Mohon tunggu...
Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Mohon Tunggu... Membaca dan menulis sebagai satu kecintaan

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Seperti Membaca, Menulis Pun Sebuah Perjalanan

23 Maret 2019   09:30 Diperbarui: 23 Maret 2019   10:08 0 14 10 Mohon Tunggu...
Seperti Membaca, Menulis Pun Sebuah Perjalanan
pixabay.com

Saat ini saya sedang membaca buku Aleph karya Paulo Coelho. Mengunyahnya saya awet-awet, tidak langsung saya habiskan. Saya nikmati tiap suapan lembar halaman sedikit-sedikit karena seperti makanan rasa lezat sebuah makanan hanya terasa saat di lidah karena kalau sudah sampai tenggorokan selezat apapun rasanya akan berlalu dan sama saja.

Saat membaca saya seringkali seperti melakukan perjalanan, kemanapun dan sajauh buku bisa membawa saya tanpa harus melangkahkan kaki. Buku bisa menjadi kendaraan yang dapat ditunggangi ke tempat yang menjadi perjalanan juga persinggahan.


Books are the plane, and the train, and the road. They are destination, and the journey. They are home. (Anna Quindlen)

Selain membaca buku Paulo Coelho saya juga follow Instagramnya. Foto yang disajikan banyak berisi kegiatan yang dilakukan juga tidak ketinggalan foto alam, kota, tempat yang sengaja diabadikan saat kegiatan yang sering dilakukannya yaitu daily walk.

Saya amati kebiasaan Paulo Coelho yang senang berpetualang sedari muda sampai sekarang melakukan daily walk banyak dituangkan dibanyak buku yang ditulisnya termasuk di buku Aleph yang sedang saya baca. Pelajaran dan kearifan yang ditemui sepanjang perjalanan Paulo Coelho memenuhi goresan karyanya.

Saya lalu berpikir dan mengaitkan dengan proses kepenulisan. Bahwa tidak hanya membaca -- membaca yang ada bentuk fisik (buku, majalah, dsb) maupun bentuk digital -- ternyata menulispun seperti sebuah perjalanan. Mengantarkan dari satu persinggahan ke persinggahan yang lain, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu tingkatan ke tingkatan lain.

Saat ini persinggahan saya masih dalam posisi keberanian dan tekad dalam menulis. Kata keberanian dan tekad ini saya dapatkan juga dari buku Alephnya Paulo Coelho.

"Keberanian dapat menarik rasa takut dan kekaguman berlebihan.

Tekad menuntut kesabaran dan komitmen."
(Aleph, Paulo Coelho)

Masih banyak yang harus saya asah dalam kegiatan menulis setidaknya keberanian dan tekad.

Tingkat keberanian saya seringkali laksana berada di dasar sumur yang dalam. Kebanyakan keberanian saya terpendam karena rasa takut yang dipicu dari seringnya membuat artikel buruk yang juga berarti artikel yang gagal.

Tidak berbeda dengan keberanian, tekad pun menjadi tempat yang agak lama saya singgahi. Kesabaran dan komitmen yang menjadi pembangun tekad adalah kelemahan yang harus ditata dengan baik.

Kesabaran untuk membuat artikel yang utuh seringkali saya tinggalkan terbukti dengan banyaknya artikel yang tidak tuntas dan tersimpan di file dokumen saja.

Komitmen dalam menulis pun masih ditabrak baik tentang komitmen dalam menerapkan kaidah kepenulisan juga komitmen untuk selalu menulis dan menayangkan artkel.

Bahkan komitmen untuk yakin bahwa menulis akan selalu dilakukan selama hayat dikandung badan sampai diijinkan memiliki karya abadi yang menjadi ilmu bermanfaat yang nantinya jadi perpanjangan amal jika jasad tidak lagi ada di dunia masih sering goyah. Sering merasa percuma dan tidak akan sampai ke tempat tujuan.

Kesadaran untuk terus melakukan perjalanan menulis harus selalu dikuatkan, jika kesadaran akan keberanian dan tekad sudah lekat dalam jejak kepenulisan maka perjalanan selanjutnya harus dilakukan walau belum tahu akan membawa ke persinggahan apa.

Mudah-mudahan tidak terlalu lama singgahnya di keberanian dan tekad agar perjalanan menulisnya bisa langsung melaju lagi dan mendapat rejeki mengalami memiliki karya yang abadi.


Karla Wulaniyati untuk Kompasiana
Karawang, Sabtu 23 Maret 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x