja. Tidak ada momen khusus, begitu pun dengan saudara-saudara saya. Gantian saja bahkan sambil makan.

Berbeda di rumah mertua yang memiliki tradisi sungkeman. Saya jadi ingat pertama kali sungkeman, bingung juga.  Ini kebiasaan baik dan penuh hikmah, saya saja yang merasa tidak terbiasa. Saat sungkeman  Abah dapat memberi nasehat kepada 9 putra putrinya plus menantu dan cucunya.
Abah tipe Ayah karismatik, pendiam dan jarang bicara sehingga jika berkata-kata selalu bernas.

Jauh beda karakternya dengan Bapak saya yang cuek, ekspresif , sedikit temparemen, tetapi dapat menjadi best buddy buat siapa saja, dari usia balita hingga usia senja. Hubungan saya dengan Ayah saya lebih condong ke hubungan antara 2 sahabat. Seringkali kami berdebat untuk hal sepele. Saya tidak bingung mencari tempat curhat, dia pendengar yang baik tanpa pernah menyalakan.

Kadang saya berfikir ini adalah hal gila, hal konyol pun saya ceritakan dengan Bapak, bahkan dosa-dosa pun saya ceritakan ke beliau yang dia sahut "jangan bilang Mamakmu, bisa jantungan dia"katanya sambil terkekeh. Ya...kami bisa bercerita saat kami "kencan", makan di luar berdua. Tidak perlu mewah, lebih sering di kaki lima.

Mungkin saya yang gagal mengamati kebiasaan di keluarga saya dari pihak suami, saya tidak merasakan hubungan persekawanan, sangat menjaga kesantunan dengan orang tua. Tentu kondisi demikian membuat saya tahu diri, saya jaga sikap saya, tentunya akan berbeda dibanding sikap saya dengan Mamak dan Bapak saya di rumah yang sering tanpa tedeng aleng-aleng, yang mungkin akan terbaca sebagai kekurangajaran bagi orang lain. Saya jadi lebih banyak ngobrol seperlunya.

Hingga di suatu hari raya, memang bukan hari pertama lagi entah hari keberapa, saya tengah bermain dengan anak kami yang saat itu baru berusia setahun setengah . "Abah mau ngomong"katanya dengan suara lirih dan terbata.  Abah agak ada gangguan di pernafasan, sehingga saat berbicara selalu tersengal. Saya biasa mendengar suara keras, jadi agak perlu konsentrasi jika ada yang bicara lirih dengan saya.

"Abah cuma mau ngomong, kata Bapakmu kamu itu keras kepala, jeblang-jeblung"kata Abah. "Maaf Abah, kalo saya kebablasan
 Ada perilakuku yang kurang santun?"tanyaku dengan berdebar. "Tidak, abah yang salah. Abah lupa kamu anak gadis kebanggaan Bapakmu"sahutnya berhenti sebentar. "Untuk itu Abah minta maaf"aku meliriknya ada bulir air mata menetes dari matanya.

"Maafin Abah tidak akan pernah mampu menandingi sayangnya Bapakmu" sambungnya kali ini dengan suara lebih parau. Aku hanya diam, tak bereaksi. "Tapi aku punya permintaan yang sama dengan Bapakmu, jangan tangisi aku kalo aku pergi"sambungnya kali ini dengan air mata mengalir.

Tuhan..kebodohan apa yang kulakukan hari itu. Aku tidak menyadari pembelajaran penting soal kebesaran jiwa seorang mertua meminta maaf pada menantunya yang jelas sama sekali bukan sosok menantu idaman, dan pura-pura tidak menyadari ia kalimat romantis seorang Bapak menyatakan cintanya dengan tulus.

Syukurlah Maha Kasih memberi saya anugerah mengingat kejadian ini sedetail-detailnya. Ah... bahkan saya meragukan bahwa putri-putrinya (dan menantu perempuan lainnya) pernah mendapat kalimat cinta setulus ini dari beliau. Kado mana yang lebih megah dari mendapat kepastian bahwa saya dicintai dua ayah saya? Meski di lebaran tahun ini, saya hanya dapat mengucapkan maaf di pusara mereka berdua.