karmel sianturi
karmel sianturi

Pecinta Kemanusiaan dan Keutuhan Ciptaan,

Selanjutnya

Tutup

Regional

Memilih Calon Gubsu Peduli Danau Toba

14 Januari 2018   09:18 Diperbarui: 14 Januari 2018   09:31 171 0 0

Oleh: Karmel Simatupang. 

Danau Toba adalah ciri khas sekaligus urat nadi kehidupan masyarakat Sumatera Utara. Karenanya, pemimpin Sumut sebenarnya sangat berkepentingan terhadap danau ini. Namun, sampai periode kepemimpinan terkini, citra dan persoalan pencemaran lingkungan Kawasan Danau Toba cenderung makin terpuruk. Seiring dengan kacaunya Gubernur Sumut dua periode terakhir, masyarakat yang hidup disekitarnya pun jauh dari kata sejahtera.

Momemtum pemilihan Gubernur Sumut (Pilgubsu), Maret 2013 inilah saatnya mencari dan memilih pemimpin, pro lingkungan Danau Toba, pro kesejahteraan, memiliki dedikasi serta punya track recordyang bukan perampok.  

Dalam sebuah diskusi kecil beberapa waktu lalu, seorang teman advokat mengingatkan, Kawasan Danau Toba tidak akan pernah maju, jika tidak ada kebijakan untuk memajukan. 

Demikian dengan masifnya kerusakan lingkungan Danau Toba, tak bisa dipisahkan dari ketiadaan kebijakan yang jelas serta pembiaran Pemerintah Daerah sekawasan Danau Toba, Pemerintah pusat dan juga provinsi.

Artiannya, masa depan Danau Toba sangat ditentukan Gubsu terpilih periode 2013-2018 mendatang. Kerusakan sistematis lingkungan Danau Toba baik fisik maupun psikisnya sudah terlalu lama terabaikan. Publik dan seluruh umat di segala penjuru yang tahu pencemaran danau ini sebenarnya sudah sangat cemas dan menanti-nantikan datangnya pemimpin pelindung danau vulkano-tektonik terbesar di dunia ini.

Ketika Komisi VII DPR RI berkunjung ke Danau Toba dalam rangka Panitia Kerja (Panja) 15 Danau Prioritas di Indonesia, (Parapat, 24-26/9) lalu, korporasi Aquafarm Nusantara, mempresentasikan aktivitasnya di Danau Toba tidak mencemari, penulis menyaksikan dalam slide nya, ada seorang calon Gubernur yang justru kerja sama mendukung usaha peternakan Keramba Jaring Apung (KJA) Aquafarm berekspansi di Danau Toba.

Padahal, selama ini publik sudah mahfum, bahwa aktivitas KJA Aquafarm jelas penyumbang terbesar pencemaran ke Danau Toba sejak 14 tahun silam. Selain mencemari karena pakannya sekitar 200 ton per hari mengandung zat kimia itu, KJA Aquafarm juga telah merusak estetika dan kesakralan danau ini. 

Tujuan kunjungan DPR RI ke Danau Toba adalah atas dasar kepedulian publik, karena Danau Toba saat ini menjadi prioritas pertama dilindungi Negara.

Kunjungan Komisi VII DPR pimpinan Sutan Bathoegana ini tetaplah sia-sia, bila hingga kini tidak ada solusi implikatif serta tegas terhadap perusahaan yang terindikasi kuat mencemari Danau Toba. Sebutlah PT. Aquafarm dengan KJA nya, PT. Allegrindo Nusantara dengan limbah kotoran ternak Babinya yang membuang langsung ke Danau Toba. PT. Allegrindo adalah perusahaan peternakan Babi terbesar di Sumatera.

Cagubsu yang berpotensi melanggengkan segala bentuk pencemaran ke Danau Toba adalah ancaman serius bagi umat manusia. Bukan hanya melanggar UU Nomor 32 tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kawasan Danau Toba adalah situs warisan dunia yang harus di konservasi.

Hampir semua mata air di Sumut bersumber dari rekahan batu Danau Toba, sebab danau ini berada di puncak. Jika dianalogikan seperti filsafat Bangsa Batak terhadap air, Aek do Hangoluan (Air adalah Kehidupan), tak bisa dibayangkan, hidup masyarakat Sumut  akan seperti apa, bila Danau Toba hilang atau berbahaya seluruhnya. Itu makanya keberadaan Danau Toba sesungguhnya sangatlah vital. 

PLTA Asahan serta PT. Inalum jelas sangat bergantung terhadap kelestarian Danau Toba. Inalum tak bisa beroperasi selama hampir 30 tahun ini, bila tenaga air Danau Toba tidak menggerakkan turbin-turbin pemutar pembangkit tenaga listriknya. Sumut juga pasti akan gelap bila PLTA Asahan tak dapat lagi beroperasi karena air Danau Toba mengering.

Lalu kenapa, pemimpin-pemimpin Sumut hingga sekarang masih belum serius melindungi Danau Toba? Secara keindahan panorama wisata, Bali sebenarnya masih kalah. 

Hanya saja pamor Bali begitu tinggi, itu karena pemimpin-pemimpinnya peduli. Jika saja sejak sekarang para pemimpin dan perantau Sumut yang dikomandoi sang Gubernur benar-benar mengelola Danau Toba, danau ini tidak mustahil akan menjadi kunjungan wajib bagi seluruh manusia. Dan Sumut akan dihidupi dengan wisatawan yang melimpah.

Di Media Sosial, seperti facebook dan twitter, atensi publik terhadap Danau Toba sangat tinggi, apalagi jika postingan terkait pencemaran. Tak hanya facebookeratau followerdari dalam negeri, tapi juga dari seluruh penjuru bumi. Media sosial menjadi begitu efektif campaignperlindungan Danau Toba, dari semua umur, suku dan golongan. Artiannya, masyarakat internasional sesungguhnya sangat merindukan Danau Toba pulih.

Danau Toba adalah anugerah bagi dunia, yang kebetulan berada di Sumut, Indonesia. Sejarah geologi proses pembentukannya melalui meletusnya Gunung Toba supervolkano 74.000 tahun lampau, sesungguhnya terkuat paling tidak 2 juta tahun terakhir. Luar biasa dahsatnya. Siapapun takjub dan kagum padanya.

Sejauh ini, para Kandidit Sumut I, masih sepi membicarakan tentang Danau Toba. Kecuali, pada saat perayaan ulang tahun Harian Medan Bisnis, bulan Juli lalu, seorang kandidat Cagubsu, Gus Irawan Pasaribu mengatakan, "Dimananya Danau Toba, Indonesia?."

Pidato Gus saat itu, sangat berbeda dari semua balon Calon Gubsu yang diundang Harian Medan Bisnis dalam perayaan ulang tahunnya ke-11. Gus mengadobsi pernyataan, "Dimananya Bali, Indonesia?." 

Gus dengan pasangan Soekirman saat ini menjadi Calon Gubernur Sumut resmi mendaftar ke KPU Sumut. Dalam pidatonya dia memberi perhatian khusus untuk pengembangan Kawasan Danau Toba layak diperhitungkan.

Sedang Cagub yang lain seperti, Effendi Simbolon-Jumiran Abdi, Amri Tambunan-RE Nainggolan, Chairuman Harahap-Fadli Nurzal, serta sang petahana Gatot Pudjo Nugroho-HT Erry Nuradi, sejauh ini belum punya agenda masa depan Danau Toba. 

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengkampanyekan salah satu Cagub diatas, bukan pula supaya Danau Toba masuk agenda kampanye terselubung calon, tetapi disinilah publik mesti extra hati-hati, memilih calon yang sesungguhnya berjuang untuk Danau Toba demi kesejahteraan masyarakat Sumut.

Masa Depan Danau Toba

Danau Toba adalah cadangan air tawar terbesar, setidaknya di Asia Tenggara. Kurun waktu 5-15 tahun mendatang air tawar adalah rebutan internasional karena semakin langka nya. 

Demikian pun pariwisata. Malaysia 10 tahun terakhir, menjadi tujuan utama pariwisata di Asia Tenggara. Indonesia hanya nomor 4, tertinggal dibanding Thailand dan Singapura. Setahun saja Malasya dikunjungi 24 juta wisatawan, sementara Indonesia hanya 7 juta orang, itupun kesulitan.

Posisi strategis Sumut dengan kekayaan alam dan sumber daya manusianya, sebenarnya sangat berpotensi setidaknya menyamai Malasya. Sebutlah potensi Danau Toba. Unik dan melegenda, hanya saja salah kelola. Belum lagi eksisting budaya serta kearifan lokalnya yang beragam. Sumut butuh pemimpin ahli manajemen yang berkeadilan, berkomitmen dan bergairah.

Hancurnya Negara bangsa (Kenichi Ohmae:2002) dalam era otonomi dan zaman modern kontemporer memungkinkan bangkitnya ekonomi kawasan ataupun regional tak terbatas.  Dan posisi Gubernur disini sangat menentukan. Sumut yang kaya raya, sudah saatnya ekuivalen dengan kehidupan riil warganya.

Akhirnya, mengutip semboyan Bangsa Belanda yang popular hingga saat ini, setiap kali membicarakan tentang Indonesia, berbunyi; "Ga niet sterven voor dat je het Toba meer heb gezien," (Jangan mati sebelum injak Danau Toba walau sekali sajapun). Pilgubsu 2013-2018, menjadi ajang pertarungan masa depan Danau Toba internasional, orang-orang merindukannya, kiranya sang arsitek Danau Toba, menduduki kursi Sumut I. Semoga. *** 

Penulis Bergiat di Perhimpunan Jendela Toba (Toba Window), Sumut.

*Terbit di Harian Analisa, 30 November, 2012