Mohon tunggu...
Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Mohon Tunggu... Membaca dan menulis sebagai satu kecintaan

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis dengan Jujur dan Tulus

17 Agustus 2019   09:32 Diperbarui: 17 Agustus 2019   09:36 0 10 5 Mohon Tunggu...
Menulis dengan Jujur dan Tulus
pixabay.com

Beberapa minggu kemarin saya tidak menulis apalagi menayangkan artikel dimanapun. Alasannya adalah --- sebenarnya saya tidak suka pada alasan kerena buat saya alasan menunjukkan ketidakmampuan mengatur diri --- mempersiapkan terutama yang berhubungan dengan kurikulum karena masuk tahun ajaran baru.

Termasuk di Kompasiana saya jarang menulis yang biasanya menulis (hampir setiap hari). Saya hanya menulis beberapa artikel ringan itupun dengan jarak hari yang cukup lama.

Lalu kemarin saat "jalan-jalan" di Kompasiana saat di Topik Pilihan saya melihat-lihat artikel yang ditayangkan Kompasianer. Saya melihat ada artikel yang dibaca sampai 14 ribuan. 

Saya penasaran bagaimana artikel bisa dibaca sebanyak itu. Memang artikelnya dibuat oleh senior (berdasarkan keberadaan di Kompasiana) jadi tidak heran artikelnya "berisi".

Gara-gara itu saya berkeliling mencari artikel tentang "great writer" karena buat saya keutuhan tulisan seperti pemilihan judul, bahasan, data, keunikan, rasa penasaran dan gizi dari isi artikelnya pasti sudah dicapai sehingga saat disajikan sampai bisa dibaca 14 ribuan dan penulisnya menurut saya sudah masuk ke dalam great writer yang mumpuni.

Setelah itu saya jadi bertanya apakah seseorang yang sudah menjadi penulis hebat dan mumpuni tidak memiliki kekurangan, saat menulis selalu selaras dalam konsep dan ide tulisan, kaidah kepenulisan tidak ditabrak, dan hal lain  berkaitan dengan kepenulisan sehingga memiliki karya yang gemilang.

Saya jadi ingat buku yang belum selesai dibaca. Buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail yang judulnya diterjemahkan menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Ditulis oleh Mark Manson. 

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Buat saya buku ini out of the box. Memberikan konsep bagaimana menghadapi dan menjalani kehidupan yang baik dari sudut pandang yang tidak biasa yang sering diabaikan bahkan disangkal oleh orang kebanyakan.

Bab 1 yang diberi judul Jangan Berusaha diceritakan tentang Charles Bukowski seseorang yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Sebelumnya Bukowski adalah seorang pecundang. 

Hampir di seluruh waktunya berada dalam bayang-bayang alkohol, narkoba, judi, dan pelacuran. Hingga satu waktu kesempatan berpaling mendekati  Bukowski yang kemudian berubah menjadi seorang penulis novel dan puisi yang sukses.

Cara yang dilakukan Bukowski tidak seperti keumuman. Keberhasilan Bukowski bukan hasil kegigihannya untuk menjadi pemenang, namun dari kenyataan bahwa ia tahu kalau dirinya pecundang, menerimanya, dannkemudian menulis secara jujur tentangnya. Ia tidak pernah memcoba untuk menjadi selain dirinya.

Kecerdasan dalam tulisan Bukowski bukan soal memanfaatkan peluang luar biasa atau mengembangkan dirinya menjadi sastrawan yang gemilang tetapi kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya bahkan untuk hal yang buruk yang ada pada diri.
(Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Mark Manson)

Tahapan kepenulisan saya yang masih begini-begini saja mencapai tingkat pemahaman bahwa senjata menjadi penulis diantaranya jujur dan tulus dalam menulis tidak usah terlalu memikirkan hasil gemilang jika ternyata tulisan mendapatkan apresiasi luar biasa seperti dibaca oleh 14 ribuan orang biarlah menjadi bonus. Tentunya bonus yang menyenangkan dan membanggakan.

Selamat Hari Kemerdekaan ke-74 Kompasinaer semua. Semoga Kemerdekaan Indonesia ini memberikan ruh jujur dan tulus dalam membangun bangsa yang kaya dan besar ini.


Karla Wulaniyati untuk Kompasiana
Karawang, Sabtu 17 Agustus 2019