Mohon tunggu...
Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Mohon Tunggu... Membaca dan menulis sebagai satu kecintaan

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Anda Termasuk Penulis "Terjun Bebas" atau Penulis Terstruktur?

15 September 2019   11:07 Diperbarui: 15 September 2019   21:56 0 47 28 Mohon Tunggu...
Anda Termasuk Penulis "Terjun Bebas" atau Penulis Terstruktur?
pixabay.com

Artikel ini memang khusus diperuntukkan untuk (yang merasa ingin jadi) penulis pemula (seperti saya).

Sepertinya tidak berlaku untuk penulis yang sudah memiliki jam terbang tinggi,  apalagi penulis profesional, bahkan penulis pemula tetapi memiliki anugerah yang alami dalam menulis.

Ide dari artikel ini berasal dari keresahan (melulu) setelah membaca buku yang berisi kiat dalam menulis.

Saya jadi berkesimpulan untuk penulis pemula yang ingin menjejakkan kepenulisannya dalam membangun personal branding ternyata bisa terbagi menjadi dua golongan. Golongan (terjun) bebas dan golongan terstruktur.

Saya menyempitkan batasan penulis yang membagikan tulisannya di Kompasiana rumah bagi beragam Kompasianer dengan cakupan kemampuan dan tingkat menulis yang luas.


1. Golongan (terjun) bebas.

pixabay.com
pixabay.com

Sebetulnya lebih tepat dikatakan golongan terjun bebas dibanding golongan bebas.

Golongan terjun bebas -seperti saya- adalah golongan yang (merasa) ingin jadi penulis akibat dari keriuhan yang ada di kepala akibat membaca lalu ingin dituangkan dengan cara menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri.

Tidak ada pondasi yang mendasari saat menulis seperti bagaimana proses menulis dilakukan. Bahkan kaidah kepenulisan saja tidak mengerti. Yang dilakukan hanya menulis yang ada di kepala, tayangkan, lalu menunggu nasib dari tulisan atau artikel akan berlabuh ke mana.

Akankah jadi tulisan percuma yang berlalu, tertumpuk oleh tulisan Kompasiner lain, sepi pembaca, rate, maupun interaksi sesama Kompasianer.

Kalau beruntung artikel bisa menjadi pilihan editor, lalu diapresiasi Kompasianer bahkan pembaca luar hingga tercatat views puluhan ribu bahkan ratusan ribu (saya belum sampai seberuntung itu).

Mendapat sematan terpopuler bahkan nilai tertinggi dan yang paling menyenangkan nangkring di artikel utama atau Headline.

Atau malah artikelnya ditengok pihak yang mengajukan kerjasama agar membuat artikel untuk produk mereka dengan bayaran tertentu pasti sangat menyenangkan dan membanggakan bagi penulis terjun bebas seperti saya (saya juga belum pernah mengalaminya, hehehe).

Apalagi kalau artikelnya mengantarkan hingga ada pihak penerbit mayor menawarkan untuk membukukan sebuah bahasan tertentu dengan kita sebagai penulis tunggalnya (ini juga masih sebagai angan yang tergantung cukup tinggi untuk saat ini).

Lalu adakah penulis pemula yang tergolong penulis terjun bebas bisa seberuntung dengan mendapatkan pencapaian tertinggi bagi seorang penulis ? (Terserah pencapaian tertingginya bisa apa saja karena tiap orang seringkali berbeda, buat saya pencapaian tertinggi saya adalah memiliki karya abadi yang menjadi ilmu yang bermanfaat) Jawabannya pasti ada.

Penulis pemula yang memang diberi anugerah secara alami oleh Yang Maha Segala keterampilan dalam menulis juga kesempatan dan jalan hidupnya menjadi seorang penulis.

Tetapi kalau seperti saya maka akan banyak hal yang harus dibangun dan dipersiapkan jika ingin sampai ke levelan penulis profesional dan mumpuni yang memiliki karya abadi.

Ada kutipan yang suka saya ingat kalau sedang dihinggapi merasa sia-sia karena tulisan saya belum membawa kemana-mana, begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan sama sekali.

A profesional writer is an amateur who didn't quit. (Richard Bach)

2. Golongan terstruktur.

pixabay.com
pixabay.com

Ini golongan penulis yang kalau buat saya sangat niat untuk menjadi penulis. Bagi seorang penulis yang tergolong penulis terstruktur sebelum menulis persiapan dan pondasi kepenulisan sudah dilakukan.

Belajar bagaimana menjadi penulis yang baik bahkan mengikuti berbagai macam pelatihan untuk membuat pondasi kepenulisannya kokoh.

Tulisan yang dibuat rapi, idenya kreatif dan cemerlang, judul membuat pembacanya tertarik hingga memutuskan membaca, bahasan jelas, konflik dan penyelesaian konflik yang cantik, penutup menyelesaikan bahasan dengan memuaskan.

Pola menulisnya jelas, arahannya tepat, tulisan yang dihasilkan berisi dan berilmu.

Memang tipe penulis terstruktur ini perlu waktu untuk membangun cara menulis yang mumpuni. Tetapi saat sudah terbentuk pondasi yang kokoh maka pola menulisnya pun akan mengalir dengan menghasilkan tulisan bergizi dan bermutu.

Tidak seperti penulis (terjun) bebas yang bisa menulis kapan saja tidak harus menunggu bisa menyusun sebuah tulisan yang rapi dan baik.

Lalu apakah penulis (terjun) bebas lebih susah berhasil cenderung gagal karena tulisannya berantakan sedangkan penulis terstruktur lebih berhasil karena pondasi kepenulisannya kokoh?

Buat saya jawaban belum tentu. Jika penulis (terjun) bebas mau untuk belajar memperbaiki kekurangannya, selalu menambah pengetahuan, rajin membaca dan menulis maka bukan hal yang tidak mungkin penulis (terjun) bebas pun akan menjadi penulis berhasil, mumpuni, dan profesional bahkan bisa jadi mengalahkan penulis terstruktur sekalipun.

Begitupun dengan penulis terstruktur belum tentu jadi penulis hebat walau sudah matang ilmu kepenulisan, pondasi yang kokoh dalam membangun tulisan kalau hanya sebatas ilmu saja tidak memulai untuk menulis, menulis, menulis.

Jadi memang yang ideal itu bagi seorang penulis baik yang tergolong penulis (terjun) bebas maupun penulis terstruktur adalah belajar, membaca, memperbaiki kekurangan, menulis, menayangkan. Selanjutnya biar saja tulisan akan menemukan takdirnya.

Kalau ada yang bertanya saya termasuk penulis yang mana? Jawabannya -semoga bukan cuma omong kosong lalu membuat banyak alasan karena gagal mewujudkan- adalah penulis (terjun) bebas yang berusaha keras agar lebih baik hingga bisa jadi penulis profesional yang mumpuni yang memiliki karya abadi dan tulisannya menjadi ilmu yang bermanfaat. Cieeeee....gayanya...hehehe.

Salam hormat dan takzim untuk Kompasianer semua.


Karla Wulaniyati untuk Kompasiana
Karawang, Ahad 15 September. 2019